Halsuisseo!
Assalamualaikum..
Penghujung bulan September, yang ingin saya ceritakan ada baaaaaaanyak sekali. Dari yang menyebalkan hingga yang menyenangkan. Tapi saya hanya akan berbagi yang menyenangkan. Hehe.
Pertama, karena perbatasan sudah dibuka kembali, saya akhirnya bisa ke Makassar lagi. Kakak saya akan pulang ke Gorontalo, jadi saya dan si bungsu ke Makassar dengan sepeda motor, lagi!Asli pegalnya, capeknya luar biasa.
Di Makassar, kami mengunjungi ekowisata mangrove di Lantebung. Sudah tiga kali saya ke sana, dan tidak pernah bosan. Karena setiap ke sana, pasti ada sesuatu yang baru, dan biaya masuknya hanya lima ribu rupiah per orang. Murah sekali, bukan? Di sana kami berfoto sampai puas. Haha. Kalian bisa melihatnya di Video perjalanan kami di Lantebung, Makassar
Saya juga bertemu teman SD, yang suka sekali bercerita. Ia menceritakan kehidupannya yang kini sudah menikah dan punya dua anak. Dia adalah teman yang selalu menganggap saya lebih baik dari dia, padahal sebenarnya tidak. Saya tidaklah sebaik yang ia pikir. Padahal sebaliknya, kadang saya juga menganggap hidupnya lebih baik daripada saya.
Selain teman SD, saya juga bertemu teman-teman lain, dan nongkrong di kafe dari sore sampai malam hanya untuk reuni kecil-kecilan. Tentu saja mematuhi protokol kesehatan, jaga jarak dan pakai masker! Di sanalah saya mendengar cerita yang selama ini saya tidak tahu. Saya tidak menyangka ceritanya bisa membuat saya menangis. Beban fisik dan mental pernah menyerangnya saat saya menganggap hidupnya lebih dari sekadar baik-baik saja. Saya memeluknya sebelum kami berpisah. Adik cantik yang cerewet. Hehe
Dan pulang ke Soppeng, di akhir triwulan latihan memanah, coach meminta saya mulai latihan scoring dengan jarak sepuluh meter. Gila, kan? Tiba-tiba pindah dari lima meter ke sepuluh meter, anak panah mendarat di luar ring dong. Haha. Namun akhirnya tetap scoring, segala sesuatu pasti punya awalnya, kan?
Latihan scoring pertama dengan jarak 10 meter, ring 10 cincin, skor saya hanya 163. Rendah sekali, karena setahu saya skor minimal adalah 200. Tapi kata coach itu termasuk nilai tinggi. Entah karena alasan apa. Setiap minggu berlatih memanah, setiap pagi push up, sit up, dan plank, lumayan membuat perut rata. Sambil scoring sambil memperbaiki teknik dan tahu letak kesalahan. Saya sampai membeli bantalan kecil untuk target, sarung busur, dan pesan jersey. Coach mengumumkan akan diadakan Ujian Kompetensi Memanah dan Latihan Bersama di akhir bulan, jadi kami semakin giat berlatih dan menjaga fisik agar tetap sehat.
Saya dan teman-teman berlatih keras hingga beberapa kali latihan diluar jadwal untuk memperbaiki teknik sebelum sibuk menghitung skor. Karena itu, dua hari sebelum ujian coach menyampaikan agar sehari sebelum ujian, tidak ada latihan agar otot beristirahat. Kami semua patuh. Ini adalah salah satu yang saya rasakan sejak ikut kelas panahan. Tidak bandel dan mau mendengar arahan coach. Bukan hanya orang dewasa tapi juga anak-anak. Ya, ada anak-anak juga. Dan kebanyakan dari mereka disiapkan untuk menjadi atlet, jadi mereka menggunakan busur standart.
Untuk kami, orang dewasa, rata-rata menggunakan busur tradisional horsebow. Kenapa begitu? Tergantung pilihan, coach mempersilakan kami memilih untuk menekuni busur yang mana.
Sehari sebelum ujian dilaksanakan, masa haid saya datang. Kejutan yang tidak disangka sama sekali. Karena biasanya kalau sedang haid apalagi hari pertama dan kedua, saya nyaris tidak bisa bergerak. Seluruh tubuh serasa memar dan perut sakitnya minta ampun. Itu adalah hal yang saya cemaskan sambil menunggu hari ini datang.
