Healing Time

by - Desember 09, 2018

Assalamu alaikum sayang...

Cerita saya kali ini tentang perjalanan, curhat, dan kisah-kisah nyata. Uhuk.. 





Akhir November saya dijejali kesibukan yang tidak terbayangkan banyaknya. Saya hampir menangis, marah, kecewa pada diri sendiri karena itu berhasil membuat saya mengeluh. Padahal keinginan saya sederhana sekali, tidur tanpa gangguan. Payah kan? 

Tanpa sadar ponsel saya berbunyi, dan teman saya Mira mengajak untuk ke Enrekang. 
"Buat apa?" Saya tanya dong, tidak biasanya Mira mengajak saya ke Enrekang. Dia kan sering plesiran keluar negeri, memang sempat dia pulang kampung? 

"Ada acara di Dante, Sabtu Minggu," katanya. 

Sabtu Minggu? Itu kan hari libur. Yowes, tidak usah berpikir lama-lama. Saya mau datang. Lagipula, tempat yang ia sebut belum pernah saya datangi. 

Perjalanan ke Enrekang kali ini adalah yang ke empat bagi saya, dan yang pertama kali dalam karegori pergi sendirian. Iya, saya sendiri dari Soppeng ke Enrekang dengan mobil pete-pete mobil/angkutan umum) tanpa ditemani siapapun. Ini perjalanan ke Enrekang tanpa Mey. Haha (ketawa bangga).

Packing pagi-pagi, karena malamnya saya ketiduran. Berbekal daypack dan sebuah tas kecil saya berangkat. Mobil pertama menuju Batu-Batu, saya bersama penumpang lain yang punya tujuan sama. Beruntungnya mereka semua perempuan, pak supir juga ramah. Aman. Sementara di perjalanan, ada pesan dari Mey, dia nantang untuk menulis perjalanan liburan kami di kota berbeda. Dia di Pare-Pare sementara saya di Enrekang. Sip, challenge accepted! 
Tiba di Batu-Batu, kami pindah mobil dan saya ditemani dua perempuan yang menuju tempat berbeda. Yang satunya ke Pangkajene, dan satunya Pare-Pare. 


Perjalanan dilanjutkan dengan diam, pak supir memutar musik cukup keras tapi saya mengantuk. Langit sedang mendung, tapi tak lama langit kembali cerah. Semangat saya kembali saat kami tiba di terminal Pangkajene. Saya seperti orang hilang yang membawa tas besar dengan memakai rok dan kemeja, mencari mobil tujuan Rappang. 


Akhirnya saya menemukan mobil, lebih tepatnya pak supirnya yang menemukan saya, dan kami menuju Rappang, mobilnya penuh. Tapi tak lama, mereka turun ternyata mereka satu keluarga. Hahaha. Perjalanan kembali dilanjutkan, penumpang tinggal saya sendiri. Si bapak curhat, katanya di sini mereka kesusahan menarik penumpang terutama anak sekolah, tidak satupun. Karena sekarang hampir semua orang sudah punya kendaraan pribadi, adapun yang tidak punya, ada temannya yang jemput. Kasihan juga mendengar cerita beliau. Tapi mau bagaimana lagi, zaman sungguh telah berubah. Tapi pemerintah seharusnya punya ide agar masalah seperti ini teratasi. Supir pete-pete tidak hanya beberapa, tapi banyak! 

Tiba di Rappang, saya membayar ongkos dan berterima kasih dengan sangat pada bapak supir. Dan saya segera naik mobil selanjutnya yang akan mengantar saya ke tujuan akhir. Perjalanan sebenarnya telah dimulai. Untuk sekedar informasi saja, sekarang mobil angkutan dari Soppeng ke Enrekang sudah sangat kekurangan penumpang. Kadang kasihan melihat mereka yang harus menunggu berjam-jam dan saat ketemu penumpang hanya satu. Ya Allah.... Mereka dapat ketabahan dari mana? Ini selalu menyentuh setiap saya melakukan perjalanan seperti ini.


Perkenalkan, ini supir terakhir yang sangat baik mengantar saya yang hanya seorang diri. Tidak sempat tanya nama, tapi dia ramah dan terus mencari bahan obrolan. Saya menjawab sekenanya, tidak enak juga diajak ngobrol tapi cuma jawab jadi saya ikut bertanya. Terjadilah obrolan yang menyenangkan. Beliau singgah sebentar ke peternakan sepupunya dan saya melihat ayam dan telur yang banyak sekali. Hahaha. 


