Kenapa Kita Shalat?

by - Juli 27, 2020

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dunia sudah semakin tua, berbagai bencana dan fenomena terjadi secara berkala. Hampir setiap pagi, mesjid mengumumkan bahwa seseorang meninggal dunia. Masihkah kita sempat berbuat baik? Siapa yang bisa menjamin bahwa nanti kita masih hidup?

Alasan seseorang shalat tentulah karena keyakinannya. Seseorang shalat karena dia islam. Tapi kita tidak berhak mengukur keimanan seseorang hanya dari shalatnya.

Saya pribadi, selalu berusaha untuk shalat tepat waktu dan nyaris tidak pernah ditinggalkan. Bangga? Buat apa? Shalat adalah kewajiban. Adalah hal wajar jika kita semua melakukannya. Saya juga tidak yakin kalau semua shalat saya diterima. Makanya terus diulang, terus diulang! Diperbaiki.

Setelah kematian, tidak ada yang tahu bagaimana nasib kita. Tapi beberapa minggu yang lalu, saya membacanya. Entah benar atau tidak, malam pertama di dalam kubur, roh kita dikembalikan ke tubuh yang hanya terbungkus kain kafan. Sebelum membaca kalimat selanjutnya saya sudah ketakutan. Berada ditempat sesak dan gelap, sendirian!!! Astagfirullah. Dan saat itu yang bisa menemani kita hanyalah Al Qur'an yang sering kita baca. Seharusnya saya rajin mengaji dari dulu, bukan setelah dewasa saja!

Anggaplah kita selamat dari alam kubur dan melanjutkan ke tahap selanjutnya. Ini semakin membuat tercengang. Perjalanan kita setelah mati jauh lebih panjang dan lebih lama daripada saat hidup di dunia. Mati tidak langsung berakhir di surga atau neraka. Banyak tahapan yang harus dilalui. Nah, yang pertama adalah shalat.

Jika shalat saja tidak beres, bagaimana mungkin kita lolos ke tahap selanjutnya? Saya tidak mau melakukan ini itu tapi lupa hal penting ini yang membuat semuanya sia-sia. Tapi kata Allah, tidak ada kebaikan yang sia-sia.

Namun tetap saja, shalat adalah kewajiban.

Adakah satu diantara kita yang yakin bahwa selama hidupnya tidak pernah bermaksiat? Atau melakukan dosa yang langsung memusnahkan semua kebaikan yang telah dilakukan. Mungkin di buku catatan kedua malaikat kita, mereka menggambar grafik naik turun berdasarkan amal dan dosa yang kita lakukan.

Kita mungkin tidak bisa melakukan semua amalan baik yang Allah perintahkan. Tapi kita bisa melakukan salah duanya dengan konsisten. Saya orang yang introvert, bahkan untuk memberikan sedekah secara langsung saya malu. Makanya saya lebih memilih memasukkan ke celengan mesjid, donasi lewat kitabisa, dan yang paling mudah, puasa.

Ibadah.

Ada banyak sekali yang bisa kita lakukan sebagai bukti ketaatan kita padaNya. Banyak sekali. Dari yang kecil hingga yang besar.

Jadi kenapa kita tidak bisa menyempurnakan shalat lima waktu yang merupakan rukun islam kedua?

Kita muslim/muslimah, kan?

You May Also Like

1 comments

  1. Terima kasih. Saya jadi merasa diingatkan lagi.

    BalasHapus