Ayah dan Gadis Kecilnya

by - Januari 29, 2018

Seorang ayah dan anak perempuannya yang sedang jalan-jalan sore 

Rumah sederhana berwarna putih gading dengan halaman luas dan penuh bunga. Dua orang anak sedang bermain di halaman menemani ibu mereka yang sedang merawat tanaman. Senin sore yang menyejukkan mata. 

Kedua anak itu laki-laki dan perempuan. Yang perempuan kelas 2 SD dan yang laki-laki masih balita. Menggemaskan melihat mereka bermain dan berbicara dalam bahasa yang masih sulit dimengerti orang dewasa, tapi sang kakak bisa paham dengan apa yang dikatakan adiknya. Saat adik duduk memainkan batu ditangannya, kakak menghampiri ibu.

“Ibu, kapan ayah pulang?”

Ibu menghentikan pekerjaan sejenak, menoleh dan berjongkok menatap gadis kecilnya.

“Sebentar lagi, kenapa?” katanya sambil membetulkan kuncir rambut anaknya.

“Shila mau layang-layang,” jawabnya sambil memainkan jarinya.

Sang ibu tersenyum.

“Nanti kalau ayah pulang, kita beli layangan sama-sama.”

Shila mundur, menggeleng, menatap ibu dengan mata besarnya yang bening. Mata itu adalah warisan kedua orang tuanya, bulat, besar, bening, dan bercahaya oleh harapan dan semangat.

“Bukan beli, bikin sendiri, sama ayah, kata ibu guru,” katanya polos.

Sang ibu tersenyum dan memeluk Shila, “Iya, nanti kita bikin layangan sama ayah.”

Shila kecil tersenyum girang, mencium pipi ibunya dan berterima kasih sebelum kembali bermain bersama adiknya. Beberapa meter di dekatnya, senyum ibunya lenyap. Ia tahu kalau sulit mewujudkan keinginan Shila, ayahnya adalah seorang workaholic. Pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya selalu menyita waktu, ayah selalu terlambat pulang. Lembur pun bisa sampai tengah malam, atau subuh. Saat pulang ia tidak bisa diganggu karena harus tidur. Bangun pun ia harus ke kantor lagi, saat Shila ke sekolah. Bisa dibayangkan betapa rindu Shila pada ayahnya. Demikian juga ayahnya, ia hanya bisa mencium kening anak-anaknya saat ia pulang larut malam, ketika Shila dan adiknya sedang tidur pulas.

Karena ini tugas sekolah, membuat layang-layang bersama ayah, maka ibu juga berharap ayah bisa cepat pulang hari ini. Beruntung, menjelang maghrib suara klakson mobil memasuki halaman rumah, ayah pulang!

Ibu, Shila, dan adiknya bergegas ke arah pintu menanti ayah turun dari mobil. Dengan wajah lusuh setelah seharian bekerja, ayah menebar senyum terutama kepada kedua buah hatinya. Menciumi pipi mereka satu persatu dan menggendong mereka masuk setelah menyerahkan tas pada istrinya. Sungguh keluarga kecil yang menghangatkan hati.

“Ayah, bantu Shila bikin layang-layang, yah?” pinta Shila masih di gendongan ayahnya.

“Layang-layang?” tanya ayah heran. Ia mendudukkan kedua anaknya di kursi ruang tamu, lalu berlutut di hadapan mereka. Si kecil asyik memainkan dasi ayahnya, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.

“Tugas sekolah, katanya bikin layang-layang sama ayah terus cerita di depan kelas sambil nunjukin hasilnya,” kata ibu menjelaskan.

Shila tersenyum mengangguk-angguk, berterima kasih atas penjelasan ibunya.

“Waahhh... kalau ibu saja bisa nggak? Malam ini ayah harus kembali ke kantor, lembur lagi,” kata ayah dengan nada penyesalan.

Shila menunduk sedih, beranjak dari kursi menuju kamarnya. Gadis kecil itu merajuk, hatinya patah mendengar penolakan ayah. Di kamar ia menangis dan enggan menjawab saat ayah memanggilnya. Ayah tidak tahu betapa pentingnya tugas Shila kali ini. Ia ingin menunjukkan ke teman-temannya kalau ia punya ayah yang hebat dan bisa diandalkan. Ia iri pada teman-teman yang sering diantar oleh ayahnya ke sekolah. Ia iri pada teman-teman yang punya banyak cerita tentang ayah mereka.

“Shila, ayah berangkat dulu ya. Nanti kalau pulang ayah beli boneka,” bujuk ayahnya dari balik pintu.

Tidak ada jawaban, hanya isakan kecil yang masih terdengar. Sebenarnya ayah juga tidak ingin seperti ini, tapi ia punya tanggungjawab lain yang harus diselesaikan, pekerjaan. Setelah ini berlalu, ia bisa istirahat dan memanfaatkan waktu bersama keluarga. Tapi Shila kecil tidak mengerti hal ini.

Ayah berangkat ke kantor setelah makan malam. Ibu mengantar sampai ke depan mobil, tidak punya kalimat lain selain, “Cepat pulang dan jangan terlalu lelah.”

Wanita itu menatap wajah suaminya yang letih. Ia tahu kalau suaminya sedang berjuang untuk keluarga, yang bisa ia lakukan hanyalah memberi semangat dan mendampingi suaminya dengan penuh pengertian. Ia menatap mobil suaminya melaju hingga hilang dari pandangan.

Tiba di kantor, ayah disambut oleh karyawan lain yang juga lembur bersamanya. Satu jam bekerja, teleponnya berdering, dari istrinya.

“Halo?” jawabnya sambil terus menatap setumpuk kertas di depannya.

“Badan Shila panas sekali, sepertinya kita harus bawa ke dokter,” kata istrinya cemas.

Tanpa perlu bertanya lagi, ayah langsung membereskan barangnya untuk pulang.

“Mau ke mana, Pak?” tanya bosnya.

“Anak saya sakit, harus segera di bawa ke rumah sakit.”

“Bapak bisa kembali lagi setelah dari rumah sakit?”

“Mungkin tidak.”

“Tapi pekerjaan kita belum selesai, Pak.”

“Anak saya lebih penting! Terserah kalau bos mau memecat saya.”

Ayah pergi setelah membentak bosnya. Ia tidak peduli, di kepalanya hanya ada bayangan tentang gadis kecilnya yang sedang sakit, gadis kecilnya yang meminta dibuatkan layang-layang untuk tugas sekolah sedang sakit, hanya itu.

Jangan salahkan ayah, tidak ada yang mengerti perasaan seorang ayah ketika tahu anaknya sakit dan dia tidak berada di sisinya.

Ia bergegas pulang dan menjumpai istrinya yang menunggu di depan pintu dengan tangan diremas, cemas. Begitu tiba di kamar Shila ia segera memeluk putrinya dengan mata mengabur, sedih. Ia menyesal telah mematahkan hati gadis kecilnya hanya karena pekerjaan.

“Ayah minta maaf, Shila. Ayah akan selalu di sini setiap Shila butuh. Ayah nggak akan kemana-mana lagi.”

#TantanganKe-2
#TantanganODOP
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5

#day8

You May Also Like

3 comments

  1. Cerita apa ini, kenapa endingnya penuh bawang merah.

    BalasHapus
  2. Manja dudui ini Shila
    Gurunya jg bapak na lagi i Shila nasuruh bkinkanki layangan... U dende... Kurang gaul ki ini ibu gurueee hari gini bkin layangan... Hammak...

    BalasHapus
  3. Endingnha bikin haru 😢

    BalasHapus