Sakit itu Menuntut untuk Dirasakan
Siapapun tahu rasa sakit itu apa. Jatuh dari sepeda dengan kepala mendarat lebih dulu, terbentur sudut meja, atau seseorang menendang tulang keringmu. Aowwww....pasti sakit sekali. Tapi yang sakit itu hanya fisik. Bisa saja jiwanya bahagia. Misalnya karena dia lulus dengan nilai terbaik, makanya dia mengendarai sepeda dengan semangat dan tidak sengaja jatuh karena menghindari tabrakan.
Sakit yang dirasakan fisik hanya butuh waktu singkat untuk pulih. Tapi jika yang sakit di dalam sini (hati), pulihnya tidak bisa diprediksikan. Sakit hati, biasa dikatakan jika perasaan seseorang sedang terluka, entah karena kecewa, sedih, marah, dan lainnya. Sakit hati, sakit perasaan, kebanyakan dialami orang-orang yang telah atau sedang jatuh cinta. Kita ambil contoh ini saja, karena kasus sakit hati paling banyak dari sini.
Judul postingan ini saya ambil dari film The Fault in Our Stars. Quote yang menarik, meski saya kurang begitu menghayati ceritanya. Rasa sakit itu menuntut untuk dirasakan. Ya, kecil saja namun dampaknya luar biasa. Belum lama ini ada seseorang yang curhat kalau dia sedang terluka, memang dia tidak menangis tapi sakitnya di dada. Sepertinya itu karena kecewa tingkat tinggi pada seseorang. Saat air mata dan kata-kata tidak bisa menerjemahkan lagi bagaimana rasanya. Sakkkiittt....!
Itulah kata Tere Liye, sekali kita menganggap sesuatu adalah everything, jika tiba saatnya seperti ini yang tersisa hanyalah nothing. Jadi jangan berlebihan menganggap sesuatu itu penting.
Rasa sakit itu terasa jika kita mengizinkannya. Orang lain menyakiti kita, karena kita mengijinkan. Jadi jangan izinkan sakit itu menguasai. Karena rasa sakit itu menuntut untuk dirasakan.

0 comments