Ketika Hujan Menyapu Bumi
Assalamu Alaikum...
(Sekarang pengen lebih alim. Uhukk)
Jumat kemarin, tanggal 29 Desember 2018, Soppeng diguyur hujan yang sangat lama dan deras, konstan! Saya sampai stres tidak bisa keluar rumah sama sekali. Apalagi setelah berita tsunami dan gelombang air laut yang tinggi beberapa waktu lalu. Hujan menjadi makin menakutkan. Dari informasi teman-teman, hujan turun sejak tengah malam. Ya juga sih, karena saya bangun pukul 4 pagi, dan hujan sudah demikian lebat.
Berbagai pikiran kemudian bermunculan saat saya menengok ke belakang rumah, air cokelat menggenang. Lalu saya bergegas mengecek samping rumah, juga tergenang. Beruntung rumah panggung, kami aman. Sebagian besar rumah penduduk di Kabupaten Soppeng adalah rumah panggung. Dan mungkin itu salah satu keuntungannya, setidaknya saat hujan deras begini air hanya menggenangi bawah rumah.
Pagi hari, banyak berita banjir muncul di media sosial. Berbagai foto dan video beredar memperlihatkan jalan-jalan yang dialiri air. Petak-petak sawah, rata alaikum.... ng air. Dan itu paling banyak terjadi di Kabupaten Barru (berdasarkan info yang saya baca), yang merupakan jalan poros sehingga menyebabkan pengalihan arus bagi pengendara yang berujung macet.
Di Soppeng juga demikian, beberapa desa mengalami banjir karena air sungai yang meluap. Jumat siang, setelah sholat jumat, hujan reda. Meskipun di beberapa daerah masih hujan, tapi tidak sederas sebelumnya. Hal itu jelas membuat saya tenang. Tahu kan, saya paling takut hujan, apalagi sampai banjir begini.
Hingga sore, matahari tidak pernah menunjukkan diri sekalipun. Beruntung hujan sudah benar-benar berhenti. Alhamdulillah.
Mungkin itu adalah hari dimana curah hujan paling tinggi di Sulawesi Selatan. Tuhan menunjukkan kuasaNya lagi. Mendatangkan hujan, yang membuat petani bersorak. Mendatangkan banjir agar manusia sadar betapa pentingnya tidak membuang sampah sembarangan. Menguji kesabaran siapapun yang harus beraktivitas keluar rumah. Hmmm....
Keesokan hari, saya ke Makassar bersama adik menggunakan motor lewat jalur Buludua, masih hujan, tapi tidak deras. Melewati sawah dengan gunung di ujung sana. Nampak jelas saat di ketinggian, awan menghiasi pucuk-pucuk gunung, cantik. Namun saat tiba di Lereng Hijau (salah satu tempat yang dilewati di jalur Buludua), hhh......kurang apa sih Allah memberi kita sesuatu?
Di atas sana, di lereng gunung mengalir 7 air terjun yang hanya bisa dilihat saat musim hujan. Subhanallah.... Cemas saya tentang hujan, banjir, dan perjalanan jauh langsung hilang. Betapa besar kuasa Tuhan menciptakan alam semegah ini. Kenapa kita masih selalu merasa kurang, kenapa masih selalu mengeluh??? Kurang apa lagi? Mau apa lagi?
Hmm.... Saya memang tidak suka hujan, karena membuat saya takut. Tapi saya tahu dan sadar kalau Tuhan menurunkan hujan dengan maksud. Pasti ada kebaikan di dalamnya. Percaya saja.
Assalamu alaikum...

0 comments