Keluh Dunia
Assalamu alaikum...
Selamat malam.
Hari ini saya hampir menangis. Sedih, kecewa, takut, juga marah karena belum shalat Ashar sementara yang saya kerjakan banyak sekali. Berburu waktu agar cepat selesai dan saya bisa segera shalat. Tapi akhirnya waktu tidak terkejar.
Sedih, harus melewatkan shalat.
Kecewa, karena saya lebih mengutamakan dunia.
Takut, nanti Allah marah.
Bagaimana dengan akhirat nanti?
Saya juga marah pada pekerjaan yang tak kunjung selesai. Saya marah pada kemampuan diri yang kurang. Saya marah karena saya lelah. Saya butuh istirahat. Tapi tidak dimengerti. Allah... Tolong, maafkan hambaMu ini.
Dan titik paling mengecewakan adalah saat saya mengeluh, kenapa dalam satu hari hanya ada 24 jam? Saya butuh waktu lebih banyak untuk tidur. Ya Allah, saya mengeluh. Padahal sebelumnya saya benci orang-orang yang kerjanya hanya mengeluh.
Saya kenal seseorang yang begitu mudah bercerita tentang keluarganya yang berantakan karena ibu dan ayahnya, masing-masing menikah lagi dengan orang lain dan menelantarkan anak mereka. Dia mengatakannya dengan santai, meski saya merasakan suaranya bergetar. Tapi dia tidak mengeluh. Dia hanya berjanji tidak akan hidup seperti orangtuanya. Dia berhak punya hidup yang lebih baik. Dia ingin membuktikan hal yang seharusnya orangtua lakukan pada anaknya. Dia kuat.
Astagfirullah...
Maaf karena sudah mengeluh. Dunia hanya dunia. Akhirat adalah segalanya. Jangan terpaku pada dunia yang sementara. Jangan pernah menomorsatukan dunia, Noona. Itu tidak kekal.

0 comments