CAC ARCHERY CAMP
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
안녕하세요
Menutup tahun 2020, saya akan menceritakan pengalaman menyenangkan yang saya alami di CAC Archery Camp beberapa minggu lalu.
Musim hujan tibaaaaaa...
Dan dengan hujanlah kami menghabiskan CAC Archery Camp di kawasan Pesantren Alam Indonesia, Bulu Dua, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
Beberapa bulan lalu, coach memang berkata kalau akan ada perkemahan untuk para pemanah yang tergabung di Celebes Archery Club (CAC). Excited dong! Dan benar, CAC Archery Camp benar-benar terlaksana minggu lalu, tanggal 11 sampai 13 Desember 2020.
Namun seperti biasa, ekspektasi selalu beda dengan realita. Saya kira akan ada banyak tenda di lapangan luas, ternyata tidak. Selain karena yang sempat hadir hanya sedikit, hujan juga berkunjung lebih sering. Jadi lebih aman jika kami menginap di guest house.
Peserta yang hadir hanya sedikit karena masih pandemi yang menyebabkan izin dari kedua orang tua cukup sulit, selain itu juga sedang musim ujian bagi anak sekolah, musim lembur akhir tahun bagi pegawai kantoran, musim nikah, dan mungkin ada juga yang memang tidak tertarik untuk ikut.
Day-1
Tim Soppeng (Warani Archery School), kami berangkat sore hari dan tiba di lokasi menjelang maghrib. Masyaa Allah, dingin!!! Pesantren Alam Indonesia (PAI) memang terletak di dataran tinggi, Dari jalan raya, mobil berbelok ke lorong yang kemiringannya mungkin mencapai 45 derajat. Meskipun sudah petang, masih nampak kalau pemandangan sekitar adalah pegunungan, dan tanaman hijau berpetak-petak (keesokan harinya saya baru tahu kalau itu tanaman kacang tanah).
Kami diantar menuju guest house yang dekat dengan lapangan. Rumah panggung, tapi lantainya pakai ubin, tambah dingin. Hahaha. Kami berbenah, sholat, dan menuju Pujasera untuk makan malam. Pujasera adalah singkatan dari Pusat Jajanan Serba Ada, yang merupakan sebuah rumah makan, atau sekedar tempat persinggahan bagi siapapun. Karena lokasi Pujasera terletak di jalan poros Soppeng - Makassar. Katanya, seluruh keuntungan dari Pujasera digunakan untuk pesantren. Masyaa Allah.
Dan malam itu, adalah pertama kalinya kami merasakan langsung kemiringan jalan dari guest house menuju Pujasera. Menanjak!!! Tiba di atas langsung ngos-ngosan. Tapi makanannya enak. Alhamdulillah.
Setelah tim dari Makassar tiba, acara pembukaan dimulai. Awalnya pembukaan disiapkan di baruga pinggir lapangan, tapi kabut semakin tebal, angin kencang, dan hujan datang, jadi pembukaan dilakukan di guest house. Bukan masalah besar.
Coach Aqsa, coach Sulfiadi, coach Ira, adalah tiga orang yang membuat CAC camp ini sangat berkesan. Para pelatih profesional ini membuat kami tambah semangat belajar panahan, apalagi pemula seperti saya.
Atribut dibagikan, berupa masker dan topi, beberapa pengarahan dari coach, dan acara pembukaan selesai. Kami bisa istirahat, namun dari dalam kamar saya bisa mendengar beberapa peserta di luar masih bercanda sambil memasang busur yang akan dipakai keesokan harinya.
Day-2
Selamat pagi.
Pagi dimulai dengan senam bersama dan dilanjutkan dengan stretching, yang membuat bagian pinggang saya baru sembuh setelah tiga hari. Haha. Bagaimana tidak, kami ditunjukkan sebuah pose yang baru pertama kali saya coba. Yaitu plank dengan sebelah tangan/siku, kaki disilangkan dan menahan berat tubuh selama satu menit. Masyaa Allah, badan rasa dipelintir.
Tapi kami berhasil melaluinya! Haha.
