Let's Get Lost
Hai, apa kabar? Baik saja kan?
Kali ini, saya akan bercerita sangat panjang. Maklum, baru pulang dari
mejelajah di kampung orang. Jadi ambil posisi terbaik, dan sediakan sedikit
cemilan. Kalau ada putu cangkir, minta ka’. Hehehe
Setiap mengalami ini, saya selalu
merasa menjadi orang paling beruntung sejagad raya. Melakukan perjalanan ke
tempat yang belum pernah dikunjungi. Untuk pertama kalinya, ditempat baru, bersama
orang-orang baru.
.
.
.
Enrekang, 14-17 Oktober 2016.
Cerita dimulai.
Sudah beberapa bulan yang lalu
sejak saya mengunjungi kebun raya Massenrempulu, muncul tempat wisata lain
yang sukses menarik perhatian, Cekong Hills. Sebuah tempat wisata dengan
beberapa fasilitas yang bisa dinikmati oleh pengunjung, seperti ayunan ekstrim,
flying fox, outbond, dan beberapa lagi yang namanya susah. Hahaha! (membaca ki
dek!). Sejak saat itu, saya ingin sekali ke sana. Dan minggu lalu, rencana akan
ke tempat ini gagal karena hujan. Tapi kemudian ada ajakan mendadak dari Mey
(temen gueh yang baperan), katanya ‘kita diajak ke Enrekang untuk lomba liputan
jelajah wisata’. Tidak perlu diajak dua kali, saya bilang OKE! (Padahal sempat
malu juga, ini kan acaranya orang Enrekang, kenapa orang Soppeng yang tidak tau
apa-apa mau ikut?). Tapi dengan harapan bisa ke Cekong, saya akhirnya pergi
juga. Let's Get Lost. Mari kita lakukan perjalanan panjang. Tersesat juga boleh...
![]() |
| Sebelum berangkat, sandalnya masih bersih, kinclong! |
Mey memang selalu mengajak saya
melakukan hal gila. Ini adalah kali kedua kami ke Enrekang dengan pindah-pindah
angkutan umum dari satu kota ke kota lain. Dan gilanya lagi, saya mau ikut.
Bukankah saya juga gila? Ah, begitulah. Hari Jumat, sehari sebelum hari-H, kami
berangkat. Di perjalanan ada kabar kalau ada teman Mey yang akan ke Enrekang
juga, jadi kami menunggunya di Rappang. Cukup lama, tapi akhirnya mereka
datang, dengan mobil, kami berdua bisa nebeng! Dalam hati, saya mengatakan akan
ada atmosfer canggung sepanjang perjalanan. Tapi saya salah, karena ternyata
orang yang bernama Natsir itu sangat cerewet, lucu, dan sotta’ (peace! hahaha).
Dia duduk disamping supir (yang juga temannya, tapi belum saya tahu namanya) dan bicara terus menerus
hingga akhirnya saya tidak sadar kalau saya tidak suka naik mobil yang pakai AC
(karena kemungkinan muntah pasti ada).
Tiba di Enrekang, mereka singgah
di rumah temannya. Saya dan Mey ya ikut saja, kami tidak tahu apa-apa. Tapi surprise!!!
Saya mengenal teman mereka, dia teman saya juga, Iie. Teman yang semasa kuliah
dulu sering ke kost karena memang kost saya penuh dengan orang Enrekang,
termasuk ibu kost. Hah, kecilnya dunia. Iie saja kaget, dari mana kami bisa
kenal. Dan mereka juga kaget, kenapa saya bisa mengenal Iie. Hahaha…dunia
memang sempit nak! Bagaimana reaksimu ketika tahu, teman yang baru kamu kenal
adalah teman dari temanmu? Hahaha…reaksi kita pasti sama! “Oohhh”, “Masa?”,
“Kenapa bisa?”
Setelah itu, kami ke rumah teman
mereka lagi, entah itu rumah siapa. Lalu muncul seorang laki-laki yang saya
kenal berjalan mendekat. Hmm… dia Ade! Sependek pengetahuan saya, karena orang
inilah, saya dan Mey ada di Enrekang. Karena dia yang mengajak! Saya baru mengenalnya
di kegiatan Kemah Pustaka bulan April lalu, waktu itu juga ke sana karena
diajak oleh Mey. Mey seperti lele yang dicebur ke penggorengan setelah melihat
begitu banyak kaktus di rumah yang kami datangi. Memang akhir-akhir ini dia
sedang mencari tanaman ini, entah karena apa.
