Naega, Ria Imnida
Naega? (Saya?) Jinja?
(Sungguh?) Ria?
Biasanya saya terkejut
jika disuruh bercerita tentang diri sendiri. Mmm ... apa yah, tidak ada yang
bisa dibanggakan. Tapi katanya jangan pesimis dengan hidup. Kehidupan setiap
orang itu berharga!
Baiklah, seperti yang
saya ceritakan sebelumnya, nama saya Ria dan bisa dipanggil apa saja. Saya
adalah seorang wanita dewasa yang berjiwa kekanakan. Lebih nyambung kalau
diajak cerita tentang hal-hal remeh daripada yang serius. Benci pelajaran
matematika karena tidak bisa mengerti, sekuat apapun belajar. Memang saya
adalah golongan otak kanan, lebih suka bersenang-senang daripada belajar.
Karena bagi saya, saat bersenang-senang itulah saya bisa mempelajari banyak hal
yang tidak bisa didapatkan hanya dengan duduk diam membaca buku dan memecahkan
soal-soal sulit. YOLO! You Only Life Once. Kamu hanya hidup satu kali. Kenapa
tidak dimanfaatkan untuk mencoba semua hal? Bumi ini luas loh!
Setiap hari, sebagian
besar waktu saya habiskan di depan laptop, bermain ponsel, dan di atas kasur
(tentu saja tidur, apa lagi?). Kadang jika ada kesempatan, waktu dan ajakan
(hehe), saya dan teman-teman akan jalan-jalan ke suatu tempat entah itu di
gunung, pantai, atau tempat terpencil sekalipun.
Saya suka mencoba apapun
yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, misalnya bepergian sendiri. Saya
pernah liburan ke Bali sendiri, di pesawat tanpa seorang pun yang dikenal,
nyeker di bandara, terdampar di Pantai Kuta, menikmati kemegahan ciptaan Tuhan
dengan mulut menganga, pokoknya banyak! Dan saya sangat menikmati itu.
Oh iya, saya juga punya
teman-teman yang aneh, menyebalkan, dan terkadang bisa diandalkan. Mereka
adalah Mey, Wana, dan Erma. Perempuan-perempuan setrong yang sudah kebal dengan
sakit hati (ups).
| Photo by : Ria Rahmadani |
Mey adalah orang yang
akan dan selalu ada di list pertama jika ada pembahasan tentang ‘teman’ karena
kami sudah berteman sejak kelas 1 Sekolah Dasar hingga sekarang, usia kami
sudah lebih dari seperempat abad. Katanya, di usia kami Tuhan sudah lepas
tangan mengenai jodoh. Hahaha. Tentu saja bercanda. Sedangkan Wana adalah teman
yang saya kenal sejak SMP karena satu ekstrakulikuler, Pramuka. Isi kepalanya
lebih rumit, kadang lebay, dan memikirkan setiap hal dengan detail. Beda jauh
dengan saya yang suka menggampangkan semua urusan. Masih ada Erma yang sangat keras
kepala, sama seperti saya. Saya yakin kadar ‘kekerasan’ kami sama, hanya saja
masih ada otak yang membuat itu melunak. Kenapa kami bisa berteman sampai
sekarang? Karena kami tidak pernah bertengkar. Bohong!!! Justru sebaliknya.
Pertengkaran kecil sampai besar sudah pernah kami lalui, saling bercerita di
belakang, saling marah, saling benci, tapi entah kenapa semuanya bisa baik-baik
saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kami tetap berteman. Hebat kan?
Dari semua kejadian dalam
hidup saya, mengenal merekalah pengalaman yang paling saya hargai dan syukuri.
Mengenal seseorang dan menjadi dekat dengannya adalah anugerah besar bahkan
bisa dibilang keajaiban dalam hidup saya. Kenapa? Karena saya seorang
introvert. Amat sangat jarang orang yang bisa mengenal apalagi akrab dengan
saya. Saya lebih suka diam dan sibuk sendiri sampai orang lain yang mengajak
bicara lebih dulu. Saya lebih suka sendiri daripada berada di keramaian. Bagi
saya, rumah adalah tempat paling aman, berada di depan laptop dan menceritakan
semua yang ada di kepala adalah hal terbaik yang saya rasakan. Tapi dengan
adanya teman-teman, membuat saya berpikir kalau saya juga normal seperti
kebanyakan orang.
Kamu tahu?
Hal paling menyenangkan
dari menulis adalah bercerita tentang dirimu sendiri.
Naega, Ria imnida adalah bahasa Korea yang artinya sederhana. Saya Ria.
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#TantanganODOP1
#TantanganODOP1
#day3

0 comments