Senja Menjadi Saksi

by - Januari 23, 2018

Photo by : instagram @riarahmadani_


Tahun ketiga setelah kelulusan kami dari universitas, aku dan sahabatku menempuh jalan yang berbeda dalam mencari pekerjaan. Dia handal dalam bidang apapun yang orang-orang lakukan dalam laboratorium, sedang aku lebih pada kegiatan lapangan. Memang lebih cocok baginya bekerja dalam ruangan, dia perempuan yang sangat peduli dengan warna kulitnya. Meskipun berkali-kali aku mengatakan dia tetap manis meski dengan kulit gelap. Dan saat aku mengatakan itu, dia akan melemparku dengan benda apapun yang dipegangnya, termasuk  erlenmeyer.

“Dasar cowok jahat, item, hidup lagi!” serunya dengan nada jengkel.

Aku hanya tertawa mendengar makian itu, sudah terlalu sering aku mendengarnya, 7 tahun.
Sore itu saat baru pulang dari tugas lapangan berbulan-bulan, aku menjemputnya. Kami berjanji akan bermain di pantai menatap senja, kebiasaan yang sudah lama tidak kami lakukan karena kesibukan masing-masing.

Saat tiba di depan gedung besar itu, aku melihatnya berjalan keluar sambil menenteng jas putih dan ranselnya yang berat. Dari jauh kuperhatikan pemandangan itu, “Anak ini tidak berubah, berat badannya pasti naik lagi,” batinku.

Tiba-tiba ada seorang pria yang menyusulnya, menawarkan diri untuk membawa ransel dan tebak apa yang terjadi. Dia memberikan ransel itu dengan mudah! Hei, ini pasti kesalahan. Bertahun-tahun mengenalnya dia tidak pernah mengzjinkan aku menyentuh barangnya. Kali ini dia memberikan ranselnya dengan mudah? “Ah, mungkin karena memang berat,” pikirku.

Dia berbincang sebentar bersama pria itu sebelum pria itu pergi lebih dulu, dan akhirnya dia melihatku. Melambaikan tangan dengan penuh semangat. Dengan motor hitam besar hasil kerja kerasku, yang masih dicicil, kami bergerak menuju pantai.

“Yang tadi siapa?” tanyaku dalam perjalanan.

“Siapa?” katanya dengan sedikit berteriak mengalahkan angin.

“Yang bantuin kamu angkat ransel itu.”

“Oh, temen. Lihat bajunya kan, mirip dengan yang kupakai.”

Aku mengangguk, “Benar juga,” batinku.

Kami menikmati senja sore itu dengan duduk di pasir pantai yang lembut, membicarakan banyak hal, termasuk pria yang kulihat tadi. Katanya pria itu adalah seorang ayah dari satu anak yang usianya satu tahun.

“Anaknya lucu tau! Aku pernah lihat fotonya, imut banget kayak ayahnya ...”

“Kamu nggak suka sama orang itu kan?” tanyaku memotong.

Ceritanya terhenti, dia diam sambil menatapku tajam. Tiba-tiba aku menyesal dengan perkataanku. Dia pasti marah, sebentar lagi aku akan dipukul olehnya. Tapi yang kukhawatirkan tidak terjadi, justru sebaliknya. Di depanku dia menunduk, dan disaksikan matahari tenggelam yang sangat megah di sana, ia mengangguk.

“Iya, aku suka.”

Hanya butuh sepersekian detik bagiku untuk mengusap wajah dan bangkit dari tempatku duduk. Berjalan ke sana kemari, tidak ingin percaya dengan yang kudengar.

“Kamu bercanda, kan?” tanyaku ingin memastikan.

“Aku serius, Bar. Dan kami sudah pacaran dua bulan.”

“Apa? Kalian pacaran? Kamu sadar nggak sih, dia punya anak, dia suami orang!” kuteriaki dia dengan nada tertahan, takut ada yang mendengar kami.

“Iyaaaa...aku tahu.”

Air matanya jatuh, kuraih pundaknya untuk menenangkan. Dan dia ... memelukku ... erat.

Tujuh tahun aku mengenalnya, baru kali ini dia memelukku. Selama ini dia menyentuhku hanya jika ingin memukul. Tapi sekarang?

Di dadaku dia menenggelamkan kepalanya, tangisnya tumpah mengalahkan desiran ombak di bibir pantai. Matahari sudah sempurna tenggelam menyisakan bias jingga yang indah. Tanganku bergerak pelan hendak mengusap kepalanya, agar ia tenang. Sedikit lagi tanganku menyentuh rambutnya, dia berbisik dengan suara kecil, tapi bisa kudengar dengan sangat jelas.

“Aku hamil.”

Seluruh persendianku lemas. Sungguh, untuk kali ini aku benar-benar kehilