Euforia Tes CPNS Kabupaten Wajo 2020
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apa kabar teman-teman yang sudah melalui tahap SKD (Standar Kompetensi Dasar)? Lolos? Alhamdulillah. Tidak? Alhamdulillah, Allah pasti punya rencana lain.
Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya ikut tes CPNS tahun 2020 di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Coba simak, mungkin pengalaman kita sama. Baca dulu sampai selesai, karena di sini saya membahas alasan kenapa saya ikut tes.
Berawal dari masa pengumuman formasi dari semua instansi, saya yang disibukkan dengan hal lain tidak tahu sama sekali tentang hal ini. Saya justru baru tahu saat beberapa teman mengirim chat berikut dokumen yang menunjukkan formasi yang sesuai untuk jurusan kami. Well, tidak perlu berpikir berulangkali, saya memilih Wajo.
Selain jumlah yang dibutuhkan lumayan, dan dari semua tempat, Wajo adalah lokasi paling dekat dari Soppeng. Kenapa saya tidak mendaftar di Soppeng? Satu, yang dibutuhkan hanya 1 orang CUMLAUDE. Oke, belum apa-apa saya sudah tersingkir. Dua, persyaratan berkas di Soppeng amat sangat rempong nan merepotkan. Saya ingat teman-teman saya yang kelimpungan fotokopi, legalisir semua berkas persyaratan, setelah itu dibawa ke kantor pos dan dikirim ke kantor BKPSDM. Padahal jarak ke kantor BKPSDM Soppeng sangat dekat. Setelah pengumuman lulus berkas pun, peserta yang dinyatakan lulus harus datang ke Soppeng untuk mengesahkan kartu ujian. Beruntung kalau pesertanya tinggal di Soppeng, kalau dari Bulukumba misalnya?
Metode ini mungkin untuk memudahkan peserta dan panitia mengenai pemberkasan kedepannya. Namun saya kurang tahu detailnya bagaimana.
Saat pengumuman lulus berkas, entah apa yang saya lakukan saat itu. Saya tidak sempat melihat pengumuman sama sekali hingga seorang teman mengirimkan chat saat saya hendak tidur. Dia mengirim screenshot nama dan nomor register yang menyatakan bahwa saya lulus berkas. Saya dan teman ini sudah lama tidak saling kontak. Dia sudah lulus CPNS mungkin sekitar 3 tahun lalu. Tiba-tiba datang chat seperti itu. Dari mana dia tahu kalau itu nama saya, bisa saja kan mirip. Dan dari banyaknya peserta, bisa-bisanya dia menemukan nama saya. Lucu, tapi bersyukur. Bertambah orang yang mendoakan saya lulus tahun ini.
Beberapa waktu kemudian, jadwal tes diumumkan. Lagi, saya tahu tentang ini dari teman-teman. Saya bahkan tidak perlu repot melihat pengumuman, scroll pengumuman yang puluhan lembar. Ada teman-teman yang siap memberitahu meski tanpa diminta. Diam-diam saya kembali merasa bersyukur.
Di grup WhatsApp tiba-tiba ada permintaan masuk grup. Grup CPNS KAB. WAJO. Tidak semua, tapi banyak peserta dari berbagai daerah yang tergabung dalam grup ini. Berbagai informasi mulai datang. Tapi kebanyakan bertanya tentang penginapan yang bisa digunakan dan tentu lokasinya dekat dengan tempat tes. Ini ditanyakan oleh peserta dari luar daerah yang cukup jauh. Soppeng kan dekat, hanya sekitar 1-2 jam sudah tiba.
Jadwal tes saya tanggal 18 Februari, pukul 08.00 pagi! Siapa yang akan menemani saya ke lokasi? Bagaimana cara saya ke sana? Apa yang harus saya lakukan? Pertanyaan itu berputar di kepala hingga saya hampir menyerah, tidak usah ikut. Saya bahkan tidak berkeinginan untuk lolos, apalagi ikut tes. Tapi kurang lebih 1 minggu sebelum tes, keinginan untuk ikut tes muncul dalam hati saya.
Sebenarnya saya menonton drama korea yang salah satu pemerannya mengatakan, "Setelah menangis dua hari, akhirnya aku merelakan mimpiku." Kalimat itu seolah menyinggung bahwa saya memilih menyerah bahkan sebelum bertarung. Karena itu saya memutuskan untuk ikut tes entah bagaimanapun caranya, Tuhan pasti menunjukkan jalan. Tekad saya sudah bulat.
Tiba-tiba berharap lulus tahun ini. Setiap sholat selalu mendoakan hal yang sama berulang-ulang, semoga saya lolos. Urusan menjadi orang baik tergantung dari saya sendiri, kan? Itu bukan urusan orang lain. Saya mulai belajar dan membuka soal-soal yang sudah ada di ponsel sejak tahun lalu. Cek-cek di youtube tips dan trik serta contoh soal. Pokoknya berusaha supaya setidaknya, kepala saya ada isinya sebelum masuk ruangan tes.
Dan sehari sebelum tes, saya dan dua orang teman berangkat ke Sengkang. Mereka berdua tes hari itu dan di jam yang sama. Saya menunggu mereka di depan kantor BKPSDM sejak jam 3 sore.
