Masa Kecil Yang Menyenangkan
Berhubung sekarang hari minggu, saya akan bercerita tentang masa kecil saya yang lucu dan menyenangkan. Mungkin akan ada beberapa cerita yang sama dengan masa kecil kalian.
Mmm....saya lahir 10 tahun sebelum abad ke-20. Sebelum mencapai abad ke-20, saya yakin semua anak-anak akan merasakan hal menyenangkan yang sebenarnya di masa kecil mereka. Saat dimana internet belum populer, bahkan televisi pun belum menghuni setiap rumah. Saat dimana gadget belum ada. Dan itulah saat yang penuh kenangan untuk kami, yang otomatis berbeda dengan anak-anak jaman sekarang.
Dulu, pagi-pagi kami berjalan kaki ke sekolah bersama teman-teman tanpa perlu diantar orang tua. Di sekolah, istilah saat jam istirahat adalah 'keluar main' dan saat bel berbunyi kami sudah diajarkan untuk tetap diam ditempat sebelum guru meninggalkan kelas. Saat 'keluar main', cemilan paling laku adalah mie instan, yang dikonsumsi layaknya kerupuk. Entah kenapa, kami lebih suka itu daripada harus menyeduhnya dengan air panas.
Cekcok dengan teman sekolah biasanya mengakibatkan pem-bully-an massal yang berujung pada kalimat "Kulaporko sama ayahku" atau "Janganko lewat dekat rumahku." Hahahaha.....saya tidak percaya pernah mengatakan itu.
Pulang sekolah adalah waktu tidur siang, dan itu adalah siksaan paling berat selain PR matematika. Waktu tidur siang itu adalah saatnya kami bermain sampai 'baterai' kami habis, tapi tidak setiap hari bisa lolos bermain karena orang tua kami mengancam dengan wajah menakutkan jika kami tidak tidur siang.
Di kota kami ada banyak pohon mangga. Hampir setiap rumah memilikinya, bahkan hingga ke kebun. Jika musim mangga tiba, permainan kami sepulang sekolah terlupakan. Kami punya permainan baru, "makkitte pao." Setelah ganti baju, kami akan mencari kantong plastik, ember, atau wadah lainnya dan berlari ke kebun dekat rumah, bertemu dengan teman-teman lain, duduk manis diatas dedaunan kering, menunggu mangga jatuh. Pohon mangga di kebun sangat tinggi, besar menjulang, jadi yang bisa kami lakukan hanya menunggu. Sebenarnya ada pohon mangga di depan rumah, tapi kami lebih suka di kebun. Sensasinya itu lho! Ketika mendengar suara angin dan ada mangga jatuh, kami akan berebut memungutnya. Nah, rasa puas saat mendapatkan mangga itu yang membuat ketagihan. Senang dan bangga berlipat-lipat. Pulang dengan membawa se-ember mangga sering terjadi, tapi saya pernah dimarahi. Bukan karena ke kebun 'makkitte pao' tapi karena saya tidak bisa menghabiskan semua mangganya. Hingga ia busuk dan dibuang begitu saja. Maaf mangga.
Ada lagi banyak permainan yang menyebabkan luka di lutut, siku, paha, dan betis. Kami menyebutnya 'ma'singkong'.
Peserta dalam permainan ini tidak terbatas. Tiga potong kayu disusun membentuk limas disatu sisi, kemudian para peserta melemparkan batu mereka ke sisi lain. Peserta dengan lemparan paling jauh akan mendapat kesempatan pertama untuk melempar kayu tadi. Jika roboh, maka peserta yang jaraknya paling dekat darinya akan menjadi 'penjaga'. Saat susunan kayu roboh, semua peserta lari bersembunyi sebelum 'penjaga' berhasil mendirikannya kebali. Karena jika kayu itu sudah tegak kembali, penjaga bisa menyebut nama peserta lain yang masih terlihat di ikuti kata 'singkong' dibelakangnya. Contohnya: Emma singkong! Dan yang disebut namanya 'tertangkap'. Untuk membebaskan mereka yang tertangkap, peserta lain tinggal merubuhkan lagi kayu tersebut tapi tanpa sepengetahuan penjaga. Permainan ini mirip petak umpet, bedanya hanya dari sistem merubuhkan kayu itu. Ma singkong ini mampu membuat kami lari lebih kencang dibanding ketika dikejar anjing. Bersembunyi dimanapun, semak, kolong, bahkan sampai ada yang memanjat pohon. Hahaha....sangat menyenangkan, karena inilah saat malam hari kami cepat mengantuk, dan PR dikerjakan besok di sekolah saja (jangan ditiru, ini hanya dilakukan oleh profesional).
Bukan hanya itu, kami juga sering 'ma'boy' permainan yang terbagi menjadi dua grup dan saling melempar bola sambil berusaha menyusun 10 tumpukan batu. Ada juga permainan yang semua anak-anak pernah memainkannya, kelereng. Bola kaca ukuran kecil ini dapat melatih pelajaran fisika yang tidak pernah kami sadari, seperti Gaya, Tumbukan, dan Kecepatan. Lompat tali, pernah? Permainan ini dapat membantu pertumbuhan anak, tentu saja. Tapi sepertinya tidak terlalu berpengaruh bagi saya karena sampai sekarang tinggi saya hanya satu setengah meter, kurang tinggi.
Nah, cukup menyenangkan untuk di ingat kan? Sangat berbeda dengan anak-anak sekarang yang menghabiskan waktu mereka dengan gadget yang kurang memanfaatkan syaraf motorik mereka. Tapi orang tua yang pintar pasti tahu bagaimana cara mendidik anak mereka.

0 comments