Lingkungan Adalah Maut
by
Riara
- Juli 01, 2024
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Juni kemarin, netijen ribut perkara adik perempuan yang selingkuh dengan suami kakak kandungnya. Apalagi kalau bukan film Ipar adalah maut!
Sebenarnya bukan hanya itu kisah nyata perselingkuhan yang terjadi di Indonesia, banyak. Padahal sholat rajin, tutur kata santun, pribadinya adem, tapi kok? Itu adalah bukti setan dan hawa nafsu masih meraja lela. Tidak ada manusia sempurna pemirsahhh.
Jadi tokohnya gini : Nisa (kakak), Rani (adik), Aris (suami Nisa).
Ceritanya tentang perselingkuhan Rani dan Aris, yang membawa luka besar untuk Nisa. Tidak hanya menghancurkan hubungan rumah tangga, tapi juga hubungan kakak adik. Tapi yang menjadi fokus saya bukanlah rasa sakit yang dirasakan oleh Nisa (kakak), tapi Rani. Yes, kita akan bahas si Rani.
Setelah film ini tayang, banyak yang menghujat Rani, banyak yang membela Nisa.
Kenapa? Selingkuh itu dosa. Bukan hanya bertukar pesan, tapi mereka melakukan hubungan suami istri, jadi jelas itu adalah zina. Belum lagi dengar cerita aslinya, dari kacamata penonton, saya bisa menyimpulkan kalau bisa dibilang dosa Rani berlapis-lapis, tebal.
Tapi dari sudut pandang Rani? Tidak ada yang tahu. Dari penuturan Mbak yang di podcast, katanya Rani mendapatkan perlakuan tidak adil sejak kecil dari semua orang. Dia selalu dibandingkan dengan Nisa yang lebih cantik, lebih pintar, lebih berprestasi, dan lainnya. Orang-orang yang mengalami hal seperti ini, pasti mengerti maksud saya sekarang. Rani dibentuk dari kecil dengan lingkungan yang mengatakan bahwa Nisa lebih baik dari dia. Jadi yang tertanam dalam otaknya bahkan mungkin di hatinya, bahwa Nisa selalu lebih baik. Hingga akhirnya ketemu Aris dan mereka selingkuh, mungkin disitulah untuk pertama kalinya Rani merasa menang dari Nisa. Kalau dipikir, jahatnya memang diluar nalar sih.
Siapapun bisa melihat bahwa tindakan Rani salah. Setelah tahu cerita dibaliknya, bagaimana? Tetap salah! Jangan membenarkan perselingkuhan, karena itu melawan sumpah pada Allah saat akad.
Jadi siapa yang salah? Padahal Rani dibesarkan di keluarga yang sama, harusnya sama baiknya dengan Nisa. Tuh kan, mulai membanding-bandingkan lagi. 😊
Jadi salah siapa?
Bibir orang-orang yang terlibat dalam mengomentari anak orang lain.
Ibu Nisa dan Rani pasti memperlakukan mereka sama, apalagi katanya Rani adalah anak kesayangan ibu. Kenapa Rani bisa kena virus kata-kata seperti itu? Karena kadang kita tidak sadar, asal melemparkan komentar untuk candaan padahal itu berpengaruh loh. Apalagi anak kecil, yang belum mengerti kejamnya dunia dan penghuninya.
Tolong berpikir sebelum mengomentari hidup orang lain. Kamu tidak lebih baik.
Untuk almarhumah ibunya Nisa, semoga tenang di sana dan dilapangkan jalan menuju jannah-Nya.
Untuk Mbak Nisa, saya akhirnya melihat yang namanya kesabaran tanpa batas.
Untuk Rani dan Aris, minta maaf sebenar-benarnya sama Nisa dan bertaubat sama Allah.
Untuk netijen, jadikan ini pelajaran, jangan jadi bahan hujatan.
Karena kita tidak pernah tahu bagaimana nasib kita besok.
Sekian...
Assalamualaikum
