Naega, Ria Imnida

by - Januari 24, 2018


Naega? (Saya?) Jinja? (Sungguh?) Ria?

Biasanya saya terkejut jika disuruh bercerita tentang diri sendiri. Mmm ... apa yah, tidak ada yang bisa dibanggakan. Tapi katanya jangan pesimis dengan hidup. Kehidupan setiap orang itu berharga!

Baiklah, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, nama saya Ria dan bisa dipanggil apa saja. Saya adalah seorang wanita dewasa yang berjiwa kekanakan. Lebih nyambung kalau diajak cerita tentang hal-hal remeh daripada yang serius. Benci pelajaran matematika karena tidak bisa mengerti, sekuat apapun belajar. Memang saya adalah golongan otak kanan, lebih suka bersenang-senang daripada belajar. Karena bagi saya, saat bersenang-senang itulah saya bisa mempelajari banyak hal yang tidak bisa didapatkan hanya dengan duduk diam membaca buku dan memecahkan soal-soal sulit. YOLO! You Only Life Once. Kamu hanya hidup satu kali. Kenapa tidak dimanfaatkan untuk mencoba semua hal? Bumi ini luas loh!

Setiap hari, sebagian besar waktu saya habiskan di depan laptop, bermain ponsel, dan di atas kasur (tentu saja tidur, apa lagi?). Kadang jika ada kesempatan, waktu dan ajakan (hehe), saya dan teman-teman akan jalan-jalan ke suatu tempat entah itu di gunung, pantai, atau tempat terpencil sekalipun.
Saya suka mencoba apapun yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, misalnya bepergian sendiri. Saya pernah liburan ke Bali sendiri, di pesawat tanpa seorang pun yang dikenal, nyeker di bandara, terdampar di Pantai Kuta, menikmati kemegahan ciptaan Tuhan dengan mulut menganga, pokoknya banyak! Dan saya sangat menikmati itu.

Oh iya, saya juga punya teman-teman yang aneh, menyebalkan, dan terkadang bisa diandalkan. Mereka adalah Mey, Wana, dan Erma. Perempuan-perempuan setrong yang sudah kebal dengan sakit hati (ups).

Photo by : Ria Rahmadani


Mey adalah orang yang akan dan selalu ada di list pertama jika ada pembahasan tentang ‘teman’ karena kami sudah berteman sejak kelas 1 Sekolah Dasar hingga sekarang, usia kami sudah lebih dari seperempat abad. Katanya, di usia kami Tuhan sudah lepas tangan mengenai jodoh. Hahaha. Tentu saja bercanda. Sedangkan Wana adalah teman yang saya kenal sejak SMP karena satu ekstrakulikuler, Pramuka. Isi kepalanya lebih rumit, kadang lebay, dan memikirkan setiap hal dengan detail. Beda jauh dengan saya yang suka menggampangkan semua urusan. Masih ada Erma yang sangat keras kepala, sama seperti saya. Saya yakin kadar ‘kekerasan’ kami sama, hanya saja masih ada otak yang membuat itu melunak. Kenapa kami bisa berteman sampai sekarang? Karena kami tidak pernah bertengkar. Bohong!!! Justru sebaliknya. Pertengkaran kecil sampai besar sudah pernah kami lalui, saling bercerita di belakang, saling marah, saling benci, tapi entah kenapa semuanya bisa baik-baik saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kami tetap berteman. Hebat kan?

Dari semua kejadian dalam hidup saya, mengenal merekalah pengalaman yang paling saya hargai dan syukuri. Mengenal seseorang dan menjadi dekat dengannya adalah anugerah besar bahkan bisa dibilang keajaiban dalam hidup saya. Kenapa? Karena saya seorang introvert. Amat sangat jarang orang yang bisa mengenal apalagi akrab dengan saya. Saya lebih suka diam dan sibuk sendiri sampai orang lain yang mengajak bicara lebih dulu. Saya lebih suka sendiri daripada berada di keramaian. Bagi saya, rumah adalah tempat paling aman, berada di depan laptop dan menceritakan semua yang ada di kepala adalah hal terbaik yang saya rasakan. Tapi dengan adanya teman-teman, membuat saya berpikir kalau saya juga normal seperti kebanyakan orang.

Kamu tahu?
Hal paling menyenangkan dari menulis adalah bercerita tentang dirimu sendiri.
Naega, Ria imnida adalah bahasa Korea yang artinya sederhana. Saya Ria.

#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#TantanganODOP1
#day3


You May Also Like

0 comments