Sedih, Seru, Haru dan Kerennya OPKL XVIII

by - Januari 20, 2014

Saya berhasil ke Ramma ^_^

Ingin rasanya melompat ketika bos memberi saya izin untuk cuti. Sumpahhhh senangnyaaaaa.... :D Benar-benar kabar gembira. Saya yang sudah seminggu sebelumnya galau dan tidak tahu harus bagaimana jika tidak ikut kegiatan ini. Bayangkan, saya sudah mempersiapkannya sejak akhir 2012!! Hari itu saya sangat lesu, lebih banyak diam dan tidak bertenaga sama sekali. Tapi ketika tiba waktu pulang, izin saya diterima!!!!! Biasanya saya memang lesu kalau hujan, tapi kali ini tidak. Hujan deras terasa seperti bertepuk tangan memberi selamat. Saya akan ikut OPKL!!!!!!

Orientasi Pengembangan Kemampuan Lapangan alias OPKL dilaksanakan tanggal 11-15 Januari 2014 di lembah Ramma, Malino. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian Unhas (KMJ TP UH) dan kebetulan saya adalah anggotanya. Pertama kali saya mengikuti kegiatan ini, saya mendapat BANYAK hal tak terduga, ajaib dan jelas......menambah deretan pengalaman baru yang melahirkan cerita tanpa ujung :)

Berangkat pukul 16.30 dari kampus dan tiba di entri point pukul 21.10 jalan sebentar dan tiba di lokasi camp 1, dekat dengan air Terjun Biroro (yang sering ke Malino tapi belum pernah ke sana, coba deh, keren lho!!)
Air terjun Biroro

Keesokan harinya, perjalanan di lanjutkan ke Lingkungan Topidi, kali ini datarannya lebih tinggi lagi. Tidak ada penurunan selama perjalanan. Just climbing :) Inilah kru kami, tim tengah (medis) jalur Biroro 1.

Perjalanan menuju Topidi sangat berat. Kenapa? Perjalanan yang biasanya ditempuh selama 1 jam, hari itu kami tempuh selama 4 jam, plus hujan deras.... Tiba di camp ke-2, saya menginap di rumah warga (keluarga Tata Moha) bukan di tenda, karena ternyata saya sakit. Hehehe.... (payah!!).

Hari selanjutnya perjalanan asli di mulai. Tujuan kali ini adalah Ramma. Tapi pagi hari ketika saya bangun, hujan turun dengan sangat deras, kabut menghalangi pandangan, dan dingin yang tak pernah lelah berseliweran membuat kami kedinginan. Setelah cuaca membaik kami berangkat satu per satu, sekitar pukul 09.00. Di awal perjalanan, cuaca cerah. Kami sempat menikmati pemandangan yang subhanallah dengan matahari yang bersinar cerah... Tapi semakin mendaki, semakin memasuki hutan, semakin jelas langit menjadi gelap dan akhirnya hujan turun disepanjang perjalanan.

Sekitar 4 jam perjalanan kami bertemu dengan pendaki lain, mereka terlihat seperti anak SMA, 4 orang, laki-laki. Dan benar dugaan saya, saat berpapasan dengan kami, salah satunya menyapa dan mengatakan "duluan kak," kami tersenyum dan melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kami menemukan sebuah pohon tumbang, dan ada 3 percabangan yang membuat kami bingung harus melewati jalur yang mana. Semua mencoba mencari string line yang menandakan itu adalah jalan yang harus kami lalui, tapi tidak ada. Saya juga mencoba untuk mencari dan menemukan sesuatu yang membuat saya yakin kalau jalur ke sebelah kiri itulah yang harus kami lalui. Bekas sayatan di pohon. Memang sudah setahun, tapi saya mengingatnya. Sayatan itu dibuat oleh tim kami pada survey OPKL tahun lalu. Dengan masih ragu-ragu, ketiga rekan mengikuti saya yang sudah yakin 100% sampai akhirnya kami menemukan string line berwarna merah, mereka baru percaya dan merasa lega. Kami hampir tersesat. Alhamdulillah......

