Lelaki Ini
Hmmm.... Sebenarnya tidak baik memulai sesuatu dengan kata itu.
Baiklah, apa kabar? Butuh rentang waktu yang cukup lama untuk menulis bagian ini. Setelah perempuan hebat, kini saya punya beberapa orang laki-laki yang akan saya ceritakan. Mereka tak kalah hebat dengan perempuan yang saya ceritakan sebelumnya, percayalah. Ada alasan mengapa mereka membuat saya kagum.
Pertama, entah kenapa saya bisa bertemu dengan orang satu ini. Mungkin saya diberi kesempatan untuk mengenalnya lebih baik, namanya keren, Kak Manaf. Senior angkatan 'sekian', ditempat saya kuliah. Sewaktu kuliah, saya tidak mengenalnya, hanya tahu nama tapi tidak pernah mengenal orangnya. Kalaupun kenal muka, saya tidak tahu namanya siapa. Ah, pokoknya begitu.
Seingat saya, ketika saya aktif di himpunan, beliau sudah sarjana, jadi kami memang tidak pernah bertemu. Dan interaksi pertama kami adalah lewat sosmed, facebook. Beliau membentuk sebuah grup khusus untuk bahasa Inggris. Dari sanalah awalnya saya mengagumi kakak yang satu ini. Beliau jago bahasa Inggris! Karena percakapan panjang yang berantakan dalam bahasa asing itu, beliau mengingat saya dengan nama "noodle". Oke, detail yang itu tidak perlu diceritakan.
Hanya sampai disitu, selanjutnya saya tidak tahu apa-apa lagi, bahkan mendengar kabarnya juga tidak pernah. Tapi tahun lalu, saya bertemu dengannya. Takdir membawa saya ke Mamuju. Surprise!!! Terkejut, senang, lucu. Satu hal yang paling saya ingat jika mendengar namanya adalah 'lucu'. Iyap, sumpah demi apapun beliau lucu. Berkali-kali saya gemas ingin mencubitnya tapi tidak pernah berhasil. Anak Tekpert pasti tahu, beliau jago 'maccalla'. Cobami bede'!
Kadang kekanakan, kadang serius, tapi lebih sering bercanda sih! Kalau dilihat pada saat itu, tidak akan ada yang percaya kalau beliau sudah menikah dan sedang menantikan kehadiran buah hatinya yang pertama. Kakak yang keren harusnya seperti ini. Lucu, perhatian (berdasarkan cerita teman-teman disana), smart, dan menggemaskan! Hahaha.
Mungkin beliau sudah lupa, tapi saya ingat sekali kata-kata yang beliau ucapkan ketika masa awal saya datang ke Mamuju, Sulawesi Barat. "Jangan lari, tapi hadapi". Sesaat saya merasa telah lari dari 'sesuatu'.
Dari pertemuan kami yang singkat itu, saya menemukan banyak hal. Beliau hebat mengajari kami pengetahuan yang ia miliki. Sikap 'melindungi' apalagi bagi kami yang perempuan. Peduli dengan semua orang. Dan hobby maccalla yang tidak ada habisnya. Upss....
Selanjutnya adalah teman saya sejak Sekolah Menengah Pertama. Ahmad Wira Henri Pratama. Saya ingat sekali namanya, karena di kelas namanya urutan pertama. Jadi jika ada pelajaran menghafal, dialah yang mendapatkan kesempatan pertama. Haha
Kami biasa memanggilnya Henri. Kami hanya sekelas selama satu semester, karena semester selanjutnya saya pindah kelas. Hanya itu, kami menjadi teman sekelas hanya satu semester. Tapi hingga sekarang, kami masih berteman. Kenapa bisa?
SMP hingga tamat kami tidak pernah sekelas lagi. SMA, kami beda sekolah. Kami juga mengikuti ekskul yang berbeda. Kuliah, beda fakultas. Teknik vs Pertanian. (Tukang bikin masalah). Hahaaha. Dan ya, kami kembali bertemu karena IMPS (Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng). Tapi saya tidak aktif di sana, jadi kami bertemu hanya kadang-kadang.
Henri, menurut saya begitulah teman seharusnya. Memang tidak sering bertemu, memang tidak setiap hari kontak lewat telepon, tapi saat dia dihubungi, dia ada! Bukan hanya itu, ketika kami bertemu setelah sekian lama, dia tidak berubah. Tetap seperti Henri yang dulu. Rendah hati, care dengan semua temannya. Bahkan untuk hal-hal kecil, seperti pulsa. Saya pernah dikirimi pulsa padahal saat itu saya sudah bekerja, malu dong!
Itulah hebatnya teman saya yang satu ini. Sekarang dia sudah di pulau seberang. Bekerja untuk membanggakan orang tua dan keluarga. Meski sibuk, dia selalu menyempatkan diri untuk tetap terhubung dengan teman-temannya. Disini, sosmed sangat berperan. Dia biasanya menyempatkan untuk like atau komen di status teman-temannya. Huh...orang baik. Tidak percuma, hari itu saya dan seorang teman rela menembus hujan untuk memenuhi undangan makan-makan di rumahnya. Karena itu adalah terakhir kali kami bertemu sebelum dia berangkat. Semangatki nak di kampungnya orang. Hahaha
Saya pikir, cuma Henri teman yang seperti itu. Tapi saya menemukan satu orang lagi. Ahmad Junaidi Sultan. Akrab dipanggil Juned, teman kampus yang kenal setelah lulus kuliah.
Kasusnya hampir sama seperti kak Manaf, kenal nama, kenal muka, tapi tidak pernah saling sapa. Saya sebenarnya orang seperti apa? Orang-orangnya di sekeliling tapi tidak kenal, payah!
Ekhm....Juned lucu juga ternyata. Saya lebih suka memanggilnya Jun, singkat. Teman sekamar saya dulu mengatakan kalau dia seperti anak kecil, memang! Tapi jika menyangkut hal-hal penting, wihhh...
Melihat coretannya di buku 'Wreck This Journal' milik saya, dia berkeinginan untuk menjadi menteri pertanian. Kenapa tidak? Kalau menurut saya, dia bisa. Koneksinya banyak, otaknya cerdas, pandai mengatur waktu, kapan otak dan tubuhnya butuh istirahat.
Jun, sukaaaaaa sekali dengan nasi goreng. Makanan andalannya hanya itu, dengan jus jeruk. Itu yang bisa saya ingat darinya. Dia juga peduli dan perhatian dengan teman-temannya. Sama seperti Henri, sesibuk apapun dia tetap punya waktu untuk berinteraksi dengan teman-temannya melalui ponsel.
Tetap semangat Jun!! Sukses ya. Semoga keinginanmu bisa terkabul. Amin.
Sebenarnya ada hal yang sama antara kak Manaf, Jun, dan saya. Mungkin itu yang membuat saya dipertemukan dengan mereka. Mmmm....
Hufff... Akhirnya kelar. Itulah tiga orang hebat versi saya kali ini.
Terima kasih sudah membaca.

4 comments
Beh, baik memang juned choy. Bdw apa nama grupx kak manaf? Mau dong bljr bahasa inggris
BalasHapusNda aktif mi. Lama sekali mi itu grup
HapusNda aktif mi. Lama sekali mi itu grup
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus