Mangrove, Protector yang Butuh Perhatian
by
Riara
- Juli 24, 2016
Salam mangrover!
Banyak orang menganggap bahwa mangrove adalah hutan bakau yang hidup di pesisir pantai dan berfungsi mengurangi abrasi. Memang benar, tapi mangrove tidak sesederhana itu. Masih banyak hal tentang mangrove, terutama fungsinya bagi kelangsungan hidup manusia.
Banyak orang menganggap bahwa mangrove adalah hutan bakau yang hidup di pesisir pantai dan berfungsi mengurangi abrasi. Memang benar, tapi mangrove tidak sesederhana itu. Masih banyak hal tentang mangrove, terutama fungsinya bagi kelangsungan hidup manusia.
Dalam rangka memperingati International Mangrove Day tanggal 26 Juli 2016 nanti, Blue Forest, salah satu yayasan pemerhati
lingkungan mengadakan sebuah kegiatan edutrip yang dirangkaikan dengan lomba
foto dan blog. Bekerjasama dengan Badan Negara Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Polres kabupaten Barru, acara tersebut
bisa terlaksana dengan baik dan aman. Saya merasa beruntung bisa ikut terlibat dalam kegiatan ini sebagai peserta lomba blog. Kapan lagi ada kesempatan bepergian bersama jurnalis, blogger, dan fotografer keren?
Kemarin (23/06/16), peserta lomba bersama dengan tim Blue
Forest dan beberapa tim media, melakukan edutrip di pulau Panikiang, kabupaten Barru,
Sulawesi Selatan. Dari pelabuhan Garonggong, dibutuhkan waktu sekitar 20 menit
untuk tiba di pulau Panikiang dengan menggunakan perahu nelayan. Cuaca sedang cerah, dan matahari selalu berbaik hati memancarkan sinarnya dengan sempurna siang itu. Panas!
![]() |
| Perjalanan menuju pulau Panikiang, Barru, dengan menggunakan perahu |
Edutrip ini memberikan pengetahuan tentang mangrove, baik dari segi fungsi, jenis, tempat tumbuh, dan lain-lain. Bagi saya pribadi, satu hari adalah waktu yang sangat singkat untuk belajar tentang mangrove, tapi poin penting yang bisa saya tangkap adalah kawasan hutan mangrove di dunia saat ini banyak berkurang. Jadi kita perlu waspada, bagaimana jika tanaman ini punah? Daratan akan semakin terkikis dan menjadi semakin sempit, sementara pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Selain itu, manfaat lain dari mangrove adalah mereka lebih banyak menyerap karbon dan melepaskan oksigen ke udara. Itulah kenapa mangrove bisa mempengaruhi iklim. Jika mangrove berkurang, maka global warming terjadi semakin cepat. Mungkin itulah sebabnya kenapa udara sekarang lebih panas daripada beberapa tahun sebelumnya.
![]() |
| Pesisir pulau Panikiang yang ditumbuhi mangrove sepanjang pantai |
Dari data yang saya baca, pulau Panikiang seluas 82 hektar dan
84% adalah mangrove, terdiri dari 17 species dari 43 species mangrove yang ada
di Indonesia. “Pulau Panikiang adalah hutan referensi mangrove terbaik di
Sulawesi Selatan,” demikian kata ketua panitia edutrip, kak Aksan Nur Imran. Karena
selain memiliki banyak species mangrove, pulau Panikiang juga masih fresh, belum banyak orang yang tahu tentang pesonanya. Pulau ini dicanangkan akan menjadi kawasan ekowisata. Hal ini bisa digunakan sebagai kesempatan untuk menyuarakan perlindungan mangrove secara langsung pada pengunjung, dan juga
diharapkan bisa membantu kehidupan ekonomi warga setempat dengan adanya ekowisata
tersebut. Di sana sudah dibangun jembatan yang akan mengantar pengunjung
menjelajah hutan mangrove, juga sebuah menara yang dipuncaknya bisa melihat
hutan mangrove dari segala penjuru. Pulau Panikiang memang cocok untuk
dijadikan ekowisata, selain bisa melihat berbagai jenis mangrove, juga ada
banyak fauna yang bisa dijumpai, terutama kelelawar yang merupakan alasan pulau
ini diberi nama 'Panikiang'. selain kelelawar, ada banyak jenis burung yang hidup di sana, termasuk bangau putih. Menurut keterangan warga, ada suatu ketika pulau
Panikiang berwarna putih disebabkan banyaknya burung yang hinggap di mangrove
tersebut, tapi tidak disebutkan dengan pasti, kapan momen itu terjadi.
