Euforia Tes CPNS 2018
Angkat tangan yang ikut tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun ini? Tesnya sudah selesai? Lolos? Saya sih sudah, dan sekarang akan saya ceritakan pengalaman saya yang ketiga kalinya ikut tes ini.
Saya daftar di Pemkab Bantaeng, tes di BKN Regional IV, Makassar. Sesi 2 pukul 10.00 pagi.
Meski di jadwal tesnya pukul 10.00 pagi, tapi peserta diwajibkan datang 90 menit sebelum tes dimulai. Kenapa? Karena waktu untuk registrasi dan persiapan lainnya luar biasa lama. Tentu saja, peserta tidak hanya 10-20 orang, tapi ratusan hingga ribuan.
Saya berangkat pukul delapan pagi, begitu tiba di BKN, panitianya sudah teriak pakai toa, "Bantaeng Sesi 2, silakan masuk untuk registrasi!" jadi saya ikuti peserta lainnya yang jalan lebih dulu. Oh ya, kami diminta memakai pita merah di lengan kanan. Itu memudahkan kami untuk berkumpul sesama teman sesi 2. Oke sih idenya.
Tiba di tempat ruang tunggu 1, sudah banyak orang. Hahaha. Kami harus antri untuk melakukan registrasi. Tidak terlalu lama, akhirnya maju untuk registrasi. Kami berbaris terpisah laki-laki dan perempuan. Maju satu persatu, diperiksa, diraba (tentu saja panitia yang memeriksa juga perempuan, laki-lakinya ya diperiksa sama laki-laki juga). Semua aksesoris harus dilepas, jam tangan, kalung, ikat pinggang, termasuk anting dan bros juga.
Selesai pemeriksaan, ada tempat penitipan barang. Kami menitipkan barang dan hanya boleh membawa kartu tes dan KTP. Setelah ini tidak ada lagi foto karena semua barang sudah dititip. Selanjutnya menuju meja panitia untuk menyerahkan lembaran kartu panitia, mendapatkan tanda tangan panitia ujian dan stempel untuk tes. Setelah itu memperlihatkan KTP dan Kartu Tes untuk mendapatkan nomor Pin.
Setelah mendapatkan nomor pin, kami bertumpuk lagi untuk tanda tangan daftar hadir. Untuk bagian ini saya juga suka karena panitia sudah memisahkan daftar hadir per-100 nama, jadi kami sisa berbaris sesuai nomor urut peserta yang kami miliki. Maka dari itu penting untuk mengingat nomor peserta di lampiran pegumuman peserta yang lulus seleksi berkas. Tanda tangan dilakukan dua kali. Setelah itu, mencelupkan jari ke dalam tinta seperti saat pemilu. Kalau tahun sebelumnya sih pakai stempel SSCN di punggung tangan, tidak tahu kenapa kali ini berubah.
Setelah diberi 'tanda' (tinta pada jari) kami masuk di ruang tunggu ke dua. Oh saya lupa, saya tidak punya teman, tidak kenal siapapun, jadi saya hanya diam menunggu. Ada beberapa sih yang saya kenal, tapi setelah registrasi mereka seperti menghilang entah kemana. Oke, saya bisa sendiri. Iri juga mendengar peserta lain berbincang dengan teman-teman mereka, bercanda melepas ketegangan. Saya tidak. Hikss...
Sementara menunggu, tiba-tiba panitia memanggil, "Ibu hamil, ke depan!"
Mungkin ada belasan peserta yang sedang hamil, mereka ke depan mengikuti arahan panitia. Ini yang saya suka setiap tes CPNS, bagaimana mereka memedulikan orang hamil dan siaga penuh jika ada sesuatu yang mendadak terjadi. Tiba-tiba mules mau melahirkan misalnya. Tapi yang saya liat, tidak ada yang hamil besar banget, mungkin baru sekitar 4 bulan yang paling besar. Mereka diberi tempat duduk di ruang tunggu lainnya, yang lebih adem dan tenang.
