Drama Juvenile Justice Bikin Berpikir Tinggal Di Korea

by - Maret 18, 2022

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Semalam saya baru menamatkan drama sekali tayang 10 episode besutan Netflix, Juvenile Justice.

Kabarnya drama ini diangkat dari beberapa kisah nyata. Drama ini sangat layak ditonton oleh anak-anak, remaja, dengan pendampingan orang dewasa. Karena isinya tentang anak-anak yang sudah melakukan tindak kriminal di usia mereka yang masih sangat muda dan hakim yang memberi vonis pada mereka. Saya hanya akan membahas anak-anak pelaku kriminal dalam drama ini.

Bertema hukum, biasanya berat ya, tapi ini bisa dinikmati dengan lancar tanpa menjadi beban. Dari 10 episode, ada beberapa kasus yang diangkat. Salah satunya adalah mutilasi siswa SD berumur 9 tahun oleh orang tidak dikenal yang masih berusia 13 tahun. Ia menyerahkan diri karena yakin tidak akan ditangkap. Kenapa? Undang-undang perlindungan anak mengatakan bahwa anak dibawah usia 14 tahun tidak bisa dipenjara!! Bisakah hakim melanggar undang-undang? TIDAK! Lalu apa yang akan terjadi pada keluarga korban? Pasrah gitu aja? 
Begitulah hukum. Hukum hanya bertindak sesuai bukti.
Ada juga sekelompok anak perempuan yang mayoritas melakukan tindak kejahatan karena latar belakang keluarga broken home. Yaa, ternyata dibalik nakalnya seorang anak, tetap ada peran orang tua di dalamnya. Baik itu dalam mendidik atau dalam mengabaikan anaknya. Dan orang tua yang merasa paling tahu tentang anak broken home, mungkin harus menengok sesekali ke anaknya, apakah mereka juga butuh perhatian? 

Scene ini sih pasti menyindir banyak orang tua.

Kemudian tentang KDRT. Bagaimana mungkin neneknya tinggal diam saat cucunya dipukuli oleh ayah kandungnya sendiri? Jangan lapor polisi? What??? Mungkin memang seperti itu ya, pemikiran orang tua sekarang? Tidak apa-apa jika anak dipukuli karena nakal. Tapi sampai babak belur? Sampai berdarah-darah? Kalau ini sih saya setuju dengan vonis hakim yang mengatakan, Kalimat bahwa "Aku ayahnya" dan "Dia anakku" tidak berlaku.
Anak yang menderita karena KDRT tidak pernah tumbuh dewasa. 10 tahun 20 tahun, hanya waktu yang berlalu. Tapi anak itu terperangkap di masa lalu.
Turut berduka untuk teman-teman yang pernah mengalami KDRT bagaimanapun bentuknya. Semoga tabah dan kuat melanjutkan hidup. Karena serius, hidup kita tidak hanya fokus pada penderitaan, ada lebih banyak loh kebahagiaan yang bisa kita cari, temukan, atau ciptakan sendiri. Lagi-lagi ini tentang mental. Salut!!!

Kemudian yang kita tunggu-tunggu, ini terkait judul postingan ini. Kenapa ini membuat saya berpikir jika harus tinggal di Korea? Saya nggak mau anak saya tumbuh menderita seperti itu. Drama ini pasti menyindir sistem pendidikan di Korea.

Di sebuah sekolah bergengsi, ada grup yang berisi anak-anak super cerdas yang akan bersaing mendapatkan tiket masuk SNU (Seoul National University), universitas paling terkenal se-Korea. Hampir semua siswa pintar di korea memilih SNU sebagai tujuan mereka untuk berkuliah. Nah, untuk mencapai impian itu mereka harus belajar keras di bangku sekolah. Mulai dari mendapatkan nilai terbaik di setiap ujian, kalau bisa nomor satu sesekolahan, terus ikut les, privat tutor, sampai belajar sendiri dirumah sampai subuh. Gila ya, dan orang tua mereka justru mendukung bahkan menghalalkan segala cara agar anak mereka berada di posisi itu, termasuk dengan membeli soal dan kunci jawabannya.

