Six Years

by - April 01, 2015

Dingin menusuk kulit pagi ini, tapi semburat jingga sang fajar membuat saya menarik selimut dan segera berdoa. Tuhan, tepat enam tahun ayah meninggalkan kami. Rindu ayah ;(

Mungkin postingan ini agak lebay, tapi memang beginilah kenyataan. Hidup tanpa seorang ayah itu rasanya seperti ada yang kurang. Yang senasib dengan saya pasti merasakan hal yang sama. Bagaimanapun, saya tetap bersyukur karena masih punya ibu yang sehat meski cerewet. Hehe.. Tapi tetap saja rindu itu ada.

Tidak ada lagi yang menelepon mengingatkan shalat, tidak ada lagi yang mengerjakan tugas kimia, meski sudah dijelaskan panjang lebar saya tetap tidak mengerti. Tidak ada lagi yang mencangkul dan mencabut rumput di pekarangan rumah. Tidak ada lagi bau rokok. Ahh...semua hal yang membuat rindu. Ayah.....

Ayah adalah seorang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di SMA Negeri 1 Watansoppeng, diakhir hidupnya. Beliau adalah seorang guru kimia yang disegani semua murid. Kadang saya merasa payah, karena kecerdasan ayah tentang kimia tidak menurun pada saya sama sekali. Tapi ayah tidak pernah mengatakan saya bodoh. Beliau mengajar saya dengan sabar, meskipun saya tetap tidak bisa ahli dalam bidang kimia.

Setiap bulan, biasanya ayah mengunjungi kami, anak-anaknya yang kuliah di Makassar. Umur manusia siapa yang tahu? Hari ketika saya tidak mengantar ayah pulang karena ada rapat di kampus adalah kunjungan ayah yang terakhir. Setelah itu saya ikut sebuah pengkaderan di kampus (OPKL) dimana lokasinya tidak ada jaringan, telepon tidak berfungsi, di Ramma. Pulang dari kegiatan itu, barulah saya mendengar kabar kalau ayah di RS Wahidin Sudirohusodo, stroke. Wow!!! "Pisau"nya tajam sekali, perih.

Selama dua minggu saya tidak ke kampus, dua minggu selanjutnya saya pulang pergi kampus rumah sakit. Bahkan teman-teman mengira kalau ayah sudah sehat dan keluar dari rumah sakit. Hingga di akhir maret 2009, sehabis shalat maghrib, ayah pergi menghadap Allah. Saya dan kakak disana, menangis. Sedih, tapi ada kelegaan di dada saya, dengan begitu penderitaan ayah berakhir. Ibu hebat, beliau tidak mengeluarkan setetes air mata pun. Arti sebuah keikhlasan, berat tapi harus.

Karena ini juga, saya menyalahkan OPKL. Tepat pada hari pemberangkatan, ternyata adalah hari dimana ayah masuk rumah sakit di Soppeng, dan malamnya dirujuk ke RS Wahidin, Makassar. Tapi saya yakin ayah tidak ingin saya berhenti malakukan hal yang saya cintai (berpetualang) hanya karena ini. Jadi kesempatan selanjutnya saya tetap ikut OPKL, dan sesekali berkunjung ke Ramma bersama teman-teman sekadar untuk refreshing. Sudah setahun lebih saya tidak ke Ramma, tahun ini ada kesempatan ke sana lagi, tapi karena ada sebuah kegiatan yang lebih penting, mungkin saya tidak bisa ikut. Ramma adalah kenangan buruk yang selalu bisa saya taklukkan. Berada disana selalu membuat saya mengingat ayah, bersyukur Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya dengan alam yang luar biasa indah. Saya tidak menyangka bisa berada di sana karena (ini rahasia), fisik saya sangat lemah, hanya semangat yang selama ini membuat saya mampu berada disana. Yang sering pergi bersama saya pasti tahu itu.

Ayah tahu saya suka hal-hal semacam itu. Beliau tahu anaknya ini lemah dan aneh. Beliau juga tahu saya suka komputer, maka beliau mendaftarkan saya kursus komputer. Memang hanya MS Office, word dan excel. Lihatlah sekarang, saya suka menulis. Jari menari diatas keyboard, meski ada satu waktu ketika ide itu tersumbat.

Yang paling membuat saya sedih ketika ayah pergi adalah adik saya yang paling bungsu. Waktu itu, dia masih kelas 3 SMP dan memang dia yang paling dekat dengan ayah. Saya khawatir itu akan menjadi beban di ujian akhirnya, demikian dengan adik saya yang satunya, juga kelas 3 tapi SMA. Untunglah kekhawatiran saya tidak terbukti. Mereka lulus dengan nilai memuaskan. Anak ayah kan hebat!

Sudah 2015. Kedua adik saya sudah kuliah, satunya sedang stres mengurus skripsi, kakak saya juga kuliah lanjut S2. Saya? Sedang sibuk penggemukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hahaha

Apapun, terima kasih ayah, terima kasih ibu. Anugerah Tuhan yang tidak bisa ditolak dan harus selalu disyukuri adalah cinta dan orang tua. Enam tahun waktu yang cukup lama untuk mengerti dan menerima kepergian ayah. Saya sudah ikhlas, dari dulu. Karena kata pak uztad di malam taksiyah pertama, "Kalau kita tidak ikhlas, arwahnya akan kesakitan. Karena itu, jangan angkat tubuhmu dari sajadah sebelum membaca al-fatihah sehabis shalat."

Six years Dad, and I'll never forget you. Thanks to be my best man ever been mine.

You May Also Like

1 comments