Sembari mereka di ruangan, saya menunggu di luar sambil memerhatikan televisi yang disiapkan panitia. Dalam televisi itu ada daftar nama dan nilai yang terus berubah sesuai usaha teman-teman di ruangan yang mengerjakan soal. Banyak yang nilainya tinggi untuk 3 jenis ujian (TWK, TIU, TKP). Seketika saya menciut, apakah saya sanggup seperti mereka atau setidaknya lulus passing grade (Standar Kelulusan). TWK=65, TIU=80, TKP=126 dengan total keseluruhan adalah 271. Untuk nilai 271, mungkin saya bisa lebih dari itu. Tapi untuk lolos di setiap standar kelulusan, saya tidak yakin. Saya lemah di TIU dan biasa-biasa saja di TWK dan TKP. Maghrib tiba dan teman-teman saya keluar dengan hasil memuaskan. Keduanya lulus passing grade.
Malam sebelum tes, teman saya menyarankan agar belajar keras terutama TIU. Jadilah saya menonton video pembahasan soal sampai ketiduran. Tidur nyenyak, bangun lebih cepat dari adzan subuh, mandi lebih pagi, dan bersiap dengan kostum hitam putih.
Hari H tiba. Jadwal saya hari Selasa pukul 08.00 pagi. Sekitar jam 7 saya bersama teman sudah di lokasi. Begitu tiba langsung ditanya KTP dan kartu ujian, saya segera memperlihatkan dan dipersilakan masuk. Saya memasuki halaman gedung kantor BKPSDM dan langsung disambut oleh panitia, seorang ibu yang meraba (memeriksa) seluruh badan sebelum masuk untuk registrasi. Proses registrasi tidak terlalu lama, dilanjutkan ke penitipan barang, dan ruang tunggu. Di ruang tunggu kami menerima sedikit pengarahan dan kesempatan ke kamar kecil. Hanya beberapa menit, dan kami kembali bergerak ke lantai dua untuk melakukan pemeriksaan akhir. Kami diperiksa oleh polwan yang berjejer di depan ruang tes. Tidak ada perhiasan, bros jilbab (hanya peniti yang boleh), ikat pinggang, jam tangan, bahkan ciput (dalaman jilbab) juga tidak boleh masuk ke ruang tes. Yang bisa dibawa masuk hanya kartu ujian dan KTP.
Memasuki ruang tes, yang terasa pertama kali adalah atmosfer yang begitu berbeda. Senyap dan.....dingin. Hahaha. Tempat duduk yang rapat dan komputer yang tertata rapi siap menyambut kami. Dannn.... yang saya sukai setiap kali tes CPNS adalah peserta laki-laki dan perempuan terpisah. Meski satu ruangan tapi tempat kami tetap dipisah. Dan juga, selalu ada pengecualian khusus untuk ibu hamil.
Baca doa, bismillah, tes dimulai.
Sembilan puluh menit selanjutnya, saya larut dalam soal-soal yang ada di depan mata. Kali ini saya kenal banyak soal. Sembari mengerjakan soal, saya berkata, kalau saya tidak lulus passing grade pasti rasanya sedih karena kedua teman saya kemarin lulus. Tapi tidak masalah juga kalau gagal, karena setidaknya saya benar-benar berusaha dengan belajar dan berdoa. Allah pasti kasih yang terbaik, kan?
Tiga puluh menit tersisa dan masih ada separuh soal yang belum dikerjakan. Saya mempercepat mengerjakan soal dan 2 menit terakhir saya tidak sanggup lagi membaca soal yang cukup panjang dan beberapa perhitungan yang tidak dimengerti. Dengan sisa waktu 2 menit itu, saya menjawab soal dengan pilihan hati begitu saja. Dan 8 detik terakhir saya menekan tombol selesai. Pertanyaan untuk mengakhiri tes muncul di layar dan saya menekan YA.
Menghirup napas berat, dalam sekejap nilai tes muncul di layar. TWK 75, TIU 115, dan TKP 135, total 323. Nilai yang cukup rendah tapi LULUS PASSING GRADE. Saya merasakan keajaiban dunia yang ke sekian kalinya. Nilai TIU diatas 100 adalah keajaiban bagi saya yang lemah dalam matematika. Puas!!!! Tapi saya tidak bereaksi apa-apa, harus tetap tenang karena saya tahu banyak peserta lain di sesi sebelumnya yang nilainya lebih tinggi. Diam-diam saya melirik peserta di samping kiri dan kanan, mereka tidak lulus passing grade. Tapi bukan hanya itu, nilai TWK 35? TIU 25? What? Saya tercengang, tapi mungkin ini pengalaman pertama mereka ikut tes, jadi wajar jika belum tahu.
Kami keluar ruangan dengan peserta perempuan dipersilakan lebih dulu. Sebelum meninggalkan tempat, saya menulis 감사합나다 di kertas buram. Tapi sepertinya panitia tidak melihatnya. Tapi seandainya mereka melihatnya, mungkin mereka tidak bisa membacanya. Padahal jika mereka tahu, itu artinya adalah "Terimakasih".
Dan itu yang ingin saya sampaikan kepada seluruh panitia yang sudah bekerja keras agar kami bisa melakukan tes dengan nyaman. Terima kasih pada BKPSDM Wajo, pihak dari BKN, dan pihak lain yang terlibat dalam tes kami di Kabupaten Wajo tanggal 15 sampai 18 Februari 2020. Apapun hasilnya nanti, pokoknya terimakasih atas semuanya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Aamiin.
Alhamdulillah...
Ya Allah, terimakasih atas kesempatan yang Kau berikan. Izinkan hamba melakukan yang terbaik.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


0 comments