Bagaimana Kalau Kita Menikah?
Mengawali tahun 2020 kita mulai dengan tema 'MENIKAH', well mungkin karena akhirnya saya benar-benar berpikir untuk menyempurnakan separuh agama. Insya Allah...
Kadang, saya berpikir, jika memang kesempatan itu datang dan saya menikah, apakah saya benar-benar siap dan mampu? Apa yang akan saya lakukan? Bagaimana reaksi keluarga, saudara, dan teman-teman? Tapi ujung-ujungnya saya sendiri yang mengusir pikiran itu jauh-jauh.
Saat kesempatan itu datang, istikharah. Hanya Allah satu-satunya petunjuk yang benar. Jangan kebelet menikah karena teman-teman juga sudah menikah. Ini penjelasannya kembali lagi ke titik 'level kebahagiaan setiap orang berbeda-beda'. Saya pikir yang penting mental dan batin siap. Menikahlah saat sudah siap.
Saya? Siap? Kok belum menikah?
"Gak ada calonnyaaaa.....!"
Mau menikah sama siapa? Saat ini saya sedang tidak suka sama seseorang, mengagumi seseorang pun tidak. Cuma idol kpop yang jelas-jelas cuma khayalan.
Saya tuh pengeeeen banget belajar agama yang lebih dalam. Tapi sepertinya saya tidak siap dengan semua pelanggaran yang telah saya lakukan. Pasti sangat banyak! Jadi pelan-pelan saja, lakukan satu persatu. Demikian dengan pasangan hidup. Saya ingin menikah dengan pria yang sholat wajibnya di masjid.
Tapi tiba-tiba saya ingat, saya punya banyak dosa. Allah Maha Baik terlalu sayang pada saya hingga aib-aib saya tidak terlihat di mata semua orang. Apakah masih pantas saya menginginkan pria yang demikian tadi?
Kemudian merenung, istigfar berulang kali, kemudian berdoa.
Ya Allah......Saya tidak tahu ingin memohon apalagi setelah banyaknya rezeki yang Allah berikan meskipun tidak diminta.
Jadi....
Ya Allah, kapan seseorang akan datang dan bertanya kepada saya, " Bagaimana kalau kita menikah?" dengan penuh kegugupan dan seluruh ketulusan yang ia punya?

0 comments