Selamat Jalan Oi
Mei 2017, kira-kira sekitaran itu kamu lahir. Karena ibumu mengeluarkanmu dari tempat persembunyian saat kalian berdua sudah bisa berjalan dan berlari dengan lincah. Kamu kembar.
Saudaramu kuberi nama Ai dan untukmu Oi. Aku suka sekali nama itu. Oi bahkan menjadi salah satu tokoh dalam buku yang kuterbitkan, Eldorado.
Awal bertemu, kalian takut dan selalu menjauh, tidak ingin disentuh. Tapi giliran lapar, kalian selalu mengeong, tidak berhenti sampai diberi makan.
Saat Yippo, ibu kalian mati tak lama kemudian, saya berjanji akan merawat kalian berdua. Kalian mulai akrab dan mau disentuh. Saya paling suka menggaruk leher dan kepalamu. Kamu menyukainya.
Saya suka sekali bulu Oi yang cokelat kemerahan dengan corak loreng. Sedangkan Ai totol-totol. CANTIK! Badannya besar, gemuk berisi. Nyaman dielus dan dipeluk.
Kamu selalu mengeong saat saya akan keluar rumah, begitupula saat pulang, seolah kamu sengaja menunggu saya untuk memberi salam.
Saat Ai hamil besar, perubahan ditubuhmu terlihat. Kamu terlihat kurus dan itu membuat saya khawatir. Takut kamu telah makan racun entah dimana, jadi saya memberimu air kelapa. Kamu sudah hilang nafsu makan dan rasa khawatir semakin besar.
Berselang beberapa hari, nafsu makanmu kembali. Tapi tubuhmu tetap kurus sementara perutmu bertambah besar. Saya searching dan menemukan kalau mungkin kamu cacingan. Jadi saya memberi Combantrin. Menurut artikel yang saya baca, efek dari obat itu adalah nafsu makan kurang dan lancar buang air. Tapi yang kulihat kamu justru lebih suka makan. Perutmu bertambah besar dan mulai melambat saat jalan. Lebih banyak duduk dan berbaring. Kamu tertatih saat saya memanggilmu untuk makan.
Seandainya saya tahu pagi tadi adalah terakhir kalinya kamu di sini. Seharusnya saya memberi elusan lagi di kepalamu, menggaruk lehermu dan mengucapkan selamat tinggal dengan pantas. Tapi tidak. Malam ini tidak ada lagi suaramu yang mengeong minta makan. Maaf.
Maaf Oi. Maaf karena tidak merawat dan menjagamu dengan baik. Mungkin sekarang saya dihukum dengan rasa kehilangan lagi. Semoga kamu tenang di sana. Semoga anak-anak Ai sehat dan bisa menemani ibunya agar ia tidak kesepian. Saudaranya sudah pergi. Maaf Oi, maaf Ai. Kucing cantik yang Tuhan titipkan di rumah kami.

0 comments