Pindah ke lapangan yang lebih luas untuk latihan menembak. Mungkin kamu jarang atau bahkan tidak pernah melihat anak-anak, remaja, sambil menggendong busur, berbaris menuruni tangga menuju lapangan. Saya sudah melihatnya. Alhamdulillah, Allahu Akbar!!! Indah sekali.
Di lapangan, kami kembali berbaris dan mendengarkan arahan dari coach. Juga ada acara perkenalan (yang saya benci. Hahaha). Masalahnya, saya adalah makhluk tertua yang ada di sana sebagai peserta. Sumpah! Memang ada yang lebih tua dari saya tapi mereka sudah menikah. Saya kan belum, jadi insekyur sendiri. Tapi bodo' amat. Saya tua dan saya belajar panahan, apa yang lebih keren dari itu? Seperti itulah saya memenangkan kembali kepercayaan diri dan ternyata masih bisa bergaul dengan semua peserta yang bahkan masih kelas 4 Sekolah Dasar. Dasar tua! Hahaha. Biarin! Old but gold.
Setelah itu, kami latihan dengan bergantian menembak target. Mulai dari yang jarak 10 meter, 15 meter, dan 30 meter. Keren aja ada diantara kegiatan keren ini. Saya sangat bersyukur bisa ikut dan menyaksikan semua anak-anak itu berjuang mengalahkan telak dirinya sendiri dengan melesatkan anak panah di lingkaran kuning berkali-kali. Bangga! Beberapa santri dari pesantren juga ikut serta untuk belajar memanah. Mereka memilih belajar horsebow seperti saya. Kalau anak-anak, mereka memakai busur standart.
Saya melihat busur para santri memiliki limbs yang lebar, yang berarti mereka memakai busur dengan lbs (satuan berat tarikan busur) tinggi. Wow. Tapi ternyata setelah di kroscek oleh coach, tidak ada satupun akhwat yang bisa menarik busurnya, yang ikhwan pun masih setengah mati menarik busurnya. Ini adalah pelajaran penting, karena mereka membeli busur tanpa konsultasi dengan orang berpengalaman lebih dulu. Buat apa beli busur kalau tidak bisa dipakai? Benar juga sih, jatuhnya kan mubazzir. Dan saya mengingat pelajaran ini baik-baik (untuk patuh dan mendengar apa yang coach bilang, jangan ngeyel).
Menjelang pukul 12.00 siang, kabut datang, disusul angin dan hujan. Kami segera berteduh, di bawah tribun yang sengnya terpasang baru saja. Serius, sengnya dipasang saat kami baru turun ke lapangan. Kuasa Allah. Alhamdulillah.
Saat hujan mulai reda, kami kembali untuk shalat dan makan, lalu kembali ke lapangan melanjutkan latihan hingga ba'da Ashar. Hujan masih menahan diri, kami bisa menyelesaikan latihan hari kedua tanpa hambatan.
Malam hari setelah istirahat, sholat, dan makan malam, diadakan acara nonton bareng. Awalnya kami akan nonton Mulan, tapi karena banyak sekali drama masalah koneksi, laptop, LCD, kabel HMDI, pokoknya banyak! Akhirnya kami menonton potongan film War Of The Arrows (hanya dibagian mereka menggunakan busur horsebow). Masih belum puas, kami menonton Fetih 1453 yang merupakan gambakan perjuangan Muhammad Al Fatih untuk menaklukkan Konstantinopel yang tanpa kenal lelah, tanpa kenal takut, meski harus memakan korban yang sangat besar.
Dan nonton bareng selesai tepat pukul 12.00 malam. Kami tidur dan bersiap keesokan harinya karena ternyata, nikmat Allah di hari terakhir lebih banyak dari dua hari sebelumnya.
Day-3
Scoring Day!
Selamat pagi.
Sisa-sisa hujan semalam membuat pagi sangat sejuk dan dingin. Awan masih mendung ketika kami menuju lapangan. Kami bergegas ke lapangan dengan alat tempur lengkap. Atribut yang tidak pernah lepas, dan tentu saja busur dan anak panah. Kami melingkar melakukan pemanasan bersama, bergantian menghitung.
