Kapan Terakhir Kali Kamu Menangis?
Suhu dingin membuat saya ingin tidur lebih cepat. Tapi, mata tak kunjung terpejam. Jadi saya meraih ponsel, tak ada yang menarik. Saya menemukan aplikasi blogger dan berniat menulis. Tidak ada ide, tiba-tiba saya teringat kisah seorang anak yang berjuang membantu ibunya sebagai tukang sapu jalanan. Iya, saya menonton itu tadi pagi via youtube.
Kisah itu mengharukan. Air mata saya menetes. Seorang anak SD, bercita-cita menjadi seorang tukang sapu jalanan. Tidak seperti teman-teman seusianya yang ingin menjadi dokter, pramugari, astronot. Alasannya sederhana, untuk menggantikan ibunya. Karena ibunya pernah mengalami kecelakaan, jadi dia ingin ibunya istirahat saja, biar dia yang menggantikan ibunya menyapu. Mulia bukan?
Jika tidak menontonnya, mungkin saya tidak akan punya jawaban, kapan terakhir kali saya menangis. Tapi sebenarnya yang saya tanyakan bukan menangis haru, tapi karena sedih, karena sakit yang ditanggung jantung. Pernah?
Kenapa saya ingin tahu? Kemarin seorang teman menceritakan kisahnya. Dia kecewa, sangat kecewa dengan orang yang ia percaya. Di skip saja ya, yang jelas jika itu saya, mungkin saya sudah mengamuk, marah, menangis. Tapi dia tidak. Teman saya tidak menangis, justru tertawa. Menertawakan kebodohannya mempercayai orang itu.
Artinya, sakit dan kecewa yang ia rasakan benar-benar berada di level dimana air mata pun tidak sanggup menerjemahkannya. Sangat sakit!! Saya merinding mendengarnya.
Jika pada taraf yang seperti itu dia masih bisa bertahan, kenapa saya tidak? Sakit sampai ke jantung juga pernah saya rasakan. Seperti ribuan tombak yang tepat mengenai jantung, hingga ia pecah berantakan. Orang lain pasti akan merasakan yang sama, ketika kita kehilangan seseorang yang sangat kita cintai.

0 comments