Let's Get Lost

by - Oktober 18, 2016

Hai, apa kabar? Baik saja kan? Kali ini, saya akan bercerita sangat panjang. Maklum, baru pulang dari mejelajah di kampung orang. Jadi ambil posisi terbaik, dan sediakan sedikit cemilan. Kalau ada putu cangkir, minta ka’. Hehehe

Setiap mengalami ini, saya selalu merasa menjadi orang paling beruntung sejagad raya. Melakukan perjalanan ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Untuk pertama kalinya, ditempat baru, bersama orang-orang baru.
.
.
.
Enrekang, 14-17 Oktober 2016. Cerita dimulai.

Sudah beberapa bulan yang lalu sejak saya mengunjungi kebun raya Massenrempulu, muncul tempat wisata lain yang sukses menarik perhatian, Cekong Hills. Sebuah tempat wisata dengan beberapa fasilitas yang bisa dinikmati oleh pengunjung, seperti ayunan ekstrim, flying fox, outbond, dan beberapa lagi yang namanya susah. Hahaha! (membaca ki dek!). Sejak saat itu, saya ingin sekali ke sana. Dan minggu lalu, rencana akan ke tempat ini gagal karena hujan. Tapi kemudian ada ajakan mendadak dari Mey (temen gueh yang baperan), katanya ‘kita diajak ke Enrekang untuk lomba liputan jelajah wisata’. Tidak perlu diajak dua kali, saya bilang OKE! (Padahal sempat malu juga, ini kan acaranya orang Enrekang, kenapa orang Soppeng yang tidak tau apa-apa mau ikut?). Tapi dengan harapan bisa ke Cekong, saya akhirnya pergi juga. Let's Get Lost. Mari kita lakukan perjalanan panjang. Tersesat juga boleh...

Sebelum berangkat, sandalnya masih bersih, kinclong!
Mey memang selalu mengajak saya melakukan hal gila. Ini adalah kali kedua kami ke Enrekang dengan pindah-pindah angkutan umum dari satu kota ke kota lain. Dan gilanya lagi, saya mau ikut. Bukankah saya juga gila? Ah, begitulah. Hari Jumat, sehari sebelum hari-H, kami berangkat. Di perjalanan ada kabar kalau ada teman Mey yang akan ke Enrekang juga, jadi kami menunggunya di Rappang. Cukup lama, tapi akhirnya mereka datang, dengan mobil, kami berdua bisa nebeng! Dalam hati, saya mengatakan akan ada atmosfer canggung sepanjang perjalanan. Tapi saya salah, karena ternyata orang yang bernama Natsir itu sangat cerewet, lucu, dan sotta’ (peace! hahaha). Dia duduk disamping supir (yang juga temannya, tapi belum saya tahu namanya) dan bicara terus menerus hingga akhirnya saya tidak sadar kalau saya tidak suka naik mobil yang pakai AC (karena kemungkinan muntah pasti ada).

Tiba di Enrekang, mereka singgah di rumah temannya. Saya dan Mey ya ikut saja, kami tidak tahu apa-apa. Tapi surprise!!! Saya mengenal teman mereka, dia teman saya juga, Iie. Teman yang semasa kuliah dulu sering ke kost karena memang kost saya penuh dengan orang Enrekang, termasuk ibu kost. Hah, kecilnya dunia. Iie saja kaget, dari mana kami bisa kenal. Dan mereka juga kaget, kenapa saya bisa mengenal Iie. Hahaha…dunia memang sempit nak! Bagaimana reaksimu ketika tahu, teman yang baru kamu kenal adalah teman dari temanmu? Hahaha…reaksi kita pasti sama! “Oohhh”, “Masa?”, “Kenapa bisa?”

Setelah itu, kami ke rumah teman mereka lagi, entah itu rumah siapa. Lalu muncul seorang laki-laki yang saya kenal berjalan mendekat. Hmm… dia Ade! Sependek pengetahuan saya, karena orang inilah, saya dan Mey ada di Enrekang. Karena dia yang mengajak! Saya baru mengenalnya di kegiatan Kemah Pustaka bulan April lalu, waktu itu juga ke sana karena diajak oleh Mey. Mey seperti lele yang dicebur ke penggorengan setelah melihat begitu banyak kaktus di rumah yang kami datangi. Memang akhir-akhir ini dia sedang mencari tanaman ini, entah karena apa.
Kaktus-kaktus manja :D
 
Kami beristirahat di rumah itu, sementara Ade dan teman-temannya berkumpul. Semua laki-laki. Takut? Hahaha… saya justru berpikir ini keren! Ini mengingatkan saya pada teman-teman di kampus. ‘Don’t judge the book by its cover’, right? Jangan menilai orang dari luar, benar sekali! Mereka semua baik dan ramah. Sayang, ada yang merokok. Saya tidak tahan asapnya. Mereka berbincang entah apa, saya tidak mengerti. Karena mereka memakai bahasa daerah, bahasa Enrekang. Mana saya tahu? Empat tahun saya satu kost dengan orang Enrekang, tapi saya tidak bisa mengerti dengan bahasa itu. Hanya tahu beberapa, dikka’na, tambara, menjio, apara, capari, and course done! Indonesia, pliiiissss.

