Dua Hari dan Cerita Tanpa Ujung
Penghujung Juli yang cerah ceria.! Setelah serentetan planning liburan yang gagal TOTAL dan tingginya kasus PHP, akhirnya ada satu planning yang terlaksana dengan sukses dan lebih cepat dari rencana awal. Apa? Liburan bersama teman SD ke kota bunga, Malino.
![]() |
| Dari saya (hijau)-Ame-Mey-Agus-Indah-Rambo-Suti-Adi |
Melalui BBM kami merencanakan perjalanan itu di grup obrolan. Dari 16 anggota grup, hanya 8 orang yang berhasil ikut, karena teman yang lain punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. mendekati hari-H sempat ada masalah yang membuat teman-teman saling menyalahkan. Beberapa orang menjadi sensitif dan mudah marah. Tapi sebenarnya itu adalah rangkaian rencana surprise untuk teman kami yang berulang tahun, Indah. sebenarnya saya tidak berniat sama sekali memberikan kejutan semacam itu, lagipula kita bukan lagi anak kecil. Tapi semangat berkobar Mey dan Agus yang merencanakan semua itu mau tidak mau membuat saya terjerumus. Ikut-ikutan marah, jengkel, dan mendiami Indah. Karena ini, katanya Indah sempat berpikir tidak usah ikut ke Malino karena semua orang marah padanya. Tapi akhirnya dia tetap ikut dengan segala kecanggungan.
Hari-H keberangkatan (30/07/16), Adi dan Rambo berangkat pukul dua dinihari dari Soppeng ke Makassar. Perjuangan mereka bisa dibilang sangat hebat. Soppeng-Makassar 176 km dengan sepeda motor, tiba di Makassar langsung lanjut ke Malino, untung saja bukan mereka yang bawa mobil, kami punya Suti, supir of the day!
Pagi itu saya melihat pemandangan yang sudah sangat lama saya rindukan. Terima kasih untuk tetap hidup. ^_^
:/iklan
Oke, lanjut.
Biasanya jika ada rencana semacam itu, jadwal keberangkatan pasti molor hingga satu atau dua jam, bahkan lebih. Tapi ajaib, kali ini tidak. Kami berangkat sesuai dengan waktu yang direncanakan, berdelapan, dengan Agus sebagai navigasi manual. Karena dia tahu semua tempat dan jalan yang harus dilalui, bahkan dengan kondisi jalan, mungkin juga sejarahnya. Dia tahu semuanya! *standingapplause*
Tiba di Malino, masih sama dengan kesan pertama sejak saya ke sana, dingin! Cuaca cerah, tapi angin yang berhembus sejuk-sejuk manja! Dingin, sumpah! Oke, mau kemana? Tidak ada yang punya rencana sebaiknya ke mana. Hanya saya yang mengatakan ingin ke jembatan merah berkali-kali, tapi mereka tidak mengerti dan saya juga lupa jalan ke sana. Ah, sudahlah. Tapi karena lapar, kami istirahat makan mie instan. kebetulan tempat itu di depan hutan pinus, jadi saya cekrek cekrek beberapa kali. Dan Indah, you know what she did? Dia mengumpulkan buah pinus dan menjadikan bajunya sebagai kantong. Daebak!!!! Hahahaha. Bukan hanya saya yang tertawa, tapi yang lainnya juga.
Mey sangat ingin ke taman bunga, iya kami ke sana tapi hanya bisa melihatnya dari jauh. Saya juga mau, tapi keinginan saya lebih tinggi untuk ke jembatan merah. Haha....selesai. Setelah foto bodo'bodo, perjalanan dilanjutkan ke rumah kenalan Agus, disana ada bunga-bunga cantik, krisan, mawar, huahh! Foto saja. Sebenarnya kami singgah di sana karena ada beberapa orang yang ingin buang air kecil. Hahaha
![]() |
| Taman bunga yang gagal dikunjungi |
![]() |
| Bunga...bunga..bunga... |
Selang beberapa menit mobil melaju, kami menemukan spot keren untuk berfoto. Tidak perlu aba-aba, tentu saja saya langsung turun dan hunting sepuasnya. Tempat itu seperti padang luas yang ditumbuhi bunga-bunga putih setinggi pinggang, dipadukan dengan pohon pinus dan langit biru. Wuihh...subhanallah indahnya. Tuhan memang keren!!!! Tapi, setelah puas berfoto, saya memperhatikan dengan baik tanaman itu, OMG! Itu adalah kebun wortel yang sudah siap panen. Untung kami tidak berkeliling dan menginjak lebih banyak. Setelah menyadari kenyataan itu, saya kembali dengan memperhatikan setiap langkah. Maaf wortel, maaf pak, maaf bu, yang punya kebun.
![]() |
| Ekhm....kebun wortel keren |
Perjalanan kembali dilanjutkan ke rumah teman Ame di Tombolo Pao, katanya dia punya kebun. Saya jadi semangat ingin berfoto di kebun, tapi ketika sampai di rumahnya yang satu-satunya di tikungan, pemiliknya sedang ke kebun, jadi kami memutuskan untuk ke air terjun lebih dulu. Pulang dari air terjun baru kami ke kebun.
Lokasi air terjun tersebut di dekat PLTA, tidak butuh waktu yang lama untuk ke sana. Belum tahu masyarakat setempat menamai air terjun itu apa, jadi saya hanya menyebutnya air terjun di Tombolo Pao, tingginya mungkin belasan meter atau lebih. Maaf, saya kurang bisa menafsirkan jarak. Pokoknya begitulah. Di sana kami foto bersama, berdelapan. Kacau! Bayangkan jika semuanya hadir, tempat itu akan ramai sekali, ribut mengalahkan debuman air yang jatuh.
