Cerita Seorang Peserta CPNS
by
Riara
- Oktober 20, 2017
Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah pekerjaan impian sebagian besar orang, dan harapan semua orang tua di Indonesia. Karena katanya, kalau sudah jadi PNS hidup kamu sudah terjamin sampai mati. Siapa yang tidak mau?
Tahun 2014 adalah pertama kali saya ikut seleksi CPNS dan dinyatakan tidak lulus sesaat setelah keluar ruangan. Hahaha. Tahun 2017, seleksi CPNS kembali diadakan dan tahun ini banyak sekali yang berubah. Ini adalah cerita saya berdasarkan pengalaman tes di kota Makassar Sulawesi Selatan.
Jadwal tes diurut berdasarkan abjad, jadi peserta yang namanya diawali dengan huruf A akan tes lebih dulu. Tahun ini berbeda dengan tahun 2014 lalu, dimana semua peserta hanya dianjurkan menggunakan pakaian rapi. Tapi tahun ini semua peserta wajib mengenakan hitam putih, layaknya mahasiswa baru. Bagian ini lebih banyak membuat stres. Hahaha.
Karena mendaftar di Kementrian Pertanian, maka lokasi tes saya di Kodam XIV Hasanuddin, jatuh pada hari Selasa siang pukul 14.00. Senin, sehari sebelum tiba giliran saya, ada informasi bahwa terjadi masalah di Kodam, koneksi internet buruk, jadi hingga pukul 13.00, tes belum di mulai. Padahal di jadwal, tes dimulai pukul 08.00 WITA. Heol!!
Tidak hanya itu, tes dalam satu hari yang seharusnya ada 5 sesi, hari itu hanya bisa sampai 2 sesi. Itupun selesai malam. Sesi 3 dan 4 dijadwalkan hari berikutnya, dan sesi 5 hari berikutnya lagi. Selain terkejut, di sisi lain saya juga merasa kasihan dengan mereka yang tes di hari itu. Dari yang saya dengar dan curhatan teman-teman di sosmed, hari itu benar-benar kacau. Ada yang menunggu sejak pagi, tapi pulangnya malam, ada yang izin cutinya hanya sehari, tapi jadwalnya diundur ke hari lain, ada yang datang jauh-jauh dari daerah hanya untuk tes tapi tidak jadi, hanya demi ikut tes yang belum pasti lulus. Ditambah dengan kekecewaan seperti itu, rasanya sangat tidak adil. Jaringan buruk memang bukan salah panitia penyelenggara, tapi seharusnya mereka memasukkan kemungkinan itu dalam rapat mereka agar jika terjadi, maka mereka bisa mengambil langkah tepat dan solusi secepatnya agar tidak merugikan peserta.
Hari Selasa saat tiba giliran saya, akhirnya saya tahu bagaimana rasanya yang dialami teman-teman kemarin. Antri untuk verifikasi berkas, stempel di tangan, titip barang, antri lagi untuk pengambilan nomor pin, dan menunggu giliran masuk ke ruangan. Kekecewaan pertama saya muncul ketika jadwal ngaret. Kami harus menunggu lebih lama, ketika matahari bersinar terang bahkan sampai hujan turun, tes belum juga di mulai.
![]() |
| Saya tiba di lokasi pukul 13.08 WITA |
Jadwal yang seharusnya pukul 14.00 saya tahu pasti di mulai setelah adzan Ashar. Saya tidak tahu tepatnya pukul berapa, karena ponsel dititip demikian juga dengan jam tangan, bahkan cincin juga tidak boleh dibawa masuk ruangan. Sebelum kami dipersilakan masuk, panitia memanggil ibu hamil untuk masuk lebih dulu. Pada titik ini saya benar-benar kagum karena ibu-ibu yang hamil besar pun masih menyempatkan diri untuk datang walau harus menunggu lama. Kami pun disuruh mengantri lagi untuk pemeriksaan sebelum masuk.
![]() |
| Antri |
Tes dilakukan di aula serba guna Kodam XIV Hasanuddin. Setelah masuk, saya terkejut, mungkin sekitar 400-500 orang dengan laptop masing-masing di hadapannya. Kalau itu ruang komputer, mungkin pemandangan itu wajar. Tapi ini aula, meja diatur dengan rapi, laptop di setiap meja, dengan kabel charger terpasang, tentu bukan pengaturan yang mudah. Kali ini saya salut pada panitia yang bertanggungjawab mengurusnya.