Kami berdua menginap di rumah Iie. Malam hari, kami diajak ke kafe ‘di pinggir sungai’. Unik ya? Di sana semakin banyak wajah yang tidak saya kenal. Hahaha…selamat datang di planet lain! Mereka masih menggunakan bahasa yang sama. Oke, saya alien yang masih polos, jadi diam-diam saja. Hanya mendengar beberapa kata ‘tenda, nesting, motor’ dan sisanya blur, saya tidak tahu lagi. Awalnya saya kira yang berangkat hanya beberapa orang, maksimal enam orang. Tapi saya salah lagi, jumlah kami yang berangkat ada belasan orang. Diantara mereka ada seorang perempuan yang ternyata teman satu fakultas dulu, Iyan. Wanita yang terpilih menjadi ibu suku ketika kami KKN Profesi beberapa tahun lalu. Tentu saja saya mengenalnya, tapi saya tidak tahu kalau dia juga orang Enrekang, apalagi kenal dengan orang-orang ini. Hah, dunia memang sempit. Teman saya, bernama Mira yang juga orang Enrekang, menelepon. Dia merasa tidak enak karena saya berada di kampungnya sementara dia ditempat lain. Dan Mira juga mengenal orang-orang ini. Dunia tambah sempit! Hahaha. Sebelum menutup telepon dia bilang, “Have fun ko Riaaa, orang-orang safety semua ji itu mutemani. Temanku semua ji itu. Ku tunggu fotomu.” Setelah itu, saya semakin tidak sabar menunggu hari esok. Akan ada petualangan seru yang menunggu, saya tertidur sambil mendengarkan lagu, INFINITE.

Saya bisa minum kopi, tapi bukan penggila kopi. 
Hari Sabtu, 15 Oktober 2016. Kami berangkat ramai-ramai ke lokasi. Saya tidak kenal dengan orang yang membonceng dan ketika saya tanya, ternyata dia juga tidak tahu tempat yang akan kami tuju. Ternyata lagi, tidak ada satupun yang tahu tempat yang akan kami tuju. Yes, tersesat rame-rame! Sebuah makam tua yang menjadi titik yang harus kami ulas untuk liputan, tidak memiliki penanda. Ada sebuah penanda, tapi penduduk setempat bilang itu salah dan bukan disitu tempatnya. Jadi kami berkeliling, ke sana ke mari, mencari tahu dan akhirnya ketemu! Ya ampun, cari makam saja sesusah itu. Akhirnya jepret, mengambil gambar dari berbagai angle, selesai. Selanjutnya adalah mencari tahu orang yang tahu tentang sejarah makam itu, karena kami butuh informasi kenapa tempat itu layak dijadikan tempat pariwisata sejarah. Akhirnya kami bertemu beliau, tapi ceritanya bukan di sini ya.
Saya juga heran, kenapaaa ada orang yang mau berfoto dengan makam

Foto bersama keturunan langsung Nenek Lintik

Setelah itu, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Baredok (Aaaaaaarrgghh…nama-nama ditempat ini aneh semua. Susah disebut dan susah di ingat, apalagi dengan otak seperti saya?) Mungkin dibutuhkan kunjungan berkali-kali agar saya bisa ingat dengan nama-nama tempat di sana beserta susunan letaknya. Ah, Enrekang…

Kalau tidak salah hitung, ada delapan motor dengan total 15 orang (4 perempuan, sisanya laki-laki) yang berangkat menuju Baredok, kaki gunung Latimojong yang dikenal dengan puncak tertinggi di Sulawesi Selatan. Tidak usah kaget begitu, kami hanya berkemah di kakinya saja. Dalam perjalanan ke sana, kami dapat bonus. Sunsetnya keren sekaliiiii!!!! Sudah lama saya tidak melihat sunset sekeren dan sejingga itu, padahal sebelumnya hujan. Mungkin itu hadiah dari Tuhan untuk kami yang datang dengan niat baik.
Salam hangat dari balik gunung

