Serba Pertama
Halo.... Salam terhangat dari hati Sparkling yang paling megah. Hehe
Sudah seminggu saya disini, tapi belum ada satupun tulisan tentang perjalanan kali ini yang saya share. Semoga belum terlambat.
Kamis, 15 Desember 2016 pukul 16.40 sore, adalah jadwal keberangkatan dalam tiket pesawat yang saya pesan. Sehari sebelumnya, saya berangkat dari Soppeng ke Makassar dengan tujuan agar berangkat ke bandara esok hari akan lebih mudah. Saya mau ke mana? Bali. Iyupz... Pulau yang terkenal hingga ke berbagai belahan dunia akan saya datangi, seorang diri, untuk pertama kalinya. Iya, ini yang pertama kali.
Sebenarnya hanya iseng-iseng merajuk ke ibu aji kalau saya ingin ke Bali. Diantara ketiga saudara saya, hanya saya yang belum pernah ke sana. Ajaibnya, beliau mengiyakan. Tidak perlu disuruh dua kali, saya mulai melirik kalender dan berencana berangkat bulan desember. Persiapan sebelum ke Bali yang pertama adalah ponsel. Ponsel saya restart ulang agar tidak loading, dan gara-gara itu semua kontak hilang bersama beberapa foto yang tidak di backup (relakan). Adik saya, Illang sedang berbaik hati menghadiahkan sebuah kamera sport (ahh entahlah namanya apa, yang jelas kamera yang sering dipakai anak-anak kekinian) untuk menyempurnakan 'liburan' saya kali ini. Semangat liburannya tambah meluap. Haha
Saya juga menginstal aplikasi traveloka dan go-jek. Ini adalah pertama kalinya saya menggunakan jasa traveloka untuk memesan tiket pesawat. Go-jek, juga untuk pertama kalinya saya memesan Go-car untuk ke bandara karena tidak ada yang bisa mengantar saya. Saya benar-benar pergi sendiri. Ke bandara sendiri (diantar go-car, yang ganteng dan ramah), check in sendiri, menunggu keberangkatan sendiri, saya tidak mengenal siapapun di bandara. Bonusnya lagi, pesawatnya delay 1 jam. Perfect!!!! Untung saya membawa beberapa bungkus roti dan sebotol air. Juga tentu saja teman perjalanan paling keren, ponsel dan earphone. Saya tidak ada masalah dengan delay 1 jam itu.
Tiba saat pemberangkatan, saya di antrian paling depan. How excited are you? Ini perjalanan pertamamu! Just enjoy it! Kita naik bus untuk kemudian naik ke pesawat, tentu saja saya memotret pemandangan yang tidak biasa itu. Tiba di pesawat, saya duduk dekat jendela, tempat yang memang sudah direncanakan. Karena hari itu saya punya misi sederhana, Allang ulang tahun (tidak perlu dijelaskan ya dia siapa, adek tersayang, sudah gitu aja). Jadi saya ingin menuliskan sesuatu di jendela pesawat dengan background senja. Itulah sebabnya saya memilih berangkat hari itu dan jam segitu. Tapi karena delay dan cuaca yang buruk, hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Untungnya ada sedikit semburat senja dibalik awan-awan tebal. Mission complete.
Penerbangan yang lebih dari sejam membuat saya mengantuk, pemandangan diluar jendela mulai cantik, lampu menghiasi pulau Bali dengan benderang. Kendaraan lalu lalang... Dan kami tiba di bandara Ngurah Rai. Buat saya semua itu ajaib, karena baru pertama kali saya datang ke sana. Memasuki gapura yang khas bali, hiasan dinding dan tulisannya, Indonesia dan Inggris. Saya diantara ratusan orang, menuju tempat pengambilan bagasi dan lagi saya bertemu orang ganteng. Mas yang memeriksa bagasi saya orangnya ganteng, tinggi, dan gagah. Hahaahh...perjalanan melelahkan ini terbayar dalam sekejap. Keluar dari pintu kedatangan, berasa jadi artis, banyak yang menunggu kedatangan kerabat/kenalan mereka. Tapi saya tahu tidak ada yang menunggu saya, jadi saya ke mushalla dan shalat isya di sana. Selesai shalat, sepupu saya menelepon karena tidak bisa menjemput, berbekal alamat, saya SKSD dengan supir taksi. Beruntung beliau orang yang ramah. Ahh......Bali terima kasih atas penyambutannya. Hujan berhenti total dan lalu lintas ramai lancar.
Yes, saya di Bali!!!!! Terima kasih pilot, pramugari, dan supir taksi. Saya tiba di rumah dengan selamat.