Saya segera mengambil tempat, tidak sesuai nomor meja padahal sebelumnya di intruksikan agar mencatat nomor meja. Karena sepertinya untuk mengefisienkan waktu, jadi duduknya tidak usah berurutan. Tes di mulai. Susah! Hahaha.
Bagi saya, soalnya susah karena selain memang kurang belajar, saya memang tidak begitu paham dengan pelajaran PKN dan Sejarah, matematika apalagi. Jawab seadanya dan hasilnya tidak memuaskan. Salah satunya tidak memenuhi passing grade, gagal! Saya bukan orang yang bisa menjawab soal yang mengandalkan ingatan dan saya bukan orang beruntung yang bisa menjadi salah satu yang terbaik dari puluhan ribu orang. Sederhananya bilang saja, saya tidak pintar dan kurang beruntung.
Keluar dari ruangan, saya melihat peserta sesi selanjutnya yang akan mulai. Jadi seperti itu rasanya saat keluar ruangan dan semua orang melihatmu. Pokoknya jalan keluar itu seperti catwalk. Peserta sesi selanjutnya pasti memperhatikan kami untuk mencari siapa tahu ada orang yang mereka kenal. Karena sebelumnya saya yang melakukan itu. Hehe.
![]() |
| Stempel di tangan, lalu antri untuk nomor pin |
Saat berjalan keluar, saya bertemu senior dan mengobrol sebentar. Katanya dia tes setelah sesi yang akan masuk sebentar lagi, dia termasuk peserta yang tidak jadi tes hari Senin. Saat itu sudah pukul 17.00 dan waktu tes adalah 90 menit, jadi dipastikan dia akan mulai malam hari. Beruntung bukan saya, tapi kembali saya kasihan dengan mereka. Waktu!
Malam hari ketika tiba di kost, saya chat dengan beberapa teman yang sudah tes. Soal kami tidak sama! Jadi yang mau tes saya sarankan tidak perlu menyontek, kerjakan saja sendiri. Datang sendirian juga tidak dianjurkan, karena kamu akan seperti anak kucing yang hilang di tengah keramaian. Haha. Serius, di sana sangat membosankan jika tidak ada teman bicara karena ponsel juga dititip, mau sok sibuk pakai apa?
Hari Rabu malam, saat chat dengan teman-teman masih seputar tes CPNS. Pukul 23.00 dan saya sudah sangat mengantuk. Saya sudah setengah tidur saat terdengar suara pintu di ketuk. Beberapa kali, dan tamu itu memanggil nama kakak saya. Suara perempuan, adik saya lalu membukakan pintu. Tamu itu teman kakak saya yang baru pulang tes. Selarut ini? Tapi saya tidak bisa bangun, kantuk sudah menguasai tubuh dan hanya pendengaran yang masih berfungsi. Tak lama kemudian kakak saya pulang, karena dari luar. Saya dengar mereka bercerita. Tamu itu ingin menginap karena kunci kost dibawa ibunya, ia dikira akan segera pulang tapi karena waktu ngaret itu maka dia terlambat pulang bahkan sangat larut. Dia tidak punya tujuan lain. Saya kemudian berpikir banyak sekali 'korban' karena tes ini.
![]() |
| Situasi saat saya pulang lewat pukul 17.00 ramai sekali |
Jadwal tes yang tidak tepat waktu, mana ada orang tes malam-malam? Setelah matahari terbenam, kinerja otak sudah berkurang karena aktifitas seharian. Belum lagi menunggu, menahan haus dan lapar, mungkin ke wc juga. Semua itu harus jadi pertimbangan. Beruntung yang bisa lulus padahal tesnya malam hari. Selain itu, peserta perempuan yang pulang malam hari, apakah keselamatan mereka tidak diperhatikan? Bagaimana jika terjadi penculikan atau begal? Siapa yang akan bertanggungjawab?
"Itu salah mereka, kenapa ikut tes?"
Jika ada yang bilang begitu, saya akan mengutuknya. Sebagai penyelenggara, seharusnya mereka memikirkan kemungkinan terburuk. Tes ini skala nasional loh! Bawa nama negara! Bukan gagal tesnya yang membuat saya kecewa, bukan sama sekali. Tapi bagaimana tes ini terlaksana yang membuat saya kecewa. Kesannya berantakan dan terlalu buru-buru. Jika tes semacam ini diadakan lagi, tolong atur jadwal dengan baik.
Terima kasih atas kesempatan turut meramaikan CPNS 2017
Semoga pelaksanaan selanjutnya bisa lebih baik.