Selesai pemanasan, coach kembali memberi pengarahan dan ada satu momen yang membuat saya malu sekaligus bangga. Bukan hal besar, tapi momen ini mendorong saya untuk semakin senang belajar memanah. Coach memberi apresiasi kepada peserta yang saat Ujian Kompetensi Memanah bulan September lalu, memiliki skor tertinggi. Dan itu adalah saya (horsebow 10 meter ), dan seorang siswi kelas 5 SD bernama Nayla (standart 5 meter). Kami berdua menerima Scoring Book yang akan digunakan untuk scoring hari ini (peserta lain harus bayar, hehe).
Setelah proses yang sparkling-sparkling itu, kami mulai scoring. Karena bantalan besar hanya satu yang dipakai beramai-ramai, maka untuk menembak harus gantian. Mulai dari yang 10 meter, 15 meter, dan 30 meter. Tapi belum sempat giliran yang 15 meter, hujan turun. Sangat deras hingga kami tidak bisa melakukan apapun selain berteduh.
Dibawah guyuran hujan, coach berseru agar peserta jarak 30 meter ambil barisan. MEMANAH DALAM KONDISI HUJAN DERAS. Terdengar mustahil, tapi anak-anak ini berhasil menembak tanpa satupun arrow keluar dari bantalan. Namun, beberapa vanes ada yang rusak. Bukan masalah besar, bisa diperbaiki. Akan beda ceritanya jika itu horsebow, arrow kayu, bahaya! Karena itu, team horsebow tidak diizinkan menembak dulu.
Menunggu hujan reda cukup lama, hujan seperti enggan berhenti. Coach meminta semua peserta standart memegang busur untuk mengecek tarikan masing-masing. Saya melihat mereka dari jarak beberapa meter, ditemani tempias hujan mereka tetap semangat berlatih. Jadi kenapa saya tidak? Keenam jagoan ini scoring sambil hujan-hujanan. Luar biasa!
Hampir satu jam, akhirnya langit agak terang, kabut sudah berkurang, dan hujan mulai reda. Hanya menyisakan sedikit gerimis halus. Jarak 15 meter mulai menembak, coach benar-benar mendampingi proses ini hingga semua selesai menembak.
Sekitar pukul 12.30 siang, matahari benar-benar muncul dan untuk pertama kalinya sejak tiba di tempat ini, saya melihat langit biru. Karena sejak tiba, awan selalu penuh menutupi langit. Kini giliran tim horsebow. Dari semua peserta yang sudah menembak, sepertinya hanya kami yang menembak dengan siraman cahaya matahari, tengah hari! Tapi keren! Kami akhirnya bisa menembak dan scoring dengan 6 rambahan mengakhiri latihan ini.
Kami kembali ke guest house, istirahat, makan, ganti baju (bagi yang bajunya basah). Setelah itu, menunggu penutupan dan pulang.
Saat penutupan, cuaca sangat cerah, seolah ikut bahagia kami telah menaklukkan hujan yang turun sejak kami tiba di sini. Coach berpesan agar PR (stretching setiap malam sebelum tidur) terus dilakukan untuk persiapan Gubernur Cup.
Semangat!!!
Dan kamu pasti tahu, apa yang dilakukan semua orang saat selesai kegiatan?
Yup. Minta foto. Karena selain sebagai peserta, di sini saya juga berperan sebagai dokumentasi, jadi ponsel saya diburu anak-anak ini. Menyenangkan melihat mereka mengerumuni satu orang untuk melihat video mereka saat menembak. Anak-anak ini, saya sangat senang bisa berada diantara kalian. Walau umur kalian masih belasan tahu, saya tetaplah junior yang baru belajar panahan tahun lalu.
Untuk melihat apa saja kegiatan CAC Archery Camp, silakan lihat di sini
Tetap semangat, teman-teman.
Target 2021 kita harus tercapai.
Gubernur Cup 2021
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Dan sampai jumpa tahun 2021 di postingan berikutnya.








































0 comments