Serba Pertama Part.3

by - Desember 29, 2016

Kali ini Nusa Dua Beach ^^

Saya sedang tidur siang ketika ponakan saya membangunkan dengan cara mengguncangkan kasur dan memasang wajahnya tepat didepan wajah saya. Jadi begitu mata terbuka, wajahnya yang terlihat.

"Tante Emma, bangun. Siap-siap mau ke Nusa Dua."

Antara senang dan mengantuk, saya mengangguk mengiyakan. Perlahan bangkit dari tempat tidur, cuci muka, dan bersiap-siap. Saya seperti anak kecil yang memilih baju favoritnya untuk bepergian. Bukan baju mahal dan bermerek, tapi hanya kaus putih biasa dengan sablon logo dan tulisan Infinite, grup kpop andalan saya. Kekanakan bukan? Hahaha....akhirnya saya punya kesempatan memakainya. Ini adalah pertama kali saya memakainya. Pas, cocok, cantik, keren!!! Bangganya jadi Inspirit. Level pede saya meningkat menggunakan baju itu. Hahaha.

Kami berangkat menggunakan mobil, kak Asgar yang bawa. Ada kak Irmi dan anak-anak juga, pokoknya rame! Jarak antara tempat kami, Denpasar, dengan Nusa Dua cukup jauh. Sebenarnya dekat, hanya karena kota Denpasar yang padat, jadi sering kena lampu merah. Melewati kepadatan jalan, kita harus lewat jalan tol menuju Nusa Dua. Jalan tol yang hebat. Panjang, meliuk tajam, dan bertingkat-tingkat seperti roller coster. Hebatnya lagi, jalan tol ini dibangun diatas laut! Daebak!!!!! Jika ditinggal sendirian dan disuruh jalan kaki disini, saya pasti mau.

Lepas dari jalan tol, muncul papan jalan yang sangat besar menuju Nusa Dua ke sebelah kiri, dan Jimbaran ke kanan. Sebenarnya saya ingin menyaksikan sunset di Jimbaran juga, tapi setelah melihat peta, kedua tempat itu memang berseberangan. Jadi, lain kali sajalah. Memasuki gapura selamat datang di Nusa Dua, angin-angin sejuk mulai terasa. Ada beberapa tupai yang berkejaran di pohon ketika kami masuk. Tiba di tempat parkir, kami jalan kaki masuk ke dalam, menuju pantai.

Ada penyewaan sepeda, tarif Rp20.000 per-jam. Saya ingin mencoba, tapi ah saya ingin berjalan saja. Tugu Nusa Dua menyambut di depan gerbang. Setelah melewati gerbang, kita akan disambut dengan patung Krisna dan Arjuna yang berdiri kokoh dan lapangan rumput hijau yang mengelilinginya. Patung itu berada di tengah, dikelilingi jalur jogging track. Banyak orang yang jogging, tapi tak sedikit juga yang jalan-jalan seperti kami. Melintasi lapangan luas itu, kami menuju ke Water Blow. You know what is Water Blow? Saya juga tidak tahu, tapi setelah menyaksikan sendiri. It's awesome!!! Memasuki pintu gerbang Water Blow, kita disambut dengan jalan setapak dari kayu yang akan menuntun hingga ke dalam. Disana ada banyak hamparan karang dengan gigi-gigi tajam hingga ke tebing, makanya saya tidak berani ketengah-tengah. Tiba-tiba ada suara gemuruh mendekat, lama kelamaan makin besar dan...splash... Ombak menghantam karang dan menyibakkan air dengan ganas. Butuh waktu yang tepat untuk menekan tombol shutter, saya hanya berhasil mendapatkan sebagian kecil airnya di foto. Tapi pemandangan saat ombak menghantam karang terekam dengan baik di otak saya. Berkali-kali kesini tidak akan membuat bosan karena volume air dan kecepatan angin selalu berubah. Itulah yang menyebabkan besar kecilnya air yang memercik berubah-ubah (Ini teori saya. Haha).

Puas berfoto, saya melepaskan diri dari rombongan, berjalan menuntun sepanjang jogging track dan berakhir di pantai. Ada keluarga kecil yang sedang mencari kepiting dan anak-anak yang berenang di sisi lain pantai. Di depan sana, ombak saling mengejar, bergulung. Beberapa surfer tampak menikmati permainan mereka. Oh ya, pengunjung disini berasal dari berbagai belahan dunia. Karena itu, semua bahasa bisa terdengar disini. Waktu semakin sore, menjelang maghrib kami pulang. Selain perjalanan yang jauh, kami juga lapar. Hampir tiba di rumah, kami singgah makan di warung. Sesaat setelah turun dari mobil, saya melihat langit dengan semburat pink dan jingga. Ahh.... Bali. Kau tidak pernah berhenti membuatku jatuh cinta.

Tunggu kisah selanjutnya ^^,

You May Also Like

0 comments