Kita menunggu nggak tahu waktu ya, karena jam tangan dilepas. Pokoknya selama menunggu, ada banyak pesawat yang mendarat. Karena tahu sendiri kan, kalau BKN bisa dibilang dekat dengan bandara. Yaaa hitung-hitung pemandangan gratis. Kapan lagi bisa melihat pesawat lalu lalang dalam jarak dekat?
Waktu menunggu selesai, kami diminta berbaris kembali sebelum masuk ke gedung utama BKN. Menunjukkan KTP, kartu tes, dan tinta di jari. Di kawal polisi, kami berbaris memasuki gedung, satu persatu, melangkah menaiki tangga, melintasi koridor. Saat tiba di lantai dua, kami kembali berbaris dan diperiksa satu persatu KTP dan kartu tes, kalau sebelumnya diperiksa oleh panitia, kali ini giliran polisi (yang kalau saya lihat semuanya polisi muda).
Setelah itu, pemeriksaan akhir. Kami kembali diperiksa satu persatu, mulai dari peniti jilbab, pergelangan, leher, sampai pakaian dalam. Saya melihat beberapa orang yang ditemukan masih memakai anting, dan risikonya mereka harus kembali menitipkan antingnya di tempat penitipan barang. Tentu saja dikawal polisi lagi. Sebelumnya kami disuruh melepas sepatu. Setelah selesai, sepatu ditenteng dan bisa dipasang kembali di depan pintu masuk ruang ujian.
Assalamu alaikum, saya tiba di ruang ujian. Gugup sekaligus terpesona. Di ruangan yang luas itu sangat sejuk dan penuh dengan laptop dan komputer yang berbaris rapi. Kalau tidak salah, saya mendengar kami ada 600 orang dalam ruangan itu. Yang artinya juga ada 600 laptop + komputer yang sudah terpasang pada aplikasi CAT (Tepuk tangan dulu). Saya duduk di depan sebuah laptop yang dari tiga baris di depan saya ada cermin besar. Oke, ini menarik.
Setelah semua masuk, peserta lengkap, panitia masih berbaik hati mengizinkan siapapun yang ingin ke toilet. Beberapa orang pun memanfaatkan kesempatan itu. Kami di dalam ruangan diajak berbicang, mungkin untuk mengurangi kegugupan. Salah satu panitia bertanya, "Siapa yang sudah berkeluarga? Siapa yang masih single? Ada cumlaude? Ada ibu hamil?" Pertanyaan semacam itu. Kami tertawa mendengarnya, lumayan merilekskan pikiran.
Ujian dimulai.
Saya benar-benar fokus selama 90 menit itu. Tepat seperti yang teman saya katakan, soalnya panjang kali lebar, susah karena banyak jawaban yang mirip. Ruang ujian tenang, hanya terdengar suara mouse yang di klik. Setelah 90 menit berlalu, ujian selesai. Daebak! Tidak satupun dari ruangan itu yang melebihi passing grade. Termasuk saya.
Suara-suara heboh mulai terdengar saat kami keluar ruangan. Sepertinya di ruangan lain juga sama, tidak ada yang lolos. Tiba di lantai bawah kami kembali harus mengantri untuk mengambil barang yang dititipkan. Berdesakan, lama! Menurut saya, dari semua yang terjadi hari ini, bagian mengambil barang adalah yang paling tidak memuaskan.
Sekitar 30 menit berdesakan, akhirnya selesai. Saya keluar dengan ransel di punggung dan menemui dua peserta yang tadi menitip barangnya di tas saya. Kami berpisah dan saya menunggu jemputan.
Sudah siang, adzan terdengar saat tadi detik-detik terakhir kami ujian. Saya menunggu di bawah pohon, menatap pesawat yang lalu lalang hendak mendarat. Lumayan menghibur, saya selalu suka melihat pesawat apalagi dari BKN, ukuran pesawatnya terlihat lebih besar, suaranya juga lebih berisik.
Alhamdulillah ya Allah, semua sudah dilalui.
Terima kasih panitia SSCN
Terima kasih BKN Makassar
Terima kasih pesawat terbang
Terima kasih Icha
Terima kasih waktu

0 comments