Untuk Siapa Saja
by
Riara
- September 18, 2022
Ini catatan yang mungkin akan membuatmu tersenyum beberapa tahun yang akan datang.
Tentang pernikahan. Tentang yang belum, akan, dan telah menikah. Saya bicara dari sisi yang belum. Hehe.
Sependek pengetahuan saya, pernikahan bukanlah sebuah masalah sederhana. Karena itu orang-orang yang sudah menikah, tolong berhenti bertanya 'kapan nikah' pada kami/mereka yang belum menikah. Banyak hal yang harus disiapkan, bukan hanya uang tapi juga mental dan kecerdasan emosional. Mempersiapkan diri sendiri lebih penting karena saat menikah bukan berarti semuanya selesai, kita justru memulai babak baru kan? Jadi bisa dibilang kita mulai dari nol, tapi gak sendiri lagi. Sudah berdua. Hehe.
Nah, setelah menikah. Lalu apa? Punya rumah, mobil, pekerjaan. Terus? Manusia, pasti masih ingin lebih. Kita akan terus menginginkan dan terus menerus berusaha memenuhinya. Mungkin inilah sebabnya banyak pasangan yang tampaknya memiliki segalanya, tapi sebenarnya tidak bahagia karena keinginan yang tidak pernah habis tanpa pernah merasa puas dan bersyukur. Saya jadi ingat kata ustadz Felix. Tujuan menikah itu yang paling utama adalah sakinah, dimana kita merasa cukup. Kalau sudah turun sakinah dari Allah, maka tujuan pernikahan tercapai. Dan setelah itu, barulah mawaddah dan warahmah menyusul. Ihhh senang banget dengar podcast ustadz Felix waktu itu. Yang dibutuhkan dalam pernikahan hanya SaMaWa, selesai.
Selain itu, setelah menikah biasanya pasangan akan dikaruniai seorang anak. Tapi kita tahu tidak semua pasangan bisa mendapatkan karunia ini di tahun pertama pernikahan. (Saya minta maaf karena membahas ini mungkin akan melukai perasaan banyak orang). Ada yang harus menunggu beberapa tahun, belasan, hingga puluhan tahun. Bahkan ada yang memang tidak bisa memiliki anak karena faktor genetika atau masalah medis lainnya. Banyak juga yang ditakdirkan memiliki anak, tapi orangtuanya (maaf) 'membuangnya'. Ada yang ditakdirkan memiliki anak berkebutuhan khusus, tapi orangtuanya justru lebih bersyukur. Ada yang melahirkan anak sehat tapi suka membuat onar. Dan masalah dalam kehidupan setelah menikah semakin kompleks.
See? Itu hanya sedikit dari banyak masalah (ujian) yang akan ditempuh setelah menikah. Gak mudah, gak gampang, dan bukan kaleng-kaleng. Karena itu saya setuju dengan pendapat para ulama, akun-akun hijrah, quote-quote inspiratif, kalau sebaiknya belajar agama dulu, memperbaiki diri dulu, sebelum berani mengatakan "Saya mau menikah". Terutama untuk laki-laki, sejak ijab qabul maka tanggungjawab berpindah padamu. Sejak saat itu, semua dosa istrimu kamu yang menanggung sampai ke akhirat.
See? Pernikahan itu tidak mudah. Jadi jangan dengan mudahnya menanyakan 'kapan nikah?' karena sebenarnya pertanyaan itu kurang sopan. Why? Pertanyaan itu setara dengan 'kapan punya anak' atau 'kapan kamu mati?'
Yang punya jawaban itu cuma Allah.


