Wabah Covid-19 di Negeriku
by
Riara
- Maret 23, 2020
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nyaris sebulan sejak postingan terakhir. Apa saja yang terjadi saat itu? Berita menggemparkan terjadi di seluruh dunia.
Yaps, Virus Corona. Kini ditetapkan namanya menjadi Covid-19. Kasus pasien yang mengidap Covid-19 terus bertambah dimulai dari Wuhan (Cina) dan meluas ke berbagai negara. Maka anjuran untuk tidak keluar negeri atau sekedar bepergian keluar kota sangat disarankan untuk semua orang.
Hingga kini, grafik penyebaran dan korban meninggal terus berubah. Beberapa negara sudah mulai menunjukkan penurunan jumlah pasien karena pasiennya sembuh, namun ada juga negara yang jumlah pasiennya bertambah dan juga meninggal. Bukan hanya pasien tapi juga dokter yang berjuang menangani Covid-19.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus Covid-19 paling banyak. Padahal sebelumnya tidak ada satupun kasus, hingga akhirnya 2 orang ibu dan anak dinyatakan positif Covid-19, kepanikan mulai muncul. Masker dan handsinitizer diburu hingga susah ditemukan. Bahan pembuat desinfektan juga mulai sulit ditemukan.
Di kota kecil kami, anak sekolah mulai diliburkan meski kantor tetap aktif. Anjuran cuci tangan sebelum masuk kantor mulai dilakukan. Penyemprotan desinfektan dilakukan ke seluruh bagian kantor. Saya pangling sendiri, sudah separah ini?, Saya membatin.
Jujur, sebelum-sebelumnya. Setiap ada kasus virus seperti flu burung, Mers, dan lainnya, saya hanya melihat berita di televisi atau membacanya entah dimana. Tapi kini, wabah ini benar-benar dekat. Saya mulai takut untuk makan dan minum kalau bukan di rumah.
Di jejaring sosial, televisi, media cetak, semuanya. Anjuran untuk memutus rantai penyebaran mulai dilakukan dengan cara tinggal di rumah, menghindari keramaian, dan menjaga jarak. Karena itu hastag #dirumahaja menjadi trending di dunia per-online-an meski nyatanya banyak yang melanggar dan dengan santainya keluar rumah tanpa tujuan jelas.
Inilah masalah utama di Indonesia, warganya tidak mau mendengar. Masih banyak yang menganggap sepele hal ini.
Di sisi lain, ada para pencari nafkah yang jauh dari hidup sejahtera berjuang mencari makan. Mereka juga ingin di rumah, tapi katanya 'Siapa yang akan memberi makan anak dan istri saya?" (Silakan dijawab!) Lalu saat mereka keluar rumah, siapa yang akan membeli saat semua orang libur (dirumah aja)??? Ya Allah, saya hampir menangis. Peristiwa ini benar-benar menampar, apa lagi alasannya saya kurang bersyukur dengan hidup ini? Sedih... Mau bantu tapi tidak mampu.
Saya juga menemukan postingan yang sudah viral beberapa hari lalu. Seorang dokter/perawat yang menggunakan pakaian pelindung diri lengkap, katanya ia haus tapi takut minum.
Ya Allah, kasihan sekali mereka. Saat berjuang menyelamatkan pasien, mereka harus menderita seperti itu. Kurang tidur, kurang makan, tapi terus melalui penyakit mematikan itu setiap hari. Tim medis kali ini berperan sangat besar. Entah bagaimana caranya kami berterimakasih atas usaha mereka.
Jangan sampai ada kalimat, "Itu kan pekerjaan mereka, jadi wajar kalau mereka seperti itu." Karena itu adalah kalimat paling kurang ajar.
Semoga wabah ini segera berakhir.
Aamiin.