Dari sana, kami melanjutkan perjalanan dan lewat di depan Kebun Raya Masserempulu. Beliau berbaik hati mau mengantar berkeliling. Ya Allah..... Terima kasih ^_^

Saya seperti punya supir pribadi. Berkeliling kebun raya, singgah berfoto, ditunggui sama supir, siang bolong!!! Ya ampun, saya pasti gila. Tapi kapan lagi? Dulu hanya bisa lewat, katanya nanti kita singgah tapi nggak jadi. Kali ini harus jadi, maka jadilah. Bapaknya juga mengantar dengan senang hati. 
Saya sudah bilang kan, panas. 



Karena cuaca sangat panas, saya menyerah, kembali ke mobil lebih cepat. Bapaknya tertawa melihat saya yang kepanasan, beliau menghidupkan AC mobil dan kali ini saya terima. Saya tidak sanggup bepergian dengan mobil menggunakan AC, tapi kali ini saya menyerah. Cuaca benar-benar panas! 

Mendekati pukul satu siang, saya tiba di tujuan. Membayar ongkos dan berterima kasih banyak sepenuh hati kepada bapak supir. Terima kasih telah mengantar saya dengan selamat hingga tujuan. 

Assalamu alaikum Enrekang ^_^


Dan taraaaa.... Saya bertemu orang yang mengundang saya ke sini. Mira. Orang Enrekang yang tidak seperti orang Enrekang. Dia tidak mengenal kampungnya sendiri, masih sering lupa jalan. Sama sih kayak saya. Haha. 

Kami ke rumahnya dan di sanalah saya istirahat makan siang, ganti baju dan tidur melepas lelah. Gerimis turun dan membuat tidur saya semakin lelap. Pukul empat sore saya terbangun dan Mira mengajak keluar. Kami mengunjungi teman pondok saat kuliah dulu. Namanya Ani, dia dulu kuliah di Stmik Dipanegara, sekarang sudah punya dua anak. Sementara saya dan Mira belum menikah. Hahaha. 

Dari rumah Ani, kami keliling jalan-jalan di kota Enrekang. Tidak begitu luas, tidak begitu ramai. Tapi jelas ada kesibukan. Oh iya, sungai yang sangat panjang itu, membelah kota Enrekang dengan sempurna. Tapi sekarang airnya tidak tinggi, mungkin karena curah hujan masih rendah di sini. Saya meminta berfoto di jembatan lama. Menakutkan, karena sungai di bawah sana sangat luas dan airnya keruh. Jadi saya hanya berfoto di pinggir. Magrib pula!! Yap, kami pulang ke rumah. Ingat sholat ya, dimanapun kamu berada. Meskipun saya sedang tidak sholat... Oh iya, ini selalu kejadian. Setiap saya ke sini pasti sedang berhalangan untuk sholat. Tapi kenapa saya selalu kembali ke sini? Hmmm.... Anggap saja itu misteri yang tidak ada penjelasannya.



Lewat pukul delapan malam, kami keluar lagi. Yampunnnn.... Nongkrong di warkop cuma berempat, gadis-gadis berjilbab, membahas liburan yang akan datang sampai pada kasus gempa Palu. Kami menghabiskan waktu selama dua jam di tempat itu dengan menghabiskan sepiring kentang goreng dan minuman masing-masing. Ada saya, Mira, Iit, dan Emma. Saya belum akrab sama Emma, karena baru pertama ketemu, jadi canggung gitulah. Hehe. Tapi terima kasib sudah ikut berpanas-panas, jauh-jauh menemani saya jalan-jalan di Enrekang. 


Pulang dari warkop, saya dan Mira tidak langsung tidur. Tebak apa yang kami lakukan? Nonton drama korea. Hahaha. Saat sudah ngantuk sekali, kami akhirnya tidur. Saya tidur tidak menggunakan selimut. Cerita-cerita tentang Enrekang dingin, belum pernah benar-benar saya temui. Tidur bahkan kepanasan, tapi tetap saja nyenyak, adek capek. Hihi. 

Minggu pagi, 9 Desember 2018, saya bangun dan bermalas-malasan dengan ponsel. (Jangan dicontoh!) Tak lama kemudian, hujan turun. (Di sini ada emot nangis nggak sih?) 

Hujan turun, tapi tidak deras dan tidak lama. Terima kasih Ya Allah, liburan ini hampir saya tuliskan hanya tentang hujan. Saya mandi dan bersiap, menyetrika, dan tanpa sengaja mengintip di jendela. Saya sebelumnya tidak tahu kalau tepat di sebelah rumah Mira adalah gereja. Wow! Gerejanya sederhana, bersih, banyak bunga yang bermekaran. Jarang-jarang kan saya bisa melihat gereja, ini menarik. Tapi waktu semakin berlalu, saya segera bergegas, makan bersama Mira, dan cuss ke rumah Iit. Dari rumah Iit, kami menunggu Emma dan berangkatlah kami ke tempat yang menjadi alasan utama saya melakukan perjalanan ini, Dante Pine. 

