Kenapa Drama Twenty Five Twenty One Layak di Rewatch?
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kepada para penggemar drakor yang tercinta. Drama epik Twenty Five Twenty One (2521) keren banget! Kan? Siapa yang sependapat?
Sudah di duga sih, Netflix tidak pernah mengecewakan. Kesan pertama saat melihat trailer drama ini, "Ah, mungkin gak bagus, latarnya tahun 90an." Tapi berkcaca pada Reply 1988 yang latarnya jauh lebih tua, tidak ada salahnya nonton. Ciahhh alasannya, padahal mau nonton gara-gara scene yang Nam Jo Hyuk buka toko buku dan pakai kemeja putih, itu tampan sekali ya Rabbi.
Tanpa bercerita tentang kisahnya, drama ini sudah menang di penggunaan komposisi warna. Yes, itu alasan pertama saya menyukai drama ini.
Foto Na Heedo bersama tas merahnya di depan rumah yang menghadap ke pemukiman, dengan sebuah tiang etnik membuatmu ingin berada di sana. Cantik sekali! Dari video wawancara mereka, mereka juga mengakui itu. Lokasi yang indah dan cuaca yang cerah. Pantesan langitnya biru, pepohonan hijau, tas Heedo merah. Kontras.
Meskipun di era 90an, tapi warna-warni yang digunakan sangat tepat komposisinya, bagus scenerinya dan mereka benar-benar menemukan lokasi syuting yang luar biasa indah.
Kisah Na Heedo, siswi kelas 2 SMA yang bersusah payah agar tetap bermain anggar di tengah rumitnya masalah yang disebabkan IMF, krisis moneter tahun 1988 yang mengguncang dunia. Karena krismon saat itu saya masih kecil, saya belum paham apa yang terjadi. Berkat drama ini dan beberapa drama korea lainnya, saya akhirnya paham betapa besar dampak krismon 1998 yang menyebabkan unjuk rasa dimana-mana meminta pak Suharto untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden Indonesia pada saat itu. Bukan hanya di Indonesia, korea juga mengalaminya.
Na Heedo mengamuk pada ibunya agar pindah sekolah. Karena tidak dikabulkan, akhirnya ia mulai melakukan segala cara agar dikeluarkan dari sekolah, tapi selalu gagal. Dalam usaha itulah ia bertemu dengan Baek Yijin, korban IMF yang lain. Keluarganya bangkrut dan yang melihatnya diremehkan oleh teman-temannya adalah Na Heedo. Kisah mereka berawal dari ketidaksengajaan ini, kepolosan dan semangat Heedo, dan juga buku seri berjudul Full House.
Setelah berjuang sungguh-sungguh, akhirnya Heedo berhasil pindah sekolah dan bertemu dengan pemain anggar idolanya, Ko Yurim, yang menjadi musuh bebuyutannya selama beberapa waktu. Di sekolah barunya juga, ia bertemu dan berkenalan dengan tan baru. Jung Seungwan sang ketua kelas yang pintar, dan Moon Jiwoong, siswa tampan dari kelas II7.
Kelima tokoh utama sudah diperkenalkan. Dan saya suka sekali dengan hubungan mereka berlima.
Na Heedo yang beranggar karena dia sangat menyukainya sejak kecil dan ingin mempersembahkan medali untuk almarhum ayahnya.
Baek Yijin yang berjuang mencari pekerjaan ditengah IMF walau dia harus berhenti kuliah.
Ko Yurim yang beranggar untuk membantu ekonomi keluarga.
Moon Jiwoong yang selalu berlagak santai padahal ia adalah anak broken home.
Dan Ji Seungwan yang tidak punya masalah apa-apa, tapi sekali membuat masalah gak bisa kelar 1 episode.
Selain mereka, juga ada anak remaja yang berperan sebagai anak Heedo dimasa depan. Karena itu drama ini membuat kita menebak apakah Heedo dan Yijin akan bersama di akhir drama ataukah tidak. Karena nama anak itu adalah Kim Minchae, yang seharusnya bermarga Baek jika ayahnya adalah Yijin. Petunjuk ini seharusnya sudah sangat jelas, tapi netizen masih berharap kalau Heedo dan Yijin pasti bersama.
Masalah yang ditampilkan dalam drama ini sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Saling benci dengan teman, tapi akhirnya jadi teman baik. Gengsi bilang sayang sama ibu, ayah. Takut membuat orang tua sedih. Tapi yang paling mengesankan bagi saya adalah semangat Heedo yang tidak pernah padam untuk terus bermain anggar, walau ibu yang harusnya jadi pendukung nomor satunya, justru memintanya berhenti karena tidak berbakat. Bayangkan betapa sakit hati seorang remaja SMA yang mendengar kalimat seperti itu dari ibunya sendiri.
Tapi Heedo lain, dia anak yang sangat hebat. Dia membawa rasa sakit itu dan berhasil memenangkan medali emas dan menjadi atlet internasional yang diakui dunia.
Dan soundtrack drama ini, diantaranya dibawakan oleh Taeil (NCT) dan Dokyeom (SEVENTEEN) yang merupakan deretan main vocal di grupnya. Nice and great song... and amazing voices.
Sampai episode terakhir, kita digiring untuk mengetahui bagaimana Heedo dan Yijin berusaha untuk menyelamatkan hubungan mereka. Bagaimana perjuangan Heedo dan Yijin untuk kebahagiaan mereka. Bagaimana Yijin mendukung Heedo dan sebaliknya.
Dan masalah ayah Kim Minchae, ternyata bukan itu intinya. Drama ini tidak menggiring kita untuk mengetahui siapa yang akhirnya bersama Heedo. Tapi bagaimana Heedo menghadapi perasaannya dan profesionalisme nya sebagai atlet. Masalah perasaan tidak pernah mudah, apalagi jika itu rasa sakit dan kecewa. Mungkin bisa bertahan, tapi berapa lama?
Well, kita tetap diberi keindahan di setiap scenenya.
Terima kasih Na Heedo dan kawan-kawan
Terima kasih TvN
Terima kasih Netflix





0 comments