![]() |
| Jembatan yang akan menuntun pengunjung ekowisata menjelajahi hutan mangrove di Panikiang |
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan
mangrove paling luas di dunia, tapi jika terjadi pengurangan terus-menerus,
fakta ini akan berubah. Salah satu penyebab berkurangnya kawasan mangrove
adalah konversi lahan menjadi tambak, terutama di Sulawesi Selatan. Tidak salah
menjadikan lahan tersebut sebagai tambak karena bisa membantu kehidupan masyarakat secara ekonomi, tapi dari info yang saya dengar, sebagian besar tambak tersebut
tidak di kelola dengan benar. Ditemukan kandungan pestisida yang cukup tinggi dalam tanah, hal tersebut bisa memicu sulitnya pertumbuhan mangrove. Banyak tambak yang sudah tidak berproduksi lagi, pemandangan tambak kosong banyak dijumpai di Sulawesi Selatan, seperti di
sepanjang jalan Maros-Pangkep-Barru. Di Panikiang juga ditemukan bekas tambak,
hingga sekarang belum ada tanda-tanda adanya mangrove yang tumbuh. Saat ini,
bekas tambak tersebut masih dalam pengawasan Blue Forest, diharapkan mangrove bisa tumbuh
secara alami di sana. Jika tidak, akan dilakukan beberapa tindakan, dan penanaman
adalah langkah terakhir, yang merupakan salah satu upaya pelestarian hutan
mangrove.
![]() |
| Bekas tambak di pulau Panikiang, Barru |
Sering kita mendengar gerakan tanam mangrove, memang
terlaksana, tapi tingkat keberhasilannya kurang dari 1%. Buktinya, sering kita
jumpai di pantai ada semacam kayu yang tertancap dan berjejer rapi (yang
merupakan bibit mangrove yang ditanam), tapi setelah beberapa lama masih tetap
seperti itu, benih itu mati. Hanya beberapa yang tumbuh, itupun tidak sesuai
harapan. Mengapa demikian? Saya setuju dengan pendapat kakak di post 3 kemarin (saya lupa namanya), mangrove yang ditanam tidak tumbuh karena penanamannya tidak
memperhatikan dua hal, yaitu jenis dan substrat mangrove tersebut. Karena tidak
semua mangrove sama, seperti manusia, ada yang bisa menyesuaikan diri dengan
lingkungan dan ada yang tidak. Jadi sepertinya perlu survey dan observasi lahan dulu sebelum menentukan jenis mangrove apa yang akan di tanam di setiap bagian pantai. Karena "alam punya memori sendiri", mereka tahu dimana mereka bisa tumbuh dengan baik.
![]() |
| Contoh penanaman mangrove yang sering kita jumpai di banyak tempat |
Mangrove bisa mencegah erosi dan banjir, mem-filter air asin
masuk ke darat, menyerap karbon, dan banyak manfaat lainnya. Tapi kenapa
kawasan mangrove kita terus berkurang? Karena kesadaran kita tentang pentingnya
mangrove juga masih kurang. Mungkin sekarang, dampaknya belum terasa (bagi
masyarakat awam) tapi suatu hari nanti, ini akan memburuk. Bumi yang kini sudah
tidak kelihatan hijau lagi karena kurangnya pohon, polusi udara ada dimana-mana, hal ini bisa mengancam kehidupan manusia. Jika tidak ada
kesadaran, maka entah seperti apa bumi kita nanti. Mungkin, kita memang tidak
bisa menyelamatkan bumi tapi kita bisa menjaganya. Berilah sedikit perhatian pada bumi, kita tidak bisa hidup tanpanya.
Pulau Panikiang diharapkan mampu bertahan agar tetap alami,
semoga tidak ada tangan-tangan ‘jahil’ yang merusaknya. Jika ada tambak, semoga
bisa dikelola dengan lebih bijak. Jika berkunjung ke sana, jangan merusak
apapun apalagi membuang sampah sembarangan. Kita orang berpendidikan bukan?
Satu hal lagi, di pulau Panikiang ada banyak spot menarik yang membuat pemilik kamera tidak ingin berhenti memotret. Mari kita jaga hutan mangrove bersama-sama. Bukan hanya hati, tapi mangrove juga butuh perhatian.
Terima kasih Blue Forest
Terima kasih BNBP, BPBD, dan Polres kabupaten Barru
dan terimakasih untuk semua teman-teman.
Pengalaman kali ini benar-benar penuh edukasi dan sangat keren bagi saya.
Satu hal lagi, di pulau Panikiang ada banyak spot menarik yang membuat pemilik kamera tidak ingin berhenti memotret. Mari kita jaga hutan mangrove bersama-sama. Bukan hanya hati, tapi mangrove juga butuh perhatian.
![]() |
| Salah satu sudut pulau Panikiang yang bisa membuat fotografer menghabiskan waktunya dengan memotret dari berbagai angle |
Terima kasih BNBP, BPBD, dan Polres kabupaten Barru
dan terimakasih untuk semua teman-teman.
Pengalaman kali ini benar-benar penuh edukasi dan sangat keren bagi saya.
Keep save our forest
Keep love our mangrove
Save our world!
Happy International Mangrove Day!
26 July 2016








