Perjalanan Tujuh Ribu Rupiah
Assalamu alaikum...
Hari ini saya melakukan perjalanan menuju rumah nenek. Naik pete-pete seorang diri. Jarak dari rumah ke rumah nenek hanya belasan kilometer, melintasi satu kecamatan, cukup dekat. Hehe. Tapi perjalanan ini mempertemukan saya pada banyak pelajaran.
Saat menanyakan tujuan pada pak supir, saya menyadari kalau suara saya indah. Haha. Oke, ini bisa disangkal. Di dalam pete-pete sudah ada dua penumpang, seorang ibu-ibu dan nenek. Hati saya langsung damai karena ditemani dua perempuan ini. Saat melepas ransel ke pangkuan, tanpa sengaja saya melihat kaki nenek di sebelah saya. Kurus, kecil, ringkih, dan di usia setua itu beliau masih terlihat sehat dan segar. Salut.
Tak berapa lama kemudian, pete-pete berhenti. Ternyata ada penumpang dan waw... Mama muda. Saya melihat dari wajahnya yang mungkin lebih muda dari saya, menggandeng anak kecil yang usianya berkisar tiga tahun. Mata kami sempat bertemu dan saling melempar senyum canggung. Menjadi ibu di usia yang sangat muda bukanlah hal yang mudah. Salut sekali dengan perempuan ini.
Kejutan lainnya muncul saat tak lama kemudian naik penumpang anak laki-laki berseragam merah putih bersama ibu atau mungkin kakaknya (soalnya masih muda). Tebak apa yang menarik? Anak itu adalah anak yang mengidap down syndrome atau dikenal banyak orang dengan nama 'anak wajah sedunia'. Hanya puluhan meter hingga mereka mengatakan kiri yang artinya mereka telah tiba di tujuan. Ibu atau kakaknya itu turun lebih dulu untuk membayar ongkos mobil, lalu lihatlah anak kecil ini. Ia berdiri di tempatnya dan merapikan/memasukkan bajunya sebelum turun dari mobil. Ia dipanggil dan segera turun. Mobil melaju, dari balik kaca mobil saya melihat mereka bergandengan menyeberang jalan menuju sekolah yang memang dibangun untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Ya Allah, pemandangan yang menyentuh batin. Masih ada orang yang tulus merawat anak-anak seperti mereka. Orang-orang baik di dunia ini masih banyak.
Pete-pete kembali melaju dan tak berapa lama seorang kakek menghentikan mobil. Tertatih ia berusaha keras untuk naik dan berhasil. Begitu duduk, ia langsung bilang, "Lutut saya sakit, karena jatuh terlempar. Saya dari Palu." Saya terkesiap, saya sedang berhadapan dengan korban bencana di Palu. Subhanallah. Ini sangat luar biasa. Beliau kemudian bercerita tentang banyaknya korban, rumahnya yang runtuh rata dengan tanah. Dan beliau di sini karena menginap di rumah keluarga. Lalu saya bertanya dia mau ke mana. "Mau ke warung. Lapar saya." Belum sempat saya bertanya apakah keluarganya tidak memberi makan, beliau lebih dulu mengatakan, "Di rumah mereka masak bubur, bosan saya." Saya hanya bisa tersenyum. Alhamdulillah kakek itu selamat, dan keras kepala seperti kebanyakan orang tua. Haha...
Allah itu Maha Baik. Saat tiba di tujuan, kakek turun dengan hati-hati, menahan sakit di lututnya. Dan pak supir langsung menjalankan mobilnya, yang artinya kakek tadi tidak perlu membayar. Ya Allah, air mata saya hampir menetes. Terharu bahagia melihat apa yang baru saja terjadi. Pak supir, semoga dapat rejeki melimpah dan bahagia dunia akhirat.
Dan akhirnya giliran saya telah tiba, pete-pete berhenti dan saya membayar ongkos untuk perjalanan ajaib itu hanya dengan TUJUH RIBU RUPIAH! Sekarang saya menyesal kenapa tidak menggenapkan sepuluh ribu saja, atau lebih.
Terima kasih Ya Allah. Saya masih dikelilingi orang-orang baik dan kejadian-kejadian luar biasa. Tidak ada yang bisa menggantinya dengan apapun. Terima kasih. Alhamdulillah Ya Allah. Tolong berikan kesehatan dan kebahagiaan dunia akhirat pada orang-orang yang saya temui hari ini. Amin.
Assalamu alaikum ^_^

0 comments