Drama Kuliah Online Eps 8
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat malam. Saat menulis ini hujan sudah turun hampir 6 jam. Semoga besok tidak banjir. Amin.
Beberapa hari yang lalu, saya dan Desak janjian di kampus. Rencananya mau ambil kartu mahasiswa, eh kata Bu Ani (bidang akademik) tidak bawa kunci lacinya. Jadi kami tidak bisa ambil kartunya hari itu. Disuruh datang lagi besoknya. Yah, daripada jalan kosong sekalian tanya-tanya, "Apa saja persyaratan untuk seminar proposal?"
Tiba-tiba ibu'nya tanya-tanya balik.
"Berapa orang? Namanya siapa? Nim?"
Terus sibuk mengetik. Tak lama kemudian, kami dikasih 4 lembar form yang harus di isi, lalu ditandatangani oleh ketua prodi.
Kami yang tidak tahu apa-apa cuma saling lirik. "Apa ini? Mau diapakan?"
Jadi dibaca dulu, cermati. Ternyata itu adalah berkas kesediaan penguji dan pembentukan panitia seminar. Masih banyak pertanyaan, tapi akhirnya kami putuskan ketemu ketua prodi saja.
Dari akademik ke ruangan ketua prodi itu subhanallah banget. Lantai 1 ujung, ke lantai 3 ujung satunya di gedung terpisah. Taulah ya, kampus ini besar dan luas. Tiba di depan ruangan ketua prodi kami sudah ngos-ngosan, pakai masker pula!
Setelah mengumpulkan nyawa keberanian, kami masuk. Memperlihatkan berkas yang diberikan Bu Ani, dan beliau menjelaskan bahwa untuk berkas ini dia harus membagi daftar penguji terlebih dulu ke mahasiswa, mahasiswa hubungi masing-masing kesediaan mereka, isi form, baru ditandatangani. Selanjutnya bawa ke Bu Ani, barulah diterbitkan SK penguji dan panitia seminar.
Dalam hati saya kaget. Kok bisa sampai sini sih? Niatnya kan cuma mau tanya-tanya persyaratan proposal. Perasaan mulai gak enak.
"Jadi saya bagi saja pengujinya sekarang, sesuai tema penelitian."
Perasaan makin gak enak.
Desak disebutkan satu-satu nama pengujinya. Aman.
Selanjutnya saya. Nama pertama bikin saya terlempar ke dunia lain. Ya Allah, saya berdoanya supaya tidak berurusan dengan beliau lagi. Maluuuu. Terus nama kedua, ketiga. Ya Allah, gak bisa lari lagi. Gak bisa kabur lagi. Mereka semua adalah yang paling ingin saya hindari. Mau mengeluh ke ketua prodi, tapi lebih malu lagi.
Kamu setidak mampu itu menghadapi mereka?
Pengen nangis, sumpah. Tapi bukan sekarang. Saya sadar semua pasti terlewati. Kembali ke awal, apapun yang terjadi, terobos saja. Kamu tidak akan mati.
Dari semua hal yang saya takutkan, justru yang paling menakutkan yang dihadapkan dengan saya. Kalau saya lari, apa gunanya doa dan usaha selama ini?
Mereka hanya menguji pengetahuan tentang penelitian yang kamu kerjakan. Bukan menghakimi hidupmu.
Jadi semangat ya sayang?
Karena kamu gak punya ayang, rajinlah menyemangati diri sendiri. Allah ada disisimu, dimanapun, kapanpun, bagaimanapun kondisimu.
"Aku adalah apa yang hambaku yakini."
Kalau tidak salah begitu. Libatkan Allah dalam hal sekecil apapun, apalagi yang besar.

0 comments