Kita Tidak Sedang Baik-Baik Saja

by - Januari 19, 2021




Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Postingan pertama di tahun 2021

Selamat datang di Dear Ria... ㅋㅋㅋㅋ

안녕하세요

Kali ini saya akan memulai dengan bercerita tentang buku saya yang terbit November lalu. 

Saya menulis buku ini selama 34 hari. Agustus hingga awal September. Saya menyelesaikannya dengan cepat karena tahun 2020 hampir berakhir, dan proses penerbitan tidak semudah itu, ada perjalanan panjang yang harus ditempuh. Jadi saya pikir, setidaknya akhir September, naskah saya sudah dikirim ke penerbit. Dan bulan November, akhirnya buku saya jadi.

Ide untuk buku ini saya temukan saat menonton larva the movie yang terdampar di pulau terpencil. Dari ide itu, saya membuat kerangka penulisan, ada 10 point yang berhasil terangkum, meski pada akhirnya ada banyak tambahan sana sini. Buku ini berkisah tentang tujuh orang yang selamat dari kecelakaan pesawat dan terdampar di sebuah pulau terpencil.

Kita Tidak Sedang Baik-Baik Saja.

Ini adalah judul buku saya yang paling panjang. Sebelumnya hanya terdiri dari satu kata.

Saya akhirnya melalui pergantian tahun dengan lega karena berhasil mewujudkan target tahunan. Tapi pertengahan Januari, kecelakaan pesawat Sriwijaya Air membuat saya langsung teringat pada buku ini, ingat tokoh-tokoh di dalamnya. Tapi beberapa hari kemudian, muncul berbagai berita tentang perkembangan pencarian korban dan bangkai pesawat. Teman dan kerabat menceritakan orang-orang yang mereka kenal dalam pesawat. Dan saya menemukan semakin banyak kebetulan.

Pertama, tentang pesawat jatuh. Sependek pengetahuan saya, jarang atau bahkan tidak ada korban yang selamat dari pesawat yang hilang kontak. Tapi dalam buku, saya menulis ada tujuh orang yang selamat. Dan pada kenyataannya, hingga kini, tim SAR berhasil menemukan serpihan pesawat, pakaian, dan ... potongan tubuh korban 😟

Kedua, tentang postingan seorang kru pesawat dimana tertulis "Agung, saya pinjam charger hpnya sebentar, ya".
Dan pesan menyentuhnya, "Jangan lupa shalat subuh".
Saya benar-benar kaget saat membaca ini, merinding. Saat masih dalam proses penulisan, saat naskah saya belum jadi, seorang anak laki-laki meninggal dan kisahnya yang saya dengar dari seorang teman, membuat saya menangis. Untuk penghormatan terakhir dan sebagai bentuk duka cita, saya minta izin agar namanya saya pakai dalam buku ini. Jadi saya mengganti salah satu nama tokoh dalam naskah yang sedang saya kerjakan. Dan nama tokoh yang saya ganti itu adalah... Agung.

Ketiga, Januari.
Hari ini seorang teman bertanya tentang buku saya, katanya mau beli. Tapi buku di saya sudah habis, jadi saya sarankan untuk pesan di penerbitnya langsung. Dan tiba-tiba terbersit sebuah ingatan. Saya segera mengambil buku itu, membaca bagian akhir.
Judul bab yang saya tulis masih pertanyaan apakah semuanya baik-baik saja?
Dan yang saya temukan lebih luar biasa. Setahun berlalu, musim hujan, dan berita di radio mengabarkan kecelakaan pesawat lagi yang membuat tokoh dalam buku ini teringat kejadian yang pernah menimpanya.

Kebetulan? 

Allah yang ingin saya menulis seperti itu. Karena saya mendapatkan ide tiba-tiba, menulis dalam waktu sesingkat itu, bukanlah hal mudah. Saya tiba-tiba takut apa yang saya tulis menjadi kenyataan. 

Astagfirullah...

Semua yang terjadi karena kehendak Allah, tidak akan terjadi tanpa izin-Nya. 

Menyusul pesawat jatuh, datang kabar lain dari Syekh Ali Jaber yang meninggal setelah negatif dari Covid-19. Belum selesai duka itu, kembali banjir besar menimpa saudara-saudara kita di Kalimantan, dan daerah lainnya. Lalu gempa hebat mengguncang dan meluluhlantakkan Mamuju, Sulawesi Barat.

Bisa apalagi kita selain memohon doa dan perlindungan Allah Yang Maha Besar?
Kita tuh, kecil sekali. Dan masih kurang bersyukur dan mengingat-Nya?

Ini teguran, ini peringatan, ini balas dendam bumi karena kita terus menyiksanya dengan segala kerusakan di permukaan...

Maaf bumi
Ampuni kami ya Allah

You May Also Like

0 comments