Hebat kan? Jadi nyesel sendiri sering nyontek waktu sekolah dulu. Malu. Jangan diulangi lagi ya. Gak akan ada yang marah kalau nilaimu jelek.

Saat di depan hakim pun, wali siswa tidak malu mengakui bahwa anaknya mendapatkan soal, dan malah mempertanyakan apakah ia salah jika soalnya bocor. Dia tidak berpikir bahwa gara-gara soal yang bocor ke 24 siswa, siswa lainnya satu sekolahan harus mengulang. Dan parahnya, setelah mereka ketahuan, mereka berhenti sekolah. Tidak bertanggung jawab banget kan? Aslinya lempar batu sembunyi tangan. 

Tenang...tenang... Mereka seperti itu karena orang tuanya. Pokoknya orang tuanya. Anak tidak akan bertindak tanpa observasi. Apalagi kalau mereka diancam. Ngerti kan? 

Pokoknya gitu. Bukan di Korea saja sih, tapi di Indonesia juga. Sistem pendidikan harusnya lebih meningkat, linear dengan biayanya yang terus melambung. Kalau di sekolah saja persaingannya seketat itu, apalagi dunia kerja? Astagfirullah, kerasnya hidup.

Dan yang paling saya benci dari kejahatan anak-anak adalah bullying. Lagi dan lagi hanya karena orang tua mereka kaya raya. Orang kaya yang baik hati pasti sedih jika melihat kecenderungan film dan drama-drama populer selalu melibatkan si kaya yang pasti jahat dan si miskin yang pasti baik. It's not always like that, okay.

Seorang anak diminta memalsukan identitas dan meminjam mobil padahal tidak punya SIM. Saat ketahuan dan terjadi kecelakaan, anak ini sekarat hingga tim medis menyatakan dia dalam keadaan vegetatif (cuma keajaiban yang bisa bikin dia bangun). Sedangkan penumpang yang ternyata adalah otak dari semua ini hanya luka ringan dan hanya divonis untuk perlindungan. Padahal kecelakaan itu sudah menelan nyawa, 1 korban meninggal dan 1 orang sekarat. Tidak adil!!!! Bisa-bisanya mereka keluar ruang sidang dengan tertawa.

Dan kasus terakhir tentang pemerk*sa*n. Mereka masih anak dibawah umur! Kenapa kejahatan mereka terlalu diluar batas? Saya salut dengan penulisnya, dan juga dengan aktornya. 

Hukum harusnya memberi pelajaran pada anak-anak, bahwa hukum itu tegas. Tapi vonis Anda membuat mereka menganggap hukum itu hal sepele.
Masih ingat kata-kata hakim lead female drama ini. 
Ini alasanku membenci kalian. Kalian tidak pernah berubah.
Anak-anak yang pernah melakukan kejahatan, jika tidak dihentikan maka akan terus berulah. Beberapa ada yang sadar, tapi banyak yang tidak mengerti betapa berharganya kesempatan kedua.

Bu Hakim dan Pak Hakim yang terhormat. Teruslah memberi keadilan pada anak-anak ini. Jangan membiarkan mereka menghancurkan masa depan sendiri. Saya juga yakin, sebagian dari mereka pasti ingin dan sedang berusaha untuk berubah. Kadang, mungkin hanya keadaan mendesak yang membuat mereka terpaksa. Tapi mereka memang harus dilatih menahan godaan untuk tidak melakukan tindak kriminal lagi.

Adik-adik yang sedang berjuang untuk berubah, semangat ya. Kamu hebat! Gak ada manusia yang gak pernah berbuat salah.

Sekian.
Terima kasih Netflix


You May Also Like

0 comments