Mimpi Atau Teguran
Dunia seolah akan
berakhir. Atau mungkin benar-benar berakhir jika aku melihat mimpi itu hingga
selesai. Kau tahu yang kulihat? Aku berada di sebuah daerah yang penuh oleh salju, suhunya benar-benar
dingin karena sungai membeku. Sejauh aku memandang, yang terlihat hanya salju. Beberapa
pohon tanpa daun menghiasi pemandangan. Itu adalah tempat yang sangat luas
dengan warna putih mendominasi. Di belakangku ada tebing tinggi yang
dipuncaknya juga dihiasi salju.
Aku tidak sendiri, tetapi bersama orang-orang yang
kusayangi. Di sana juga ramai,
banyak sekali orang di tempat itu. Semua berdiri, bercerita satu sama lain, mengenakan baju
tebal. Tiba-tiba, tanah bergetar, bergeser, dan
dari sisi sebelah kiri kami tampak pemandangan tebing yang tumbuh, semakin
lama-semakin tinggi. Tuhan, ini bukan gempa bumi, tapi lebih dari itu.
Bukan hanya
pergeseran lempengan bumi, tapi runtuhnya salah satu struktur tanah bagian
bawah. Tebing yang kami lihat tidak tumbuh, tapi pijakan kami lah yang runtuh,
semakin ke bawah, menuju dasar bumi. Orang-orang berlarian panik, teriakan dan
tangisan dimana-mana. Aku menatap ke sekililing, dimana orang tuaku? Dimana
saudara-saudaraku? Mereka tidak di sini, aku sendiri. Es tebal yang ku pijak
mulai retak, terdengar bunyi gemeretak tanda es yang membeku hancur satu
persatu.
Tebing itu semakin
tinggi, aku baru berpikir untuk lari ke tempat yang aman. Tapi, jika kau
melihatnya sendiri apakah masih ada tempat aman saat itu? Tidak ada. Larilah
sejauh kau mampu. Bersembunyi sebisamu. Tapi saat itu, aku benar-benar tak
menemukan harapan hidup di sana. Tebing tinggi itu mulai rubuh menimpa
sekitarnya, aku hanya berlari dan berlari, hanya itu yang kutahu. Menjauh dari
tebing tinggi itu.
Tepat saat aku akan
mencapai sisi tertinggi tanah yang ku pijak, tiba-tiba di depanku muncul lagi
tebing yang tumbuh tinggi. Aku tidak bisa berlari lagi. Tenagaku habis. Kejutan
Tuhan benar-benar menyedot akal sehatku. Aku terbangun dengan suhu tubuh yang
tidak normal. Tubuhku bagai telah tercebur ke dalam air, basah oleh keringat. Apakah
alam marah? Apakah Tuhan marah? Mimpi itu benar-benar menakutkan. Betapa
kecilnya manusia jika dibandingkan alam semesta. Entah ini mimpi atau teguran, aku benar-benar takut. Melihat
langsung alam menjadi murka adalah hal terburuk.
Orang yang pernah menjadi korban bencana alam dahsyat pasti sudah tahu
bagaimana rasanya. Kehilangan tempat tinggal, kehilangan barang berharga, tapi
yang paling menakutkan adalah kehilangan orang yang disayangi.
Kini bumi semakin panas, angin kencang datang lebih sering, hujan pun demikian.
Bumi butuh bantuan kita. Jika tidak bisa membantu, setidaknya jangan merusak. Alam membutuhkan kita agar ia dijaga. Kita juga butuh alam untuk hidup lebih lama dan memberi kehidupan yang lebih baik pada anak cucu kita kelak.
![]() |
| Alam membutuhkan kita, kawan |
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#day12


0 comments