![]() |
| Fokus saja pada air terjunnya, kami memang aneh |
Kembali dari air terjun, rombongan heboh ini istirahat di mesjid dan menunggu waktu dzuhur. Saya mengambil kesempatan untuk menge-charge ponsel yang sekarat karena keasyikan hunting di air terjun. Sementara Agus sibuk bluetooth sana sini untuk di upload (hufff....anak kekinian). Seandainya jaringan saya bagus, mungkin saya juga melakukan hal yang sama. Hahaha...
Setelah istirahat cukup, kami kembali ke rumah teman Ame. Dari sana, kami langsung menuju kebun dan disuguhi pemandangan....... men, mereka panen! Kol, tomat, sawi putih, daun bawang! Pemandangan yang jarang dilihat mata, tersaji di depan mata. Teman Ame sedang tidak ada, kami hanya bertemu ibunya yang sangat ramah. Beliau memberi kami tiga kantong kol, satu kantong sawi putih, satu kantong tomat yang dipanen sendiri oleh Agus, dan daun bawang. Semua membantu, kecuali saya yang sibuk berkeliling kebun dan memotret (kebiasaan buruk). Panen, ini sangat menyenangkan. Jika orang tuamu petani, banggalah. Ini luar biasa keren dan menyenangkan! Saya menikmatinya.
Mobil penuh dengan hasil panen tadi dan membuat kami sesak. Aroma daun bawang membuat Adi pusing dan Indah ingin muntah. Kami akhirnya berhenti di pinggir jalan dan melakukan packing ulang. Daun bawang dimasukkan ke dalam kantong, lalu disimpan di dalam kardus, aman! Perjalanan dilanjutkan dan singgah dijalan beberapa kali untuk membeli tenteng, markisa, alpukat, dan beberapa sayuran. Kami juga singgah kembali di pinus tapi di tempat berbeda dan makan sore, dan sepertinya ada beberapa orang yang membutuhkan toilet setelah itu. Sementara menunggu mereka, daripada bosan saya hunting lagi, selfie lagi (yang hasilnya selalu jelek). Cukup lama, akhirnya kami resmi pulang.
![]() |
| Hasil panen (sebagian), sisanya di depan |
Matahari sudah hampir tenggelam ketika mobil melewati bendungan Bili-Bili. Suara di mobil sudah berkurang, mungkin kelelahan. Hahaha... Iyalah, bepergian seharian siapa yang tidak lelah, apalagi yang nyetir. Agus saja yang cerewet bisa diam. Kami singgah sebentar di mesjid untuk shalat dan melanjutkan perjalanan ke rumah kakak Rambo. Di sana kami makan malam dan memberikan sebagian hasil 'panen' kami. Selanjutnya kami bertolak ke Abdesir mengantar Ame pulang, dia juga mengambil beberapa hasil panennya. Tujuan terakhir adalah 'hotel wesabbe' (kost Agus). Di sana semua barang diturunkan karena mobil harus segera dikembalikan.
Ternyata saya salah. Destinasi selanjutnya adalah Maros, rumah Indah. Dengan semua barang dan tumpukan sayuran, saya dan Indah, Rambo dan Adi melakukan perjalanan dengan sepeda motor ke Maros. Amazing!! Tiba di rumah Indah, bersih-bersih badan, makan, lalu tidur. Saya tidak peduli lagi ketika Mey datang dinihari entah pukul berapa. Saya mengantuk!!!!
Seharian di Malino tidak membuat kami bosan, keesokan harinya kami memasak di rumah Indah. Kami berdelapan kembali berkumpul. Saya menangani kol untuk dibuat bakwan, juga beberapa kentang dan wortel untuk sup. Ame ikut membantu, juga Agus yang akhirnya menggoreng bakwan. Indah memasak nasi dan sayur, Mey dan Rambo bekerja sama melakukan pembantaian dengan sekelompok ikan lele, Suti lebih memilih mandi dulu kemudian membantu menangani ayam bersama Mey dan mama'nya Indah. Adi? Sepertinya anak ini tidak pernah bangun, mungkin dia sedang sibuk di mimpinya mengejar pokemon di pantai Losari.
Pokoknya kami makan besar! Ngemil bakwan yang keasinan di teras rumah Indah yang tradisional, rumah panggung. Serasa di rumah sendiri, semua teman-teman merasakan itu. Kami kembali berbicang dan merencanakan perjalanan tahun depan. Misi kami tahun depan, teman yang datang harus lebih banyak. Amin.
Berpisah sejak SD dan baru bertemu sekarang, setelah belasan tahun berlalu. Ternyata kami tetap akrab. Setiap orang punya cerita berbeda, begitu juga dengan kami. Tapi perbedaan itu tidak membuat batas. Saya bersyukur bisa merasakan dan mengalami hal seperti ini. Tidak semua orang bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan teman masa kecilnya. Tapi kami bisa.
"Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi, yang kamu dustakan?"
Terima kasih telah menyempatkan waktu kalian.
Terima kasih teman-teman.
NB :
Indah membuka kadonya dengan teriakan histeris disaksikan oleh saya, Mey, dan Suti. Indah menangis haru dan berterima kasih pada kalian semua yang telah mengawali usia 26-nya dengan sangat meriah.
Selamat ulang tahun
Nirwana Indah (27 Juli 2016)
dan
Heriadi M. (1 Agustus 2016)
*mauta mi juga
![]() |
| Salam hangat dari temanmu yang gila tapi keren, Ria Rahmadani (dilarang protes!) |












4 comments
Nice one... Good story...
BalasHapusMau ta mi juga jalan2... kayak dlu itu tuhh...
BalasHapusMauta mi jugaa 😑
BalasHapusMauta mi jugaa 😑
BalasHapus