Tiba di desa terakhir, motor dititipkan, dan kami berjalan naik saat matahari tenggelam dengan sempurna. Gelap, namun kami membawa senter. Ada jurang, tapi di kejauhan kita bisa melihat lampu-lampu, indah…..dan suhu mulai dingin, mulut mulai berasap. Capek? Jangan ditanya. Kami tiba di hutan pinus, jarak antar pohon agak rapat dari hutan pinus yang pernah saya lihat sebelumnya, yang ini begitu rapat. Ada yang memilih kami berkemah di sana, tapi ada juga yang mengusulkan di dekat danau, sempat terjadi perdebatan entah bagaimana (karena mereka pakai bahasa itu lagi. Indonesia, pliiissss) dan diputuskan untuk meneruskan perjalanan dan berkemah di dekat danau. Oke, kami jalan lagi. Jalanan becek karena habis hujan, beberapa orang terjatuh, celana dan sepatunya penuh lumpur. Seorang perempuan bernama Winda, kalau menurut saya dia hebat. Katanya dia belum pernah melakukan itu sebelumnya, jadi wajar kalau jalannya lambat, tapi dia tidak merengek minta berhenti atau pulang kan? Di tetap ceria meski jelas wajahnya pucat dan terlihat lelah. Iyan juga demikian, meski sudah terjatuh dengan keras sampai khawatir kalau kakinya lebam, dia tetap melanjutkan perjalanan. Mey? Hufftt…dia sudah biasa ke Umpungeng. Ini bukan masalah besar. Saya? I’m okkay, selama tidak basah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lagipula kalau terjadi apa-apa pada kami (perempuan), disana ada belasan laki-laki yang bisa diandalkan.

Tiba di tempat tujuan, danaunya kering. Selamat! Saya ingin tertawa, tapi ah sudahlah. Saya akan menolak jika mereka memutuskan untuk kembali. Akhirnya tenda didirikan, ganti baju dan bersih-bersih, makan, dan bercerita. Bahasa itu lagi. Indonesia, pliisss…(hahaha). Sudah minum kopi, tapi tidak mempan, saya tetap mengantuk dan segera tidur. Dingin, tapi tidak sedingin yang saya bayangkan. Dengan sayup-sayup suara teman-teman diluar bernyanyi sambil berceloteh dengan bahasa ibu mereka, saya dan Mey akhirnya tertidur.
Selamat pagi....
Satu per satu orang keren ini mulai bangun
Foto sebelum pulang, cekrek...
Sudah pagi, satu persatu bangun dan bersiap pulang. Rencananya memang, kami akan singgah di hutan pinus. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di sana. Beberapa orang sudah memasang hammock dan berayun-ayun manja di sana. Saya yang kampungan dan baru pertama kali melihat itu secara live, menatap pemandangan itu dengan mata berbinar. Finally!... 
Yuuhuuuu.....


Di hutan pinus itu, kami tidak memasang tenda lagi. Kami hanya istirahat, memasak, makan, minum, dan tentu saja berfoto (meski saya merengek berkali-kali ingin pulang, mereka hanya tertawa). Satu yang saya suka dari rombongan ini adalah, mereka bisa diatur untuk berfoto. Biasanya kan susah untuk foto rapi berjejer, bersama teman-teman. Pasti adaaaaa saja yang rese’! Yang ini beda, saya salut dengan mereka. Akhirnya kami pulang dan telinga saya melebar setiap ada yang menyebut kata Cekong. Hahahha

Sebelum ke Cekong, kami singgah di sebuah kuburan batu. Kuburan kuno dimana peti orang mati diletakkan di tebing, yang tingginya kira-kira puluhan meter dari tanah. Entah bagaimana cara orang-orang dulu melakukannya. Sebenarnya kalau bercerita tentang sejarah, selalu ada kata ‘luar biasa’ dibaliknya. Karena membuat kita berpikir, kenapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan tidak semua jawaban bisa kita dapatkan. 
Peti-peti itu mungkin sudah berusia ribuan tahun

Next, Cekong. Akhirnya saya benar-benar ke sana. Ramai, katanya memang seperti itu jika hari libur. Ah, jadi merasa tidak enak dengan teman-teman yang menemani ke sana. Namun, tekad saya sudah bulat. Kapan lagi saya punya kesempatan ke sana? Sebelum naik ayunan ekstrim, saya melihat anak kecil yang mencobanya. Lutut lemas dan tangan menjadi dingin seketika. WOW!!!! Benar-benar ekstrim. Teman-teman sudah mengompori agar saya mencobanya, oke! Dengan tangan yang masih dingin, saya mendekati meja petugas dan segera dipasangkan alat pengaman, katanya harus safety! Jangg…menuruni tangga satu per satu, saya coba meraih tali ayunan. Sambil bersiap-siap didorong, saya berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa. 3…2…1…!!! Ayunan didorong dan saya melesat terayun seolah dilempar ke jurang. Teriakan saya mencapai sekian desibel, saking kencangnya. Pemandangan di bawah sana sangat indah, menentramkan. Ketakutan saya hilang setelah puas berteriak. Jika memang harus memilih, saya lebih suka dilempar ke udara daripada disuruh menyelam, karena saya tidak bisa berenang, mandi di pantai saja saya bisa sesak napas. Kamu harus coba ayunan ini! Sangat menyenangkan…dan mendebarkan jantung. Tapi endorfin berada di tingkat maksimal!


Setelah selesai ‘main’ ayunan, dilanjutkan dengan outbond. Kalau yang mencoba ayunan tadi hanya saya sendiri, outbond kali ini ditemani Ade. Jangan pernah berpikir kalau ini mudah, karena setelah mengalaminya ternyata susah. Outbond ini mengandalkan otot lengan dan kaki. Rintangan pertama adalah berjalan melintasi tali dengan memegang tali yang dipasang melintang diatasnya. Rintangan kedua masih sama, berjalan diatas tali tapi dengan tali-tali yang menggantung satu persatu, seperti yang dilakukan tarzan. Di sini saya kesulitan karena tepat ditengah, angin bertiup kencang. Anak-anak sekolah yang menyaksikan di bawah sana ikut berteriak (ataukah menertawai saya?). Rintangan ketiga adalah berjalan diatas ayunan kayu tapi diketinggian beberapa meter dari tanah. Awalnya sulit karena kaki saya tidak sampai, setelah mencoba beberapa kali akhirnya bisa, berhasil. Rintangan terakhir, kami harus melewati papan yang diikat pada sebuah tali, tentu saja papan itu bergoyang. Tapi akhirnya selesai juga. Finish dan bisa menikmati pemandangan yang terbentang indah dibawah sana.
Permainan ini tidak semudah kelihatannya, coba saja!

Saya tidak tahu berapa lama kami di Cekong, tapi sepertinya saya lupa kalau kami harus segera pulang ke Soppeng. Gawat! Adik saya terus bertanya kapan saya pulang, bukan karena dia rindu apalagi khawatir, tapi karena menanyakan power bank-nya yang saya bawa. Hahaha! Well… kami kembali dari Cekong dan penyakit Mey kumat. Saya merasa kalau kami tidak bisa pulang sekarang, jadi kami menginap satu malam lagi di sana. Setelah keadaan Mey membaik, kami mulai menulis, untuk liputan. Semalaman hanya mengerjakan itu, bertanya sana-sini, browsing, dan akhirnya selesai. Mey lebih banyak berpikir daripada saya, haha (Mianhe, mengantuk sekali ma').

Sementara mengerjakan tulisan, yang punya rumah (Arsal) mengatakan kalau ternyata kemarin semua mengeluh, “Seandainya di pinus meki,” dan tawa kami meledak. Tentu saja, danau ternyata jauh dari ekspektasi kami, kering, dan berlumpur. Untung saja langit dan matahari pagi sangat cantik. Kami mengumpulkan foto dari ponsel masing-masing ke dalam laptop, memilih foto-foto bagus, dan pusing ingin mengupload yang mana. Hahaha… begitulah hari terakhir kami di Enrekang.


Akhirnya tiba saatnya saya mengatakan yang tidak sempat saya katakan selama di sana.
Maaf dan terima kasih.

Maaf karena sudah merepotkan, maaf jika ada kata dan perilaku yang tidak mengenakkan. Terima kasih atas sambutan yang begitu ramah, tulus, dan menyenangkan. Terima kasih sudah mengajak berkeliling ke tempat yang belum kami datangi. Terima kasih atas tempat tinggal, makanan, dan minuman, selama kami di sana. Terima kasih atas pengalaman seru dan foto-fotonya.
Terima kasih teman-teman, saya suka persahabatan kalian.
Terima kasih telah mengisi saat-saat yang berlalu dengan kebersamaan yang layak dikenang. Tsahhh...
Terima kasih Enrekang, semoga saya bisa kembali lagi.

Sekali lagi terima kasih.
Semoga menang ya! Amin.




Special thanks to :
ALL OF YOU
Ade-Accung-Rizal-Natzir-Iyan-Arsal-Imam-Arman-Winda-Asrul-Anam-K'Arif-K'Falat
(kalau ada yang namanya salah, anggap saja salah ketik)


ENREKANG DAEBAK!!!
Annyeong haseyo

You May Also Like

0 comments