Cerita Lain untuk Tsunami Palu - Donggala

by - Oktober 04, 2018

Bismillahirrahmanirrahim...

Jumat, 28 September 2018, saya di Soppeng hari itu. Saat itu saya sedang menonton santai sambil menunggu waktu petang. Magrib tiba, suara adzan berkumandang. Tiba-tiba saya merasakan rumah bergoyang. Untuk sejenak saya berpikir kalau itu disebabkan seseorang yang sedang berlari naik tangga, berhubung karena rumah saya rumah panggung. Saya berpikir, siapa orang yang bertamu magrib begini, buru-buru lagi! Tapi rumah masih bergoyang dan tak kunjung kedengaran suara orang mengetuk atau mengucapkan salam. Lalu ada ayam yang berkokok, jadi saya pikir lagi kalau mungkin ayam yang sedang bertengger di kolong rumah dan mengepak-ngepak sayapnya. Sungguh itu adalah pikiran saya yang paling bodoh. Sampai suara kokok ayam hilang, saya menoleh ke jendela, gorden berayun, jelas jantung saya bergemuruh, ada apa ini?

Saya berlari turun menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, tapi hal yang saya lihat menjelaskan segalanya. Air dalam bak yang hampir setinggi dada orang dewasa, bergoyang seperti wadah yang habis disenggol. hanya butuh sepersekian detik bagi saya untuk menyadari kalau itu gempa. Langkah kaki saya tertahan di depan pintu kamar mandi, tapi akhirnya masuk juga. Adzan masih berkumandang saat kejadian itu selesai. Setelah adzan selesai, barulah saya mendengar tetangga berteriak, "Kedo tanae!" yang artinya (Tanah bergoyang!) alias gempa.

Lega. Tapi ternyata di Kabupaten Donggala, Palu dampak terbesar dari gempa itu. Dan tidak sesederhana itu sayang, saudara kita di sana terkena tsunami dengan gempa berkekuatan 7.7 skala richter! Saya benar-benar shock dan merasa bersalah karena mengira itu hanya gempa kecil yang tidak berbahaya. Tapi sekarang, sudah banyak korban meninggal, luka-luka, dan kehilangan harta benda. Berbagai bantuan pun datang dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri.

Hati terasa hanyut setiap ada berita tentang Palu. Semua berita itu membuat merinding. Belum lagi orang-orang baik yang berangkat untuk menjadi relawan di sana, saat saya tidak bisa melakukan hal yang sama! 

Bapak Bupati Soppeng sudah berangkat ke sana dengan membawa makanan, minuman, pakaian, tim medis, dan sukarelawan lain untuk membantu korban gempa. Mereka melakukan perjalanan darat untuk menolong saudara kita. Hari ini mereka kembali dengan membawa korban gempa yang ingin ikut pulang. Jantung bergemuruh hebat saat sirine polisi dan ambulance terdengar meraung-raung membelah langit Soppeng siang ini. Mereka selamat, mereka kembali. Alhamdulillah...

Meskipun tidak semuanya, setidaknya ini bisa sedikit meringankan, pengungsi di sana sedikit berkurang dan tim relawan bisa lebih fokus menolong mereka yang tersisa.

Ini masih belum berakhir, kita tahu masih banyak hal yang akan terjadi. Kita berdoa saja, semoga hal ini cepat berlalu dan saudara kita segera pulih, baik itu secara fisik maupun mental. Materi? hal seperti itu masih bisa dicari.

You May Also Like

0 comments