Sudah hampir jam 4 sore. Kami khawatir karena dari empat orang hanya ada 1 senter, sementara malam akan segera datang. Tim "sebelah" (Biroro 2) sebelum berangkat tadi mengatakan bahwa, jika pukul 4 semua peserta maupun warga belum tiba, evakuasi akan segera dilakukan. Pukul 16.35, kami akhirnya bertemu "tim evakuasi" tersebut. Senang akhirnya melihat 'orang' selain kami ber-4, mereka benar-benar mencari kami. Lega!!!!! 

Tiba di sungai Tallung, kami beristirahat. Di sana juga sudah tiba lebih dulu kelompok 2. Pukul 18.00 kami bergerak menuju puncak tallung. Karena minimnya penerangan alias hanya sebagian yang membawa senter, perjalanan ini juga memakan waktu yang cukup lama. Belum sampai di tallung, lagi-lagi kami merasa lega karena bertemu dengan koster (Allang) dan salah satu stering (Fajar). Tiba di tallung, kami menemukan lebih banyak orang lagi. Benar-benar melegakan.

Oh iya, selain hujan yang menemani kami, kabut juga ikut serta dan semakin menebal ketika kami tiba di Tallung, benar-benar dingin. Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuruni Tallung menuju lembah Ramma. Benar-benar gelap, dingin, berkabut, jadi kami berjalan hati-hati. Satu jam berlalu, akhirnya ada suara panggilan, kami bertemu teman-teman kami yang lain yang juga ikut mencari. Semakin ke bawah, semakin banyak orang yang kami temui. Ya! Orang-orang yang mengkhawatirkan kami (touching ^_^). Mereka anak Tekpert!!!!!!

Tiba di Ramma, lega sekali rasanya. Saya berlari ketengah dan berbalik memandangi tebing yang tertutup kabut, mengembangkan senyum lalu berteriak "Thanks God!", perasaan senang yang meluap-luap membuat jantungku berdebar. Alhamdulillah. Hampir tiba di lokasi camp, kami dihentikan oleh panitia untuk registrasi dan mengonfirmasikan bahwa kami telah tiba dengan selamat. Melewati camp peserta, saya menemukan tenda medis dan secara spontan 2 orang cewek berlari kearah saya dan memeluk saya. "Kak Riaaaa....!!!!", "Untung nda apa-apa jeki kak.." Mereka Itha dan Anti. Terima kasih pelukannya, itu menenangkan.

Saya segera mencari tenda angkatan saya untuk ganti baju, ditemani Yuli untuk buang air dan akhirnya kembali ke tenda medis, badan saya panas lagi. Saya di sana hingga pagi, dan ketika bangun saya mendengar kabar kalau ada satu kelompok lagi yang belum tiba. Suasana sunyi, tidak seperti OPKL yang sebelum-sebelumnya. Tim pencari sudah kembali dibentuk dan berangkat pagi itu juga.

Cemas, takut, khawatir sesuatu akan terjadi pada kemompok yang satu ini. Saya rasa itu yang dipikirkan oleh semua orang. Sekitar pukul 09.00, belum ada kabar. Akhirnya semua diminta untuk berkumpul di tenda induk. Satu orang yang dianggap sanggup diminta untuk ke Tallung mengonfirmasi kabar pencarian. Sementara yang masih tinggal, diminta untuk bersiap-siap berangkat untuk ikut melakukan pencarian kelompok yang hilang. Inilah saat yang paling membekas dalam ingatan saya di OPKL kali ini. Semua laki-laki yang masih tinggal mulai bersiap-siap, memasang sepatu/sandal gunung mereka, jas hujan, getter, dan perlengkapan lainnya sementara di tenda dapur, panitia sudah mulai memasak. Di tengah kesibukan itu, tiba-tiba terdengar "ALHAMDULILLAAAAAHHH....." dari tenda induk. Tanpa menunggu respon orang lain, saya yakin kalau "mereka" sudah ditemukan dalam keadaan selamat. Alhamdulillah berkali-kali terdengar saat itu. Tanpa terasa air mata pun menetes tapi diiringi senyum, saya menangis, mereka menangis, haru. Dari luar, saya melihat mereka yang di tenda induk berpelukan satu sama lain. Ahhh..... orang-orang ini. Saya mencintai kalian!! OPKL ini tak akan terlupakan sampai kapan pun.