![]() |
| Kaktus-kaktus manja :D |
Kami beristirahat di rumah itu,
sementara Ade dan teman-temannya berkumpul. Semua laki-laki. Takut? Hahaha…
saya justru berpikir ini keren! Ini mengingatkan saya pada teman-teman di
kampus. ‘Don’t judge the book by its cover’, right? Jangan menilai orang dari
luar, benar sekali! Mereka semua baik dan ramah. Sayang, ada yang merokok. Saya tidak
tahan asapnya. Mereka berbincang entah apa, saya tidak mengerti. Karena mereka
memakai bahasa daerah, bahasa Enrekang. Mana saya tahu? Empat tahun saya satu
kost dengan orang Enrekang, tapi saya tidak bisa mengerti dengan bahasa itu. Hanya
tahu beberapa, dikka’na, tambara, menjio,
apara, capari, and course done! Indonesia, pliiiissss.
Kami berdua menginap di rumah
Iie. Malam hari, kami diajak ke kafe ‘di pinggir sungai’. Unik ya? Di sana
semakin banyak wajah yang tidak saya kenal. Hahaha…selamat datang di planet
lain! Mereka masih menggunakan bahasa yang sama. Oke, saya alien yang masih
polos, jadi diam-diam saja. Hanya mendengar beberapa kata ‘tenda, nesting, motor’
dan sisanya blur, saya tidak tahu lagi. Awalnya saya kira yang berangkat hanya
beberapa orang, maksimal enam orang. Tapi saya salah lagi, jumlah kami yang berangkat ada belasan
orang. Diantara mereka ada seorang perempuan yang ternyata teman satu fakultas
dulu, Iyan. Wanita yang terpilih menjadi ibu suku ketika kami KKN Profesi
beberapa tahun lalu. Tentu saja saya mengenalnya, tapi saya tidak tahu kalau
dia juga orang Enrekang, apalagi kenal dengan orang-orang ini. Hah, dunia
memang sempit. Teman saya, bernama Mira yang juga orang Enrekang, menelepon. Dia
merasa tidak enak karena saya berada di kampungnya sementara dia ditempat lain.
Dan Mira juga mengenal orang-orang ini. Dunia tambah sempit! Hahaha. Sebelum menutup
telepon dia bilang, “Have fun ko Riaaa, orang-orang safety semua ji itu
mutemani. Temanku semua ji itu. Ku tunggu fotomu.” Setelah itu, saya semakin
tidak sabar menunggu hari esok. Akan ada petualangan seru yang menunggu, saya
tertidur sambil mendengarkan lagu, INFINITE.
![]() |
| Saya bisa minum kopi, tapi bukan penggila kopi. |
Hari Sabtu, 15 Oktober 2016. Kami
berangkat ramai-ramai ke lokasi. Saya tidak kenal dengan orang yang membonceng
dan ketika saya tanya, ternyata dia juga tidak tahu tempat yang akan kami tuju.
Ternyata lagi, tidak ada satupun yang tahu tempat yang akan kami tuju. Yes,
tersesat rame-rame! Sebuah makam tua yang menjadi titik yang harus kami ulas
untuk liputan, tidak memiliki penanda. Ada sebuah penanda, tapi penduduk
setempat bilang itu salah dan bukan disitu tempatnya. Jadi kami berkeliling, ke
sana ke mari, mencari tahu dan akhirnya ketemu! Ya ampun, cari makam saja sesusah
itu. Akhirnya jepret, mengambil gambar dari berbagai angle, selesai.
Selanjutnya adalah mencari tahu orang yang tahu tentang sejarah makam itu,
karena kami butuh informasi kenapa tempat itu layak dijadikan tempat pariwisata
sejarah. Akhirnya kami bertemu beliau, tapi ceritanya bukan di sini ya.
| Saya juga heran, kenapaaa ada orang yang mau berfoto dengan makam |
![]() |
| Foto bersama keturunan langsung Nenek Lintik |
Setelah itu, kami kembali melanjutkan
perjalanan menuju Baredok (Aaaaaaarrgghh…nama-nama ditempat ini aneh semua.
Susah disebut dan susah di ingat, apalagi dengan otak seperti saya?) Mungkin
dibutuhkan kunjungan berkali-kali agar saya bisa ingat dengan nama-nama tempat
di sana beserta susunan letaknya. Ah, Enrekang…
Kalau tidak salah hitung, ada
delapan motor dengan total 15 orang (4 perempuan, sisanya laki-laki) yang
berangkat menuju Baredok, kaki gunung
Latimojong yang dikenal dengan puncak tertinggi di Sulawesi Selatan. Tidak usah
kaget begitu, kami hanya berkemah di kakinya saja. Dalam perjalanan ke sana,
kami dapat bonus. Sunsetnya keren sekaliiiii!!!! Sudah lama saya tidak melihat
sunset sekeren dan sejingga itu, padahal sebelumnya hujan. Mungkin itu hadiah
dari Tuhan untuk kami yang datang dengan niat baik.
![]() |
| Salam hangat dari balik gunung |
Tiba di desa terakhir, motor
dititipkan, dan kami berjalan naik saat matahari tenggelam dengan sempurna.