Dari kota Enrekang ke Dante Pine dibutuhkan waktu sekitar satu jam menggunakan sepeda motor. Karena Mira baru-baru ini kecelakaan tersambar mobil, jadi dia agak takut untuk mendahului kendaraan di depan kecuali situasi benar-benar aman. Sepanjang perjalanan banyak penjual mangga yang beraneka jenis dan tingkat kematangan berbeda. Kiri kanan pepohonan kalau bukan lembah hijau yang benar-benar hijau. 


Jalanan di sini banyak yang berlubang, ada juga beberapa yang bagus, licin, lebarrr. Dan tibalah kami di tempat tujuan, banyak polisi! 



Sambil menunggu acara dimulai, kami berjalan keliling. Pertama memasuki pintu gerbang, kami bingung karena banyak orang yang berdiri menjemput dengan pakaian seragam dan alat musik di tangan. Siapa yang tidak canggung coba? 



Ternyata mereka bersiap karena bapak Bupati Enrekang akan hadir dalam acara ini. Launching Pasar Digital Mammesa. Pasar ini unik, karena kita berbelanja tidak menggunakan uang seperti biasa, tapi uang yang disebut Benggolo. Seperti uang yang ditukar dengan koin untuk mainan, bedanya di sini bukan mainan tapi jajanan, makanan tradisional, kuliner tradisional. Awalnya saya kira yang akan datang ke acara ini hanya anak-anak muda, tapi ternyata banyak orang tua juga. Mereka bahkan lebih semangat. Sebenarnya kami tidak mengikuti acara dengan khidmat karena kami asyik berfoto di setiap tempat menarik. 




Kemudian hujan turun.... 
Kami tentu saja mencari tempat berteduh. Gerimis halus yang cukup membuat basah. Tapi seperti tadi pagi, tidak lama cuaca kembali cerah. Kami memutuskan pulang, setelah berfoto lagi. Hahaha.. 

Saat kembali ke lokasi pembukaan, ada acara permainan musik yang membuat saya takjub, keren! Permainan musik yang seluruhnya dari bambu dan dimainkan oleh orang dewasa. Rasanya seperti 'rumah' mendengar alunan musik di tengah hutan pinus seperti itu. Suka!!!! Namanya Musik Bambu Barutung.



Ya Allah, keindahan alam dari Dante Pine sungguh membuat saya sembuh, benar-benar healing. Tidak ada metode penyembuhan sebaik alam ditambah menulis. Hehe. 


Kami pulang dan singgah di salah satu warung pinggir jalan untuk makan es cendol. Setelah es cendol hampir habis, yang lain mengajak makan mie kuah juga. Yampunnn.... Tapi saya berpikir itu ide bagus, berhubung setelah ini saya akan melakukan perjalanan jauh lagi untuk pulang ke Soppeng. Walhasil, keluar dari warung dalam kondisi kekenyangan. Hahaha. 

Kami melanjutkan perjalanan, tiba di rumah Mira saya hanya mengambil tas dan berpamitan pada ibunya Mira dan adiknya. Mereka ramah, sama seperti Mira. Ramah heboh! Tunggu mobil lagi di rumah Iit, dan akhirnya saya pulang. Mey sudah setengah kering menunggu saya di Pangkajene bersama supir dan penumpang lain. Maaf membuat kalian menunggu lama. 


Sampai jumpa Enrekang. Kalau ada kesempatan, saya akan datang lagi, mungkin tidak sendiri. Semoga saat itu ada kabar baik. Amin. 




Alhamdulillah Ya Allah.... 
Terimakasih Enrekang
Terimakasih Dante Pine
Terimakasih Mira, Iit, Emma
Terimakasih pak supir
Terimakasih waktu

Assalamu alaikum. 

--------------*****-------------

Malam sebelum berangkat. 
Saya minta izin sama ibu kalau besok mau ke Enrekang. Beliau langsung bilang tidak boleh. Loh, kenapa? Tanya saya. Pokoknya tidak boleh, katanya. Suaranya meninggi dan sesaat saya hampir menangis. Dan jiwa pembangkang saya bangkit. Besoknya packing, dan pamit saat sudah berpakaian rapi lengkap sama ransel. 

"Bu, saya berangkat dulu, besok pulang."

Beliau hanya menengok dengan wajah kesal, tapi tidak menyahut. Kualat, pertama saya lupa bawa cas hp. Kedua, saya pulang dalam keadaan flu berat. Ingusan! 

















You May Also Like

0 comments