Rekaman Perjalanan 4 Hari

by - Maret 23, 2015

Kepolosan anak – anak, seberapa menyentuh keajaiban satu ini? Dengan menjadi volunteer, bagian dari SOKOLA KAKI LANGIT, saya kembali mengingat masa SD. Anak kecil ingusan, lucu, lincah, egois, mudah marah dan menangis, namun tak pernah lepas dari kesan polos dan apa adanya. Saya baru bergabung di Angkatan ke-3, berarti Sokola sudah berlangsung 3 kali, sekali sebulan. Rencananya, ini akan diadakan selama 1 tahun di Umpungeng.

Kegiatan ini diadakan di Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. Perjalanan ke sana di tempuh kurang lebih tujuh jam dengan jalan kaki. Bukan hanya karena medan yang berat tapi karena jujur, letak Umpungeng benar – benar kelewatan. Kelewatan jauhnya! Naik turun gunung, keluar masuk hutan pinus, melewati tiga sungai, apalagi kami mendapat jackpot ketika perjalanan, hujan deras! Namun mata disuguhi pemandangan alam yang indah tak terbantahkan. Gunung berjejer memamerkan kekokohannya, pohon – pohon tinggi menjulang. Sesekali kami menemukan pohon durian yang berbuah lebat, tak usahlah dicoba, melihatnya saja sudah membuat senang. Selain pohon durian, di perjalanan juga ada buah ‘tarro’, ‘settung’, pala, aren, dan buni, jadi lelah itu terbayarkan sudah.

SD Umpungeng terletak sekitar 30 menit perjalanan dari tempat kami menginap. Bagi saya itu jarak yang cukup jauh, tapi tidak untuk anak – anak ini. Mereka ke sekolah dengan ceria bersama teman – teman, sesekali mereka bisa memanen buah – buahan di perjalanan. SD Umpungeng terdiri dari 6 kelas dengan jumlah siswa berbeda setiap kelas, ada yang banyak dan ada yang sedikit. Menurut keterangan salah seorang guru, jumlah tenaga pengajar di sana hanya tiga orang, kadang mereka kewalahan karena harus mengatasi 6 kelas. Dengan kedatangan kami, mereka sedikit terbantu, meskipun itu hanya untuk beberapa hari.
Mengajar anak – anak bukanlah hal yang mudah. Dari mereka, saya sadar betapa sabarnya guru yang mengajar saya ketika kecil. Kebetulan saya mendapat kesempatan mengajar di kelas dua. Jujur, latar belakang mengajar saya tidak ada sama sekali, jadi saya bertanya mereka ingin belajar apa dan saya terkejut mendengar jawabannya. Anak SD kelas dua, yang bahkan belum lancar membaca dan berhitung, mayoritas mereka menjawab MATEMATIKA! Matematika adalah pelajaran yang paling saya benci sejak  SD hingga tamat kuliah. Tapi mereka? Ahh… anak – anak ini selalu membuat saja merasakan hal – hal ajaib.

Pulang sekolah, kami mengajak mereka bermain di lapangan. Seperti kembali ke masa lalu, anak – anak ini bermain dengan lincah, memperhatikan kata – kata kakak yang memberi instruksi. Meski beberapa diantara mereka nakal, tapi bukankah itu sifat alami anak – anak? Selain bermain, kami juga memberi pelajaran baris – berbaris, bukan main susahnya. Tapi beberapa diantara mereka sudah bisa melakukannya, ada bangga yang terselip.

Selanjutnya ada kelas kreatif, kami menunjukkan tutorial origami untuk membuat hati, kupu – kupu, dan robot. Kemampuan otak mereka juga hebat. Tidak ada masalah dalam pembuatan origami, seni melipat kertas ini memang banyak membantu. Selain menghibur, juga mengasah otak kiri mereka.

Perpisahan dilakukan dengan pemberian hadiah untuk peserta terbaik dan membagikan permen untuk yang lainnya. Meski kecil, tapi mereka menghargai apa yang kami berikan, mereka menyalami kami satu persatu dan berlari pulang ke rumah masing – masing memamerkan origami yang telah mereka buat, mungkin.

Sekian postingan kali ini.
Jika kalian berminat menjadi Volunteer, siapkan dulu waktu kosong sekitar 4 hari. Dijamin tidak akan menyesal. Ini bukan bualan, karena saya sudah merasakannya sendiri. 

Mari bergabung di SOKOLA KAKI LANGIT, karena kita bisa membantu mimpi mereka menjadi nyata.
Untuk info selanjutnya, akan saya posting kemudian.

You May Also Like

2 comments

  1. Tungguka selesai kak Riaaa :D Mu gkin banyak manusia unyu' yang pipinya siap di gigit oleh moster Bumi hehe :D

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas ilmu dan amal baik yang sudah ditabur di Desa kami, ASSISUmpungeng. Insya Allah kelak akan tumbuh dan berbuah sepanjang masa. Hanya Allah yang maha Agung yang mampu membalas kebaikan ini dg setimpal. Koreksi: Kampung Umpungeng berada di Desa Umpungeng, Kec.Lalabata, Kab.Soppeng. Inilah Dusun yang tersisih sejak dulu hingga kini. Semoga mentari segera terbit dari Sekolah Kaki Langit

    BalasHapus