Ditambah lagi, sejak malam hingga pagi, hujan tak kunjung berhenti. saya telat tiba di lokasi dan lupa membawa karet stretching. Akhirnya dihukum dengan sepuluh kali push up, di atas rumput, di depan semua peserta. Malu. Pelajaran kan, lain kali jangan lupakan itu lagi.
Oke. Pemanasan dilakukan, pengunjung dan wali atau orang tua peserta yang datang
memaksimalkan kesempatan ini untuk mengabadikan foto anak-anak mereka. Dalam hati saya berkata, seandainya saya kenal panahan sejak dulu. Tapi tidak ada yang perlu disesali, toh sekarang saya tetap bisa memanah meski tidak harus jadi atlet. Saya memang tidak berkeinginan jadi atlet, saya hanya ingin bermain panahan dalam waktu yang lama. Kalau perlu sampai tua, sampai semua rambut memutih, sampai saya tidak sanggup berdiri lagi. Saya berharap, saat itupun masih kuat menarik busur. Insyaa Allah.
Setelah disiram hujan sepagian, saat tiba di lokasi sekitar pukul delapan, cuaca cerah ceria. Matahari terang benderang, awan tersibak, langit biru memesona. Semangat untuk ujian panahan semakin berkobar. Dengan satu aba-aba, coach meniup sempritan. Kami bergerak maju ke shooting lain (garis untuk menembak). Sempritan kedua, kami mulai menembak. Satu persatu anak panah melesat cepat menuju target yang terpasang di depan kami. Oh iya, saya dan kedua peserta lainnya ujian di jarak sepuluh meter. Sedangkan sisanya ujian di jarak lima meter. Bantalan target kami lebih jauh lima meter dengan shooting lain yang sama. Saya menarik napas, meraih anak panah dan mengucap bismillah sebelum menarik busur.
Sambil fokus menatap target, saya tarik tali busur hingga menyentuh rahang, memicingkan mata dan realese (melepas anak panah). Anak panah melesat ke target secepat kilat. Anak panah pertama saya jatuh di angka delapan. Awal yang cukup baik. Kami hanya dibekali dengan tiga anak panah. Jadi setiap selesai tiga tembakan, kami akan mencatat skor dan mencabut anak panah dari papan target dan mengulangi lagi hingga sepuluh kali. Artinya kami menembak sebanyak tiga puluh kali, dan bolak balik mencabut anak panah sebanyak sepuluh kali hingga pukul sebelas siang! Panaaasss.
Cuaca yang terik membuat kami kelelahan. Tapi tidak menyurutkan semangat sama sekali. Apalagi saya yang sedang haid. Baru kali ini, mood saya sangat baik ditengah pengaruh hormon yang tidak stabil. Tidak sekalipun saya merasa kesal atau marah terhadap sesuatu. Karena semuanya menyenangkan! Serius. Cobalah, dengan
niat yang ikhlas, rasa senang itu selalu terasa jika kita memanah.
Setelah berjam-jam di bawah terik matahari, akhirnya ujian selesai. Haus, gerah, lapar, dan kulit gosong. Coach mengumumkan nama dan skor masing-masing, satu persatu. Dari kami bertiga, target jarak sepuluh meter, skor milik saya yang paling tinggi dan dinyatakan lulus. Saya bisa naik ke jarak lima belas meter.
Keren sih, bangga, bahagia. Ternyata Rasulullah menitipkan olahraga sekeren ini untuk kita. Yang paling saya rasakan adalah, tidak sekalipun jika pulang dari memanah, saya memiliki sesuatu untuk disesalkan atau dikeluhkan. Semuanya menyenangkan, memuaskan. Alhamdulillah...
Hingga sekarang, rasa senang itu tetap terasa, bahkan saya menunggu kapan jadwal latihan tiba. Semua yang dilakukan selama memanah insyaa Allah bernilai ibadah di sisi Allah. Mungkin karena ini, saya selalu dalam perasaan baik setiap kali hendak dan setelah memanah. Saya senang sekali dan sangat bersyukur dengan hidup saya sekarang. Saya benar-benar jatuh cinta pada panahan.
Terima kasih ya Allah
Terima kasih coach
Terima kasih orang-orang yang sudah mendukung
Terima kasih Warani Archery Team
Kemarin seharian saya mengedit video dan foto-foto selama ujian kompetensi, dan hasilnya bisa dilihat di Video Ujian Kompetensi
Terus bersyukur
Terus berserah
Terus berdoa
Allah tidak pernah jauh
HALSUSISSEO! KAMU PASTI BISA!
Sedikit dokumentasi dari ujian kompetensi kemarin










0 comments