Mentari Menanti Hujan

by - Februari 01, 2018

Photo by : instagram @riarahmadani_

Hatinya sedang berbunga, jarak sedang membuatnya bahagia lebih dari cintanya pada L Infinite. Jangan kira cuaca sedang baik, di luar sana mendung gelap sekali. Hujan bisa turun kapan saja. Namun sebaris pesan yang ia terima membuat dunianya cerah seketika.

Hujan jatuh dengan deras, dan dia selalu gelisah dengan itu, takut. Berbeda kali ini, hujan deras itu membuatnya tenang dan nyaman. Hujan menyelimuti hatinya agar menahan degup luar biasa itu. Seseorang yang jauh di sana, memberi kabar. Seseorang yang ia rindukan dengan segenap hati, menghubunginya. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan luar biasa itu. Jika kiamat tiba hari ini, ia akan terima dengan senang hati.

Dia Mentari, gadis berambut hitam panjang itu telah lama mendambakan seorang pria. Pria itu yang kini terpisah darat, laut, dan udara darinya. Namanya Hujan, pria yang tingginya mengesankan. Mentari hanya setinggi dadanya. Mereka pasangan yang imut, tapi waktu membuat mereka terpisah dengan permasalahan-permasalahan klise.

Bertahun berjuang untuk melupakan, tapi Mentari tidak bisa berhasil melupakan perasaannya pada Hujan. Dekat dan mengenal beberapa orang tidak membuat segalanya mudah. Kenangan tentang Hujan tetap ada di setiap kegiatan yang ia lakukan. Televisi, keramaian, deru kendaraan, adzan, keyboard, bahkan pada angin yang berhembus.

Padahal pada saat kepergian Hujan ke tempat yang sangat jauh, malam-malam ia habiskan dengan terdiam, meringkuk sendirian hingga tertidur di depan komputer. Makan tidak berselera, jarang senyum, dan tertawa kosong. Ia hampir mirip dengan orang gila. Seberharga itukah seorang Hujan? SANGAT!

Tidak ada di dunia ini yang lebih mengerti dan lebih sabar menghadapi seorang Mentari, kecuali Hujan. Jika orang lain dibuat jengkel, Hujan justru menyukai tingkah Mentari yang dinilai menyebalkan itu. Jika orang lain marah karena Mentari membuat kesalahan, Hujan justru tersenyum dan menawarkan diri untuk membantu. Ketika teman-teman Mentari tidak bisa diandalkan, Hujan selalu ada di sana meskipun harus mendapatkan masalah. Perhatian dan kebaikan yang ia berikan membuat Mentari menyukainya, Hujan pasti tahu itu, tapi tidak memberitahu saat akan pergi, karena ia tidak ingin mata indah itu meneteskan air mata karenanya.

Mereka saling menyayangi ... pasti!

Karena aku adalah gantungan kunci serupa monyet, yang dihadiahkan Hujan untuk Mentari saat ia mendapat nilai A di mata kuliah Statistik. Mentari selalu membawaku kemanapun, sama seperti yang dilakukan Hujan dulu. Kau tahu, aku adalah barang peninggalan almarhumah ibu Hujan satu-satunya tapi ia memberikannya pada Mentari. Untuk apa jika Mentari juga bukan orang yang berharga?

Ponsel Mentari berbunyi, ada pesan lagi. Hujan akan segera kembali, dan aku juga tidak sabar menanti pertemuan mereka.

#OneDayOnePost
#ODOPbatch5

#Day11

You May Also Like

2 comments

  1. Berharap ada lanjutan cerita ketika Hujan menyapa Mentari kembali.

    BalasHapus
  2. Hahaahaha saya tahu pak hujan itu siapa...

    BalasHapus