Tidak Dibaca Juga Tidak Masalah
.
.
.
.
.
Dan saya
Teman yang tumbuh dan menua bersama saya selama lebih dari 20 tahun itu sudah menikah. Bulan Januari tahun ini, saat hujan tanpa henti menyapa bumi, ikrar itu diucapkan oleh seorang laki-laki yang meminangnya.
Bahagia, lega, tapi saya hampir menangis saat memeluknya di pelaminan. She is worth it. Menangisnya karena...saya tidak tahu juga kenapa. Mungkin karena teman saya menikah saat saya belum punya calon maupun crush! Tapi bukan juga sih. Iri? Big no! Terus??? Mungkin merasa bersalah karena pernah minta mereka putus. Saat itu, saya sedang semangat-semangatnya meluaskan dakwah tentang pacaran yang dilarang dalam Islam. Kan gak boleh. Tapi untung mereka menikah. Karena yang saya tahu, ada rintangan besar yang menghalangi mereka. Mungkin begitulah jodoh.
Hanya saja, jalan yang mereka tempuh lewat pacaran. Mungkin hasilnya menikah, tapi Allah sangat menghargai proses. Setiap yang kita lakukan itu dinilai, tanpa terkecuali. Tapi bukan urusan saya, kan? Kita tidak berhak menilai orang lain karena ibadah atau dosanya, kita bukan Tuhan.
Hmm... Sebagai orang yang tahu sedikit tentang kisah cintanya, saya merasa bersyukur kali ini pilihan hatinya tidak membawa luka, tapi ajakan melangkah bersama. Karena selama ini, yang saya lihat dia selalu berusaha menutupi kesedihan, menyibukkan diri dengan apapun, dan mungkin introspeksi banyak-banyak lewat hijrah (saya TIDAK PERNAH berani bilang ini).
Setiap manusia itu berubah, saya juga. Mungkin diantara circle pertemanan kami, sayalah yang paling bungsu (secara sikap). Saya suka bermanja-manja jika bersama teman yang saya suka. Dan menjaga jarak dari orang yang tidak begitu akrab. Ini penyakit, saya introver.
Mey adalah salah satu dari kami yang terlihat lebih dewasa. Semua pekerjaan perempuan bisa ia lakukan terutama pilar-pilar dalam rumah tangga seperti memasak, mengurus orang lain, dekorasi, make-up, dan belanja. Hanya satu yang tidak bisa ia lakukan, yang juga tidak bisa saya lakukan, bawa motor. Karena alasan inilah, dulu kami sering kemana-mana dengan jalan kaki, ojek, atau angkot.
Setelah menikah, ia ikut dengan suaminya ke Toraja. Saya melihat postingannya yang membeli perlengkapan kemping. Asiknyaaa. Dia juga mengirimkan foto tempat-tempat yang ia kunjungi bersama suaminya. Katanya mereka masih tinggal di kost, sementara cari rumah kontrakan. Dia bilang sih, sudah ada rumah yang ditawarkan temannya, dekat pasar yang banyak babinya. Saya tertawa saat mendengar tentang babi. Sebagai muslim, mereka akan berusaha keras menjauhi babi, dan mencari makanan halal di sana. Mungkin itu cobaan pemanasan untuk rumah tangga mereka.
Allah Maha Baik.
Jadi teringat kejadian dimana dia sesak napas saat kami sedang bersama. Baik itu di Kemah Pustaka, Kemping di kaki gunung Latimojong, di Umpungeng, bahkan saat tahun baru bersama anak pramuka (yang sempat dilarikan ke rumah sakit). Kalau sekarang masih sesak, kan sudah ada yang mendampingi. Mungkin sudah sembuh 😁
Hm..
Setelah melihatnya menikah, saya mendapatkan pencerahan tentang seseorang bernama suami.
Sepertinya, saya akan sangat bahagia jika berjodoh dengan orang yang sefrekuensi dengan saya, yang braincell-nya sama.
Contoh :
Yang sedang belajar agama, tertarik dengan panahan, dan mungkin bisa sedikit suka dengan korea. Haha
Kalau nanti ada yang melamar, mungkin Mey orang pertama yang saya kabari. Hihi


0 comments