A Man Mind

by - Februari 03, 2018

Jauh di ujung sebuah pulau seorang pria memandang matahari terbenam tanpa berkedip. Di depan sebuah tenda kecil, dia duduk seorang diri memandang lurus ke ujung cakrawala. Hembusan angin pantai memainkan rambut ikal yang seharusnya dipotong seminggu yang lalu. Jaket parasut yang ia beli kemarin, setia menemani dengan warnanya yang mentereng, merah. Di sampingnya ada sebuah botol minuman dan sekotak roti. Ini adalah kemping mendadak yang ia rencanakan sendiri. Ia butuh sendiri.

Pantai ini adalah tempat paling sepi di sini. Jika ada orang yang berhasil ke sini, pastilah orang itu sampai dengan susah payah. Karena untuk sampai ke sana harus berjalan kaki dan jaraknya sangat jauh. Harus melewati kubangan lumpur, genangan air setinggi pinggang saat air pasang, hutan mangrove, dan pasir-pasir kasar. Tapi pemandangan setelah tiba di sana membayar semua yang terlalui. Pantai itu sangatlah indah.

Pantai bersih dengan pasir kekuningan, diterpa cahaya senja semakin membuat mata terpana. Pria itu membuka kotak bekal yang hanya berisi beberapa lembar roti dengan selai cokelat. Ia memandang kotaknya, tersenyum, lalu kembali beralih menatap langit senja.

“Seandainya kamu di sini,” gumamnya.

Ia meletakkan kotak dan menutupnya kembali. Berbaring di pasir dan menatap langit di atas sana. Sebelah tangannya dianaikkan, melambai seolah ada sesuatu yang ingin digapai. Dengan senyum, ada air yang mengalir di pipinya, ia menangis. Ia sangat merindukan seseorang yang tidak akan pernah ia temui lagi. Seorang wanita yang ia cintai pertama kali.

Dia sedang banyak pikiran, banyak sekali. Diantaranya adalah masalah dengan orang tuanya. Orang tuanya selalu membedakan dia dengan anak orang lain yang lebih hebat, dengan saudaranya yang lebih sukses, tidak pernah mendukung apapun yang ia lakukan. Teman-temannya pun tidak ada yang tahu tentang masalah itu. Yang mereka tahu ia adalah anak seorang yang sangat dihormati di kota mereka.

Orang tuanya selalu menentang apapun yang ia lakukan, mereka tidak pernah setuju dengan mimpi dan cita-cita anaknya. Padahal apa yang anaknya inginkan? Dia hanya ingin menjadi seorang petani, menanam apapun yang bisa dimakan, meski ia hidup di daerah terpencil sekalipun. Tapi orang tuanya mana mau mengerti. Mereka menyekolahkan anaknya hingga sarjana, tapi hanya ingin jadi petani? Jangan pakai ‘hanya’, karena petani adalah sebuah pekerjaan mulia. Manusia tidak akan bisa makan jika tidak ada yang bekerja menjadi petani. Lagipula apa salahnya menjadi petani? Mungkin hanya orang tuanya yang berharap lebih pada anaknya.

Sekarang jelas, bukan? Masalah pria tidak melulu tentang perempuan. Tapi ada sesuatu yang lebih besar dari itu, memahami dan menghadapi orang tua yang tidak mengerti dengan keinginanmu.

“Bagaimana kalau aku mati saja?” gumamnya tiba-tiba.

“Ah, jangan bodoh. Aku bisa menghadapi ini.”

Pria itu membuka kotak dan memakan isinya. Langit sudah gelap dan ia sadar belum mengumpulkan ranting untuk membuat api. Dengan cekatan ia mengumpulkan ranting dan membakarnya. Sendirian tidak membuatnya takut karena dia adalah seorang introvert. Melakukan semuanya sendiri akan membuat perasaannya jauh lebih baik. Meski tetap saja ia merindukan seseorang. Ia masuk ke tenda, menyetel musik di ponselnya, kembali merenung dan merencanakan tindakan selanjutnya hingga ia tertidur ditemani suara ombak.

Jika seorang pria ingin sendiri, ia sedang banyak pikiran (biasanya)

#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#Day13

You May Also Like

1 comments