Pete - Pete
by
Riara
- Maret 14, 2014
This is about PETE-PETE alias angkot. Pete-pete adalah nama lain dari uang koin dalam bahasa bugis-makassar. Entah kenapa angkutan umum satu ini disebut pete-pete oleh warga Makassar. Mungkin karena dulu.... mungkin ya, mungkin! Mungkin karena dulu yang biasa dipakai untuk membayar ongkos adalah uang koin. Karena itu, makanya diberi nama pete-pete. Meskipun sekarang sudah jarang yang menggunakan uang koin [karena ongkos pete-pete sekarang sudah Rp 4000,-] tapi karena sudah sejak dulu dan terus seperti itu turun temurun akhirnya hingga sekarang pete-pete tetaplah pete-pete. Haha... sepertinya hal ini perlu di cari tahu :D
Pete-pete di Makassar setahu saya hanya ada 2 warna. Merah dan biru. Saya jarang menggunakan yang warna merah. Pete-pete merah saya gunakan ketika akan ke Jl. Jendral Sudirman, katanya ini pete-pete yang dugunakan kalau ingin ke Takalar. Sedangkan yang warna biru adalah yang paling sering saya gunakan. Karena di dalam kampus (UNHAS), pete-pete yang mengitarinya saja ada empat, dengan kode 02, 05, 07, dan 08 dengan tujuan yang berbeda. Ditambah lagi yang lewat di depan kampus, ada tujuan BTP, Daya, dan Sudiang. What ever! Yang ingin saya bagi hari ini adalah susah dan senangnya kita (sebagai penumpang) naik pete-pete.
Ada beberapa hal yang sering kita alami ketika naik pete-pete. Beberapa hal itu bisa memicu emosi dan senyum kita.
1. Berhenti terlalu lama
Cemas, khawatir, dan kegerahan karena pete-pete yang kita tumpangi berhenti terlalu lama. Pak supir menunggu penumpangnya penuh. Sementara kita sudah terlambat [ini sebenarnya slah kita, sudah tahu kebiasaan pete-pete begitu, masihsaja berani terlambat]. Jadi jika buru-buru sebaiknya jangan menaiki pete-pete yang penumpangnya masih sedikit.
2. Nun jauh di sana
Yang ini masih berhubungan dengan hal pertama, meskipun tidak buru-buru, kita akan merasa jengkel jika pete-pete berhenti di depan sebuah lorong. Lorong itu panjang dan nun jauh di sana ada SEORANG cewek yang berjalan, pelan, slow, lambat, persis seperti keong, dan PAK SUPIR MENUNGGUNYA!!!! Giliran sudah dekat sekali, si cewek baru menggeleng, dadah dadah atau mengatakan "tidak jih" dengan muka jelek. Ya Tuhan, sungguh menjengkelkan! Kenapa bukan dari tadi? >.<
3. Tidak ada uang kecil
Ini yang paling sering terjadi, terutama di pagi hari. Penumpang yang masa bodoh mengeluarkan uang lima Rp 50.000,- dan menunggu kembalian Rp 46.000,-. Supir pete-pete pasti kebingungan, mau dikembalikan dengan apa uang penumpang ini? Ujung-ujungnya, si supir mengalah dan menjalankan pete-pete'nya. Nah, kalau ini tergantung supir lagi. Kalau dia memang ikhlas dia tidak akan membahasnya lagi, tapi kalau tidak ikhlas maka dia akan mempercepat laju pete-pete sambil 'mengamuk'
4. Dimana?
Hal lain yang membuat jengkel adalah ada penumpang yang tidak tahu harus turun dimana, karena dia tidak tahu mau ke mana. Dia naik pete-pete karena di suruh 'si anu', katanya 'begini begitu'.... Masih ada saja orang yang seperti ini. Ya tanya dulu dong sampai lengkap, sampai mengerti, baru bisa jalan. Kasian supir pete-pete juga yang kebingungan mau diturunkan di mana, kasian penumpang lain juga yang waktunya tersita untuk menunggu keputusan supir pete-pete.
5. Ini belum sampai tujuan!
Di Makassar, banyak supir pete-pete yang suka seenaknya. Ketika dia memberhentikan pete-pete di depan penumpang, si penumpang bertanya "Sudiang?", pak supir pun mengangguk, biasanya juga ada yang menyahut penuh semangat "Iye', naik meki". Setelah tiba di lampu merah Daya, ada penumpang lain yang ingin ke Sentral (berlawanan arah dengan Sudiang) dan di iyakan juga. Nah, penumpang sebelumnya diturunkan di tempat lain (yang bukan tujuannya) dan disuruh menyetop pete-pete lain. Memang tidak diminta membayar, tapi ini pekerjaan dua kali! Itu gunanya tadi si penumpang bertanya sebelum naik. Ini tipe supir pete-pete yang kurang ajar, pembohong dan PHP.
6. Serasa milik sendiri
Cukup dua orang! Serius, cukup 2 orang cewek yang menjadi penumpang. Mereka akan bercerita apa saja dengan suara besar tidak peduli dengan orang disekitarnya. Apalagi kalau itu anak sekolah. Pete-pete serasa milik sendiri. Beruntun kalau mereka menceritakan hal yang lucu, akan jadi hiburan tersendiri bagi penumpang lain. Tapi jika tidak? Saya sering mendapatkan penumpang yang mengatakan sumpah serapah di dalam pete-pete, dalam bahasa Makassar pula! Saya tidak tahu artinya, tapi saya tahu itu adalah kata-kata kasar dan makian. Sangat tidak pantas diucapkan.
7. Geser sedikit
Penumpang yang paling menjengkelkan adalah yang berkata "Geser sedikit, dekat ja' saya" dan mengambil tempat di dekat pintu. Satu per satu penumpang turun, dan ternyata dia yang turun paling belakang. It soooo...... eugh!!!!
8. Terima kasih nak
Ini yang membuat hati adem. Pak supir yang berterima kasih dengan senyum di bibirnya. Rasanya seletih apapun kita setelah perjalanan jauh dan penuh sesak dalam pete-pete, ketika turun dan membayar ongkos, "Terima kasih nak" kata supir pete-pete. Saya selalu mendoakan mereka yang seperti itu. Seharusnya kita yang berterima kasih karen asudah diantar ke tempat tujuan denganselamat, justru dia yang berterima kasih.
9. Segitu saja
Pernah juga ada supir pete-pete yang penyabar. Saat itu, ongkos pete-pete masih Rp 3000,-. Uang saya tinggal Rp 5000,- dan pak supir ternyata tidak punya uang Rp 2000,- untuk kembalian. Dia tidak ingin menerima semuanya, saya juga tidak mau kalau tidak membayar. Jadi saya mencari di dalam dompet, hanya ada Rp 2.500,- dan hanya uang koin. Saya mengatakan dengan memelas, "cuma dua ribu lima ratus Pak", Pak supir dengan senyum menjawab, "Segitu saja dek"...
Sebenarnya masih banyak kejadian yang biasa terjadi dengan pete-pete yang kita tumpangi, tapi hanya segini yang bisa saya share untuk hari ini. Senang tidaknya naik pete-pete, sebenarnya tergantung supir dan penumpang itu sendiri. Jadi bertindak baiklah wahai penumpang dan supir pete-pete.
Selamat sore....
