Hari Ini Saya Ke Sawah

by - Februari 06, 2015

Kalian pernah ke sawah? Untuk apa? Menanam padi? Bagus, jangan seperti saya. Memanfaatkan keindahan hamparan padi yang masih hijau untuk menyegarkan mata dan foto selfie. Ckckck.... jaman sekarang.

Bergeser dari hal itu, saya bangga bisa lahir dan besar di daerah yang areal persawahannya luas. Sejauh mata memandang hanya terlihat sawah dan diujung sana ada gunung. Dan disanalah matahari terbenam sering terjadi. Cahaya berpendar indah dari balik gunung ketika senja tiba. Lokasi yang sangat pas untuk hunting foto. Indah, membanggakan. Tanah ini masih subur Tuhan...

Sawah yang tadi saya datangi, Oryza sativa - nya masih muda, hijau segar dengan bulir padi yang masih kosong. Ahh, selalu indah melihat pemandangan seperti itu. Jadi bangga sendiri karena saya lulusan pertanian. Meski saat kuliah dulu ada banyak mata kuliah yang membuat pusing. Tapi sarjana juga kan? Kenapa? Karena saya selalu makan. Makanan yang saya konsumsi jelas hasil pertanian. Kita harus bangga dan berterima kasih pada bapak dan ibu petani. Bayangkan saja jika mereka tidak ada, mau makan apa? Pizza. Iya, tapi bahan-bahan untuk membuatnya dari mana? Hasil pertanian, kualitas terbaik. Jadi masih ada yang ingin merendahkan pekerjaan petani?

Berdoa sebelum makan, berterima kasih kepada Tuhan atas apa yang Dia berikan, yang terhidang di atas meja. Tapi apakah mereka yang bekerja keras untuk menghasilkan semua yang terhidang itu juga menikmati hal yang sama? Belum tentu. Banyak petani di Indonesia yang hidupnya tidak beruntung. Saya ingat dulu ketika awal-awal masuk kuliah.

Waktu itu kami masih berstatus MaBa (Mahasiswa Baru), benar-benar masih maba. Masih dalam masa pengkaderan, bahkan saya belum hafal semua nama teman angkatan. Salah seorang teman kami mengemukakan alasannya kuliah di Teknologi Pertanian adalah karena kedua orang tuanya adalah petani dan ia ingin membantu kedua orang tuanya. Namun sayang, beberapa bulan kuliah ia harus berhenti karena ia tidak sanggup membayar uang kuliah, seperti membeli modul, dan lain-lain. Dia tidak pamit secara langsung, tapi menitip surat untuk kami. Apa daya, kami tidak dapat berbuat apa-apa hari itu. Kalau tidak salah namanya Andar. Saya tidak pernah mendengar kabarnya hingga hari ini. Semoga dia berhasil sekarang.

Lihat, anak petani, orang yang memberi kita makan bahkan kesulitan untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Tapi mereka orang-orang besar bahkan tidak menghormati guru, bisa kuliah dengan catatan bolos terpanjang. Ah, dunia ini aneh. Kebahagiaan yang dirasakan petani saat melihat tanamannya tumbuh dengan subur dan siap panen lebih dari cukup bila dibandingkan dengan kebahagiaan orang-orang itu hanya karena uang.

Thanks Farmer. We can't life without you... Keep spirit, if world didn't respect to you, you must be get that from God..

You May Also Like

0 comments