Gelap, namun kami membawa senter. Ada jurang, tapi di kejauhan kita bisa
melihat lampu-lampu, indah…..dan suhu mulai dingin, mulut mulai berasap. Capek?
Jangan ditanya. Kami tiba di hutan pinus, jarak antar pohon agak rapat dari
hutan pinus yang pernah saya lihat sebelumnya, yang ini begitu rapat. Ada yang
memilih kami berkemah di sana, tapi ada juga yang mengusulkan di dekat danau,
sempat terjadi perdebatan entah bagaimana (karena mereka pakai bahasa itu lagi.
Indonesia, pliiissss) dan diputuskan untuk meneruskan perjalanan dan berkemah
di dekat danau. Oke, kami jalan lagi. Jalanan becek karena habis hujan, beberapa
orang terjatuh, celana dan sepatunya penuh lumpur. Seorang perempuan bernama
Winda, kalau menurut saya dia hebat. Katanya dia belum pernah melakukan itu
sebelumnya, jadi wajar kalau jalannya lambat, tapi dia tidak merengek minta
berhenti atau pulang kan? Di tetap ceria meski jelas wajahnya pucat dan
terlihat lelah. Iyan juga demikian, meski sudah terjatuh dengan keras sampai
khawatir kalau kakinya lebam, dia tetap melanjutkan perjalanan. Mey? Hufftt…dia
sudah biasa ke Umpungeng. Ini bukan masalah besar. Saya? I’m okkay, selama
tidak basah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lagipula kalau terjadi apa-apa
pada kami (perempuan), disana ada belasan laki-laki yang bisa diandalkan.
Tiba di tempat tujuan, danaunya
kering. Selamat! Saya ingin tertawa, tapi ah sudahlah. Saya akan menolak jika
mereka memutuskan untuk kembali. Akhirnya tenda didirikan, ganti baju dan
bersih-bersih, makan, dan bercerita. Bahasa itu lagi. Indonesia,
pliisss…(hahaha). Sudah minum kopi, tapi tidak mempan, saya tetap mengantuk dan
segera tidur. Dingin, tapi tidak sedingin yang saya bayangkan. Dengan
sayup-sayup suara teman-teman diluar bernyanyi sambil berceloteh dengan bahasa
ibu mereka, saya dan Mey akhirnya tertidur.
![]() |
| Selamat pagi.... |
![]() |
| Satu per satu orang keren ini mulai bangun |
![]() |
| Foto sebelum pulang, cekrek... |
Sudah pagi, satu persatu bangun
dan bersiap pulang. Rencananya memang, kami akan singgah di hutan pinus. Tidak
butuh waktu lama untuk tiba di sana. Beberapa orang sudah memasang hammock dan berayun-ayun manja di sana. Saya yang kampungan dan baru pertama kali melihat itu secara live,
menatap pemandangan itu dengan mata berbinar. Finally!...
![]() |
| Yuuhuuuu..... |
Di hutan pinus itu, kami tidak
memasang tenda lagi. Kami hanya istirahat, memasak, makan, minum, dan tentu
saja berfoto (meski saya merengek berkali-kali ingin pulang, mereka hanya tertawa). Satu yang saya suka
dari rombongan ini adalah, mereka bisa diatur untuk berfoto. Biasanya kan susah
untuk foto rapi berjejer, bersama teman-teman. Pasti adaaaaa saja yang rese’!
Yang ini beda, saya salut dengan mereka. Akhirnya kami pulang dan telinga saya
melebar setiap ada yang menyebut kata Cekong. Hahahha
Sebelum ke Cekong, kami singgah
di sebuah kuburan batu. Kuburan kuno dimana peti orang mati diletakkan di
tebing, yang tingginya kira-kira puluhan meter dari tanah. Entah bagaimana cara
orang-orang dulu melakukannya. Sebenarnya kalau bercerita tentang sejarah,
selalu ada kata ‘luar biasa’ dibaliknya. Karena membuat kita berpikir, kenapa
dan bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan tidak semua jawaban bisa kita dapatkan.
![]() |
| Peti-peti itu mungkin sudah berusia ribuan tahun |
Next, Cekong. Akhirnya saya
benar-benar ke sana. Ramai, katanya memang seperti itu jika hari libur. Ah,
jadi merasa tidak enak dengan teman-teman yang menemani ke sana. Namun, tekad
saya sudah bulat. Kapan lagi saya punya kesempatan ke sana? Sebelum naik
ayunan ekstrim, saya melihat anak kecil yang mencobanya. Lutut lemas dan tangan
menjadi dingin seketika. WOW!!!! Benar-benar ekstrim. Teman-teman sudah
mengompori agar saya mencobanya, oke! Dengan tangan yang masih dingin, saya
mendekati meja petugas dan segera dipasangkan alat pengaman, katanya harus
safety! Jangg…menuruni tangga satu per satu, saya coba meraih tali ayunan. Sambil
bersiap-siap didorong, saya berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa. 3…2…1…!!!
