When Being Interest to Someone

by - September 03, 2022

 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Cukup lama juga waktu yang diperlukan sampai saya akhirnya merasakan ini, "Being interest pada seseorang". Setelah sekian lama, saya tertarik pada seseorang!! Haha. Dan melihatnya langsung kepikiran menikah!

Siapa dia? Saya hanya tahu nama, kampung halaman, dan di kota mana ia bekerja. Hanya secara umum, itupun karena seseorang terlalu banyak informasi tapi tidak menyebutkan secara spesifik -_-


Hingga saat ini hanya 2 orang yang saya beritahu, dan mereka langsung gencar mencari tahu. sebenarnya saya sudah punya nomornya (setelah pemakluman segala cara), tapi terlalu malu untuk menghubungi. Ya jelaslah malu. Usia saya kemungkinan lebih tua darinya, saya juga pengangguran, tanpa kualifikasi yang membanggakan. Se-insecure itu! 


Awalnya kami tidak sengaja bertemu mata, saya lupa apa yang saya lakukan saat itu, buang muka atau menutup mata. Yang jelas, tatapan itu membuat dada saya bergetar, salah tingkah. Astagfirullah. Mungkin saya memang diuji, bisa dibilang saat itu posisi kami berdekatan (tetap ada jarak, cuma maksudnya untuk ukuran tempat yang sangat luas, posisi kami cukup dekat). Saya seperti terpaku, melarang mata melihat ke dia, membekukan kepala agar tidak menoleh ke dia. Suaranya bahkan samar-samar tetap terdengar. Mungkin saat itu saya berdosa sekali ya? Astagfirullah. Pokoknya sampai kami meninggalkan tempat itu, kami tidak pernah saling bicara, dikenalkan juga tidak, padahal ada teman yang kenal dekat sama dia. Tapi MALU!!! Ya Allah, terima kasih. Karena malu itu, saya tidak bertindak bodoh lebih jauh. 


Tapi setelah satu minggu, ingatan hari itu masih ada bahkan tambah besar. Entah berapa istigfar yang sudah saya sebut hari ini. Ada rasa menyesal kenapa tidak bertanya pada temannya saat itu. Ada banyak tanda tanya yang butuh jawaban. Tapi ah, malu.


Jujur, saya tidak punya keberanian itu. Menghubungi laki-laki lebih dulu, meskipun dengan niat baik, tetap terlalu takut. Mungkin takut kecewa akan penolakan. Ternyata setakut itu saya pada manusia.


Astagfirullah. Dia adalah orang pertama yang membuat saya mengucapkan astagfirullah berulang-ulang. 


Ya Allah, tolong lindungi kami. 


You May Also Like

0 comments