First August
Hari pertama bulan Agustus dan ada banyak cerita yang siap dituliskan.
Yup....26-29 Juli kemarin, Angkatan 6 Sokola Kaki Langit menebarkan ilmu mereka untuk adik-adik di Umpungeng. Seperti cerita sebelumnya, medan yang dilalui tidak pernah mudah. Selalu butuh kaki tangguh dan jiwa pantang menyerah untuk tiba di desa Umpungeng. Dan hingga kini, semua volunteer berhasil. Dari yang kurus hingga yang gemuk, yang asma hingga yang pingsan, mereka bisa menaklukkan semuanya, karena semangat untuk berbagi bersama adik-adik yang terus berkobar.
Jumlah volunteer membludak kali ini, 24 orang!!! Jujur, saya tidak mengenal semuanya, mereka terlalu banyak dan saya terlalu pemalu untuk mengajak mereka berkenalan. Huhh...payah!! Meski begitu, semua kegiatan terlaksana dengan baik.
Hari pertama ke sekolah, banyak volunteer yang belum sarapan jadi makanan dibawakan ke sekolah. Tak ada piring, tanpa gelas, hanya sendok dan nasi goreng dalam termos kecil. Akhirnya nasi goreng dinikmati bersepuluh, dengan menggunakan daun pisang sebagai piring. Air minum dua botol pun dicukupkan untuk sepuluh orang. Hah..... How wonderfull day!!
Ada satu waktu, ketika volunteer pendamping (angkatan sebelumnya) tidur siang, termasuk saya. Awalnya saya pikir hanya saya yang begitu, ternyata yang lain juga sama. Kami terbangun dengan alasan yang sama. Teriakan anak-anak ketika kelas bahasa inggris. "One! Two! Three! Four! Five! Six! Seven! Eight! Nine! Ten!!!" Tawa bodoh pun meledak bersamaan.
Hari selanjutnya, volunteer angkatan 6 ke sekolah. Kami sisanya dirumah dan menyiapkan banyak hal. Belajar membuat ketupat, awalnya untuk pelajaran kelas kreatif. Indo' tertarik dan menyarankan agar kami membuat yang banyak dan ternyata benar, ketupat itu di isi kemudian dimasak beberapa jam. Selain itu, volunteer lain mencabut singkong di kebun depan rumah Indo, setelah itu juga menggali ubi jalar dan menanamnya kembali. Ditempat lain, ada yang bertugas mengupas dan mencuci ubi tersebut. Lontaran kata-kata lucu dan berbagai bualan, juga bully-an membuat semua terpingkal. Pekerjaan ini terasa ringan meski sangat banyak.
Akhirnya ubi menjadi menu makan malam kami pada malam terakhir di Umpungeng. Ubi rebus, ubi goreng, sup ubi, dan ketupat adalah makan malam terenak, karena malam itu suhu sangat dingin. Huff....akhirnya kerja keras kami seharian terbayar. Kamu tidak akan tahu rasanya jika tidak pernah makan besar bersama teman-temanmu.
Perjalanan pulang, kami memetik bunga dan menjadikannya mahkota, berfoto dan dibully sepanjang perjalanan. Oh ya, ketika hampir tiba seorang volunteer memanjat pohon jeruk dan dahaga kami hilang. Tapi, karena itu saya lupa mengambil bunga yang sudah kami kumpulkan sepanjang perjalanan. Tidak mungkin kembali mengambilnya, tanjakan itu menakutkan. Sebut saja itu "Tanjakan Putus Asa" Hahaha....
Kami tiba paling akhir. Semua volunteer tiba dengan selamat. Alhamdulillah...
Hai kawan, tidak berniat menjadi salah satu dari kami? Volunteer yang bekerja dengan hati, senyum, dan ikhlas.

0 comments