Tajuncu di Pagi Hari
Sudah lama saya tidak ke sini. Banyak yang berubah. Pagi yang sejuk, ditemani sepiring nasi goreng dan secangkir teh buatan nenek, saya sarapan dengan nikmat. Mengamati orang-orang yang lewat, berharap penjual putu datang tapi ternyata tidak. Hikss...
Satu per satu kendaraan lewat, jaman memang sudah berubah. Anak sekolah sekarang sudah berangkat menggunakan sepeda motor, dibonceng oleh orang tua atau temannya. Ada kakek yang berjalan pelan dengan senyum mengembang, ternyata ia baru saja bertemu dengan teman seperjuangannya.
Di rumah tetangga sana, ada sekelompok ibu-ibu yang bermain dengan anak kecil berumur delapan bulan, menggemaskan! Anak SD berlarian lewat di depan rumah dengan sesekali membetulkan posisi jilbabnya. Ahh...pemandangan ini selalu bisa menghibur, meski saya sendirian. Oh ya, kekecewaan karena penjual putu tidak datang terbayar dengan kebaikan tetangga membawakan buroncong panas. Saya seperti manusia yang baru melihat brontosaurus, takjub, bahagia, tak terhingga.
Sekuat tenaga saya menghabiskan nasi goreng, ternyata traumanya masih ada. Ahh sudahlah. Sementara saya menikmati buroncong panas, tiba-tiba ada 3 tiga mobil putih berhenti di depan rumah. Cek per cek, mereka singgah belanja di toko samping rumah. Kukira tamu -_-
The End

0 comments