Selama di Bali, saya tinggal di rumah sepupu saya, kak Irmy. Ada suaminya, kak Asgar dan tiga orang anaknya yang masih kecil, Zen, Nauval, dan Eca. Saya langsung diajak ke Kafe-nya namanya De Kafe yang sekalian dengan toko penjual Vape (rokok elektrik). Tidak di Soppeng tidak di Bali, saya tetap bisa ke Kafe ya? Hahaha.... Anak-anaknya welcome dengan kedatangan tante Emma (panggilan mereka untuk saya). Apalagi kak Asgar yang notabene sudah merasakan pahit manisnya kehidupan di Bali, dia akan menjadi Tour Guide saya selama di sini.
Keesokannya saya diajak ke Pantai matahari terbit, Pantai Sanur. Kak Irmi dan kak Asgar hanya mengantar dan duduk-duduk menikmati cemilan dan minuman karena kak Irmi sedang hamil besar, jadi tidak bisa jalan jauh. Jadilah saya menyusuri pantai Sanur sendirian. Foto sana-sini. Memungut bunga kamboja, menghirup dupa-dupa yang dibakar. Pokoknya kentara sekali kalau saya baru pertama ke sana. Bodo'amat, tidak adaji yang kenal ka. Haha. Perjalanan dari rumah ke Sanur melintasi kota Denpasar yang sumpah keren, asri, dan sejuk. Banyak pohon dan tanaman sepanjang perjalanan. Tidak ada lahan gersang seperti di kota pada umumnya.
Hari Minggu, Zen dan Nauval di sunat, jadi jalan-jalannya libur. Tapi kemarin kak Asgar mengantar saya ke Kuta. Saya 'dibuang' disana setelah dibekali pengetahuan tentang daerah itu sepanjang perjalanan. Saya diturunkan di Pantai Kuta, dan kak Asgar kembali ke tempat kerjanya. Saya sendiri lagi. Menikmati pantai kuta yang sangat terkenal, tapi sayang, banyak sampah disepanjang pantai. Katanya ini dari laut, karena hujan dan angin kencang. Banyak ranting, kayu, dan rumput laut yang berserakan. Meski begitu, sunsetnya tetap tidak berubah. Tetap cantik seperti kata orang-orang.
Karena masih siang dan panas, saya memutuskan untuk keliling. Akhirnya saya tembus di jalan Legian. Kamera ON. ^_^
Yang pernah ke sini pasti tahu. Sepanjang jalan Legian, ada art shop disisi kiri dan kanan. Tempat jualan makanan, minuman, baju, sepatu, oleh-oleh khas bali, lukisan, pernik kaca, pahatan, dream cather, semuanya ada di sini. SEMUA ADA DI SINI!
Setelah berjalan agak jauh, saya tiba di percabangan tempat monumen Ground Zero. Tahu kan? Monumen untuk mengenang peristiwa ledakan bom tanggal 12 Oktober 2002 lalu di jalan Legian. Menuju sore saat itu, saya melintasi pagar pembatasnya, menuju depan monumen. Ada beberapa buket bunga dan tulisan Happy Birthday di sana. Saya menatap sekeliling, bule semua! Saya akhirnya baca Al Fatihah dan pergi dari sana setelah mengambil beberapa foto. Lanjut perjalanan di sepanjang Jalan Legian. Yang jomblo memang cocok jalan-jalan disini sendiri. Tidak ada yang peduli, kecuali tukang ojek. Itupun mereka ganteng. Huh....Bali, sejauh ini yang saya temukan, dari penjaga toko, kasir, tukang ojek, sampai satpam bank, semuanya gagah! Dengan kata lain, sepertinya jika kamu tidak gagah, kamu tidak bisa dapat pekerjaan di Bali. Hahahahaha... Justkid.
Menyusuri jalan Legian hingga ujung, saya kembali ke pantai Kuta, sunset sebentar lagi. Siapkan kamera, siapkan ponsel, dan yang membuat saya terkejut, pengunjung semakin banyak. Ramai! Sumpah! Sama-sama duduk di pasir menikmati sunset. Dan....saya bersyukur sekali bisa ke tempat ini. Hingga angin bertambah kencang dan langit mulai gelap, saya kembali ke pinggir jalan. Nongkrong di depan Hard Rock Cafe. Mau foto di depannya tapi sumpah kaki saya tidak sanggup lagi. Benar kata kak Asgar, jalan di sepanjang Legian membuat lupa waktu, dan capeknya terasa nanti di rumah. Saya dijemput pulang setelah 30 menit matahari terbenam di bibir pantai Kuta.
Terima kasih.....

0 comments