Mimpi Atau Teguran

by - Februari 02, 2018


Semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena itu, pagi ini aku masih mengantuk dan akhirnya tertidur kembali. Saat bangun, aku berkeringat. Aku bermimpi yang sangat menakutkan. Bukan mimpi tentang hantu, tapi yang jauh lebih buruk dari itu, bencana alam.

Dunia seolah akan berakhir. Atau mungkin benar-benar berakhir jika aku melihat mimpi itu hingga selesai. Kau tahu yang kulihat? Aku berada di sebuah daerah yang penuh oleh salju, suhunya benar-benar dingin karena sungai membeku. Sejauh aku memandang, yang terlihat hanya salju. Beberapa pohon tanpa daun menghiasi pemandangan. Itu adalah tempat yang sangat luas dengan warna putih mendominasi. Di belakangku ada tebing tinggi yang dipuncaknya juga dihiasi salju.

Aku tidak sendiri, tetapi bersama orang-orang yang kusayangi. Di sana juga ramai, banyak sekali orang di tempat itu. Semua berdiri, bercerita satu sama lain, mengenakan baju tebal. Tiba-tiba, tanah bergetar, bergeser, dan dari sisi sebelah kiri kami tampak pemandangan tebing yang tumbuh, semakin lama-semakin tinggi. Tuhan, ini bukan gempa bumi, tapi lebih dari itu.

Bukan hanya pergeseran lempengan bumi, tapi runtuhnya salah satu struktur tanah bagian bawah. Tebing yang kami lihat tidak tumbuh, tapi pijakan kami lah yang runtuh, semakin ke bawah, menuju dasar bumi. Orang-orang berlarian panik, teriakan dan tangisan dimana-mana. Aku menatap ke sekililing, dimana orang tuaku? Dimana saudara-saudaraku? Mereka tidak di sini, aku sendiri. Es tebal yang ku pijak mulai retak, terdengar bunyi gemeretak tanda es yang membeku hancur satu persatu.

Tebing itu semakin tinggi, aku baru berpikir untuk lari ke tempat yang aman. Tapi, jika kau melihatnya sendiri apakah masih ada tempat aman saat itu? Tidak ada. Larilah sejauh kau mampu. Bersembunyi sebisamu. Tapi saat itu, aku benar-benar tak menemukan harapan hidup di sana. Tebing tinggi itu mulai rubuh menimpa sekitarnya, aku hanya berlari dan berlari, hanya itu yang kutahu. Menjauh dari tebing tinggi itu.

Tepat saat aku akan mencapai sisi tertinggi tanah yang ku pijak, tiba-tiba di depanku muncul lagi tebing yang tumbuh tinggi. Aku tidak bisa berlari lagi. Tenagaku habis. Kejutan Tuhan benar-benar menyedot akal sehatku. Aku terbangun dengan suhu tubuh yang tidak normal. Tubuhku bagai telah tercebur ke dalam air, basah oleh keringat. Apakah alam marah? Apakah Tuhan marah? Mimpi itu benar-benar menakutkan. Betapa kecilnya manusia jika dibandingkan alam semesta. Entah ini mimpi atau teguran, aku benar-benar takut. Melihat langsung alam menjadi murka adalah hal terburuk.

Orang yang pernah menjadi korban bencana alam dahsyat pasti sudah tahu bagaimana rasanya. Kehilangan tempat tinggal, kehilangan barang berharga, tapi yang paling menakutkan adalah kehilangan orang yang disayangi.

Kini bumi semakin panas, angin kencang datang lebih sering, hujan pun demikian. Bumi butuh bantuan kita. Jika tidak bisa membantu, setidaknya jangan merusak. Alam membutuhkan kita agar ia dijaga. Kita juga butuh alam untuk hidup lebih lama dan memberi kehidupan yang lebih baik pada anak cucu kita kelak. 


Alam membutuhkan kita, kawan


#OneDayOnePost
#ODOPbatch5

#day12

You May Also Like

0 comments