Hati Kelam

by - Februari 25, 2015

Lewat 14 menit sejak jam tidur saya dimulai. Tapi rasanya belum lega jika saya tidak melepaskan semua kepenatan hati dan pikiran yang terjadi hari ini. Inilah tujuan blog ini dibuat. Untuk menampung semua pemikiran yang harus saya lepaskan, bagikan. Terima kasih kepada huruf yang selalu bisa menjadi teman bercerita. Hari ini berat.

Saat ini saya sedang berada di titik terendah lagi, tidak punya pekerjaan, menunggu, galau. Tapi karenanya saya rajin shalat tahajud dan dhuha. Semoga apapun yang terjadi nanti, saya tetap seperti ini. Amin.

Mencari pekerjaan memang susah. Apalagi di jaman seperti sekarang. Dimana segala sesuatu serba modern. Kurang ide, kurang gagasan, lebih tepatnya kurang keberanian. Saya masih seperti 'bayi' yang baru lahir ke 'dunia'. Beradaptasi dengan susah payah, seperti penyu yang berusaha mencapai pantai sebelum predator memangsanya. Yap, hidup memang kadang menakutkan kawan.

Selain memikirkan pekerjaan, tanggung jawab pada keluarga pasti ada, saya merasakan itu. Meskipun saya bukan anak pertama dan saya bukan anak laki-laki, saya tahu dan mengerti dengan jelas posisi saya sekarang. Saya tidak ingin menjadi beban ibu yang kini menjalani hidup tanpa ayah di sampingnya. Saya ingin membuat saudara-saudara saya bangga. Saya ingin teman-teman merasa bahagia dan beruntung karena mengenal saya. Hanya itu. Tapi sepertinya Tuhan belum memberikan kesempatan itu. Atau saya yang tidak merasakannya? Saya bersyukur punya teman yang menyayangi dan peduli dengan saya. Tanpa mereka, entah bagaimana saya sekarang.

Hari ini juga, saya sadar kalau seseorang tidak menginginkan kehadiran saya. Ingin rasanya menangis, tapi saya tidak selemah itu. Saya semakin bersemangat ingin membuktikan padanya kalau saya bisa lebih baik darinya.

Saat ini saya sedang menunggu konfirmasi dari sebuah perusahaan tempat saya melamar pekerjaan. Tapi menurut seorang kenalan yang bekerja di sana, saya tidak lolos. Jadi bayangkan saja rasanya. Kecewa. Itu yang pertama. Ya, kecewa berkali-kali. Tapi itu sudah sering saya rasakan, tidak berefek. Hanya saja sekarang saya betul-betul ingin bekerja. Keinginan itu membuat saya terus berdoa dan berharap. Apapun rencana Tuhan, saya siap menerimanya. Karena Tuhan pasti akan memberi yang terbaik.

Selain itu, ada satu hal lagi yang membuat mood saya benar-benar hilang. Awalnya saya pikir setumpuk rasa kecewa ini akan hilang jika memikirkannya, ternyata saya salah. Seseorang mengirim pesan bahwa orang yang saya kagumi memuji orang lain di media sosial. Kesal bukan main. Sepele memang, tapi disaat seperti ini saya kesulitan menerimanya. Rasa kecewa itu kini terasa. Hari ini kecewa. Hati ini kelam.

You May Also Like

0 comments