Ayunan didorong dan saya melesat terayun seolah dilempar ke jurang. Teriakan saya
mencapai sekian desibel, saking kencangnya. Pemandangan di bawah sana sangat
indah, menentramkan. Ketakutan saya hilang setelah puas berteriak. Jika memang
harus memilih, saya lebih suka dilempar ke udara daripada disuruh menyelam,
karena saya tidak bisa berenang, mandi di pantai saja saya bisa sesak napas. Kamu
harus coba ayunan ini! Sangat menyenangkan…dan mendebarkan jantung. Tapi endorfin
berada di tingkat maksimal!
Setelah selesai ‘main’ ayunan,
dilanjutkan dengan outbond. Kalau yang mencoba ayunan tadi hanya saya sendiri, outbond
kali ini ditemani Ade. Jangan pernah berpikir kalau ini mudah, karena setelah
mengalaminya ternyata susah. Outbond ini mengandalkan otot lengan dan kaki. Rintangan
pertama adalah berjalan melintasi tali dengan memegang tali yang dipasang
melintang diatasnya. Rintangan kedua masih sama, berjalan diatas tali tapi
dengan tali-tali yang menggantung satu persatu, seperti yang dilakukan tarzan. Di
sini saya kesulitan karena tepat ditengah, angin bertiup kencang. Anak-anak
sekolah yang menyaksikan di bawah sana ikut berteriak (ataukah menertawai saya?).
Rintangan ketiga adalah berjalan diatas ayunan kayu tapi diketinggian beberapa
meter dari tanah. Awalnya sulit karena kaki saya tidak sampai, setelah mencoba
beberapa kali akhirnya bisa, berhasil. Rintangan terakhir, kami harus melewati
papan yang diikat pada sebuah tali, tentu saja papan itu bergoyang. Tapi akhirnya
selesai juga. Finish dan bisa menikmati pemandangan yang terbentang indah
dibawah sana.
![]() |
| Permainan ini tidak semudah kelihatannya, coba saja! |
Saya tidak tahu berapa lama kami
di Cekong, tapi sepertinya saya lupa kalau kami harus segera pulang ke Soppeng.
Gawat! Adik saya terus bertanya kapan saya pulang, bukan karena dia rindu
apalagi khawatir, tapi karena menanyakan power bank-nya yang saya bawa. Hahaha! Well… kami
kembali dari Cekong dan penyakit Mey kumat. Saya merasa kalau kami tidak bisa
pulang sekarang, jadi kami menginap satu malam lagi di sana. Setelah keadaan
Mey membaik, kami mulai menulis, untuk liputan. Semalaman hanya
mengerjakan itu, bertanya sana-sini, browsing, dan akhirnya selesai. Mey lebih banyak berpikir daripada saya, haha (Mianhe, mengantuk sekali ma').
Sementara mengerjakan tulisan,
yang punya rumah (Arsal) mengatakan kalau ternyata kemarin semua mengeluh, “Seandainya
di pinus meki,” dan tawa kami meledak. Tentu saja, danau ternyata jauh dari
ekspektasi kami, kering, dan berlumpur. Untung saja langit dan matahari pagi
sangat cantik. Kami mengumpulkan foto dari ponsel masing-masing ke dalam
laptop, memilih foto-foto bagus, dan pusing ingin mengupload yang mana. Hahaha…
begitulah hari terakhir kami di Enrekang.
Akhirnya tiba saatnya saya
mengatakan yang tidak sempat saya katakan selama di sana.
Maaf dan terima kasih.
Maaf karena sudah merepotkan,
maaf jika ada kata dan perilaku yang tidak mengenakkan. Terima kasih atas sambutan yang
begitu ramah, tulus, dan menyenangkan. Terima kasih sudah mengajak berkeliling
ke tempat yang belum kami datangi. Terima kasih atas tempat tinggal, makanan,
dan minuman, selama kami di sana. Terima kasih atas pengalaman seru dan
foto-fotonya.
Terima kasih teman-teman, saya
suka persahabatan kalian.
Terima kasih telah mengisi saat-saat yang berlalu dengan kebersamaan yang layak dikenang. Tsahhh...
Terima kasih Enrekang, semoga saya bisa kembali lagi.
Sekali lagi terima kasih.
Semoga menang
ya! Amin.
Special thanks to :
ALL OF YOU
Ade-Accung-Rizal-Natzir-Iyan-Arsal-Imam-Arman-Winda-Asrul-Anam-K'Arif-K'Falat
(kalau ada yang namanya salah, anggap saja salah ketik)
ENREKANG DAEBAK!!!

















0 comments