A D E
Malam Kamis, antara ingin curhat dan mata yang mengantuk sekali!
Annyeong...
Sapaan yang akan dia balas dengan kata yang sama. Bolehkah saya bercerita tentang seseorang malam ini? Boleh dong. Dibolehkan. Hehe...
Namanya Ade. Kami kenal baru dua tahun lalu dan komunikasi jarak jauh hingga sekarang melalui ponsel pintar, (kadang-kadang, jarang-jarang, sesekali). Dia suka naik gunung dan menjelajah kemanapun bersama teman-temannya. Seorang guru di sebuah sekolah di kampungnya yang indah sekali. Temannya banyak, ilmunya banyak. Haha. Kok saya selalu bangga ya kalau cerita tentang orang lain?
Satu hal yang paling saya ingat darinya adalah ketika dia bertanya,
"Jadimi bukumu?"
Hanya dua kata, dan akan selalu saya ingat. Pertanyaan yang mungkin baginya saat itu hanya basa-basi mengusir rasa canggung karena baru bertemu lagi. tapi bagi saya itu adalah pemicu untuk selalu menulis. Kalimat itu seolah mengingatkan saya untuk terus menulis tidak peduli apapun. Kadang kalau mood sedang buruk, pertanyaan itu selalu ampuh. Saya pasti menulis, apapun itu meski hanya curhatan tidak berguna seperti "Hari ini, saya memecahkan sebuah mangkuk."
Ah... Ade. Berkat dia, saya percaya kalau setiap orang yang hadir dalam hidup kita, pasti dihubungkan dengan benang merah. Mungkin kita tidak kenal apalagi akrab dengannya, tapi waktu sesingkat apapun yang kita lewati bersama, ada momen penting yang membuat otak mengingat dan memasukkannya dalam list yang tidak akan dilupakan.
Orang biasa, tidak akan masuk dalam postingan blog ini loh. Artinya Ade bukan orang biasa. Berhenti menganggap dirimu tidak berguna. Berhenti merasa kurang. Berhenti putus asa (Siapa gue, ngasih orang saran?). Karena di luar sana, termasuk saya, ada orang yang menemukan cahayanya berkat kamu. Padahal kamu tidak bermaksud demikian. Itulah benang merah. Menurut feng sui Cina, benang merah itu tidak akan pernah putus, hanya bisa merenggang, mengendur, atau kusut. Kita tidak pernah tahu akan bertemu dan mengenal siapa di luar sana. Tapi kita akan selalu terhubung lewat benang merah itu.
Ohh ada satu pertanyaan lagi yang pernah dia ajukan. Pertanyaan yang sangat wajar, tapi bila mengingat momennya selalu bisa membuat saya tertawa.
"Sudah meko makan?"
Jangan ketawa! Entah kenapa saat itu, pertanyaan yang bisa dia tanyakan adalah itu.
Aduh, Pak Guru. Eh kaka Ade pale.
Semoga sukses ya. Terima kasih untuk hal-hal yang tidak kamu sadari telah memberi efek positif. Mungkin saya bukan orang satu-satunya yang pernah mengalami itu, besar kemungkinan murid-muridmu juga mengalaminya.
Himne juseyo, uri seongsangnim.

0 comments