Setelah kabar bahagia itu, senyum mulai mengembang dimana-mana. Suara gitar mulai terdengar, dan teriakan-teriakan mulai meramaikan lembah Ramma. Sekitar pukul 12.00 siang, mereka yang dikabarkan hilang muncul dengan senyum. Saya tahu, mereka juga pasti merasa lega. Membayangkan apa yang mereka alami semalaman membuat banyak yang mengerumuni mereka. Untung semuanya seha-sehat saja. Cape' tidak usah ditanya. Kami yang tiba semalam saja masih sangat lelah apalagi mereka yang baru tiba. Pokoknya semua lega saat itu.

Tiba saatnya games untuk peserta dan warga. Di sinilah, semua kekhawatiran itu terbang terbawa angin, mengalir terbawa air, dan mengabur tertelan kabut. Mereka bermain, tertawa, terjatuh, basah karena hujan, kotor karena lumpur, tapi itu membuat kami bahagia. Maha Besar Allah kami bisa menemukan saat seperti ini di sana.






Setelah games, dilanjutkan dengan sosialisasi warga. Saya tidak terlalu menikmati part satu ini, karena hujan turun dengan deras dan kabut yang tidak pernah hilang. Saya hanya berfoto bersama beberapa orang....






Tak lama dibagian ini, saya ke tenda mengambil selimut dan kembali ke tenda medis, badan saya panas lagi. Baring-baring.... Menjelang malam, demam saya naik. Huh, payah! Jauh-jauh ke sana hanya untuk sakit. Saya melewatkan malam api unggun :(
Hujan yang turun terus menerus membuat saya malas, apalagi dengan kondisi tubuh yang seperti itu. Saya minum paracetamol dan tertidur.....


"Habis gelap terbitlah terang", bagaimana jika sebaliknya? Habis terang jadi gelap? Setelah tadi pagi kami khawatir, kemudian senang dengan kabar gembira, tertawa bersama dibawah hujan, subuh pukul 03.00 dinihari, cobaan kembali datang. Angin kencang melepaskan tali pemasang tenda. Saya terbangun karena kaget, membuka mata dan menatap ke atas, gelap, dan beberapa detik kemudian saya melihat air menetes satu per satu. Ya Allah, tenda medis terbongkar, atapnya sudah tidak ada. Tinggal rangka bambu yang masih berdiri kokoh. Angin benar-benar kencang, mungkinkah itu badai, saya tidak tahu. Dengan cepat laki-laki yang ada di sana segera membenahi tenda dan berhasil memasangnya kembali. Tapi tidak cukup sampai di situ, hujan tiba-tiba turun dengan deras, tak lama kemudian, angin kencang kembali datang. Hujan dan angin berhenti, lalu kembali lagi, begitu seterusnya hingga saya tidak bisa tidur lagi. Semuanya mulai panik karena hujan dan angin yang tidak berhenti, beberapa orang sudah mulai kedinginan dan suhu badannya tinggi. Beberapa orang di tenda induk mulai datang membantu dan menenangkan mereka. Saya benar-benar payah saat itu, tidak bisa berbuat apa-apa bahkan berkata apa-apa. 

Saya berpikir kenapa alam semarah ini..???? Sebelum pulang, saya mulai mendapat jawaban. Mungkinkah sampah yang sudah semakin menumpuk di sana?? Atau ada salah satu diantara kami yang melakukan kesalahan sehingga semua mendapat hukuman? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu itu. Yang jelas, terima kasih Allah karena membiarkan kami pulang dengan selamat, terlebih saya yang masih sempat menulis ini.

Terima kasih OPKL
Terima kasih KMJ TP UH
Terima kasih PARANG 08
Terima kasih RAMMA
Terima kasih ALLAH

KELUARGA?? Selain di rumah, saya menemukannya di sini.

=======.....=====........=====...........====..................========....===============

Tambahan :
Anak SMA yang kami temui di perjalanan dinyatakan hilang dan masih belum ditemukan hingga sekarang (20/01/2014).
Semoga mereka selamat.....karena sepertinya alam benar-benar marah.
Tuhan, tolong mereka.. Amin.

NB: Anak-anak yang tersesat ini ditemukan pada hari Selasa, 21 Januari 2014 dalam keadaan selamat. :)
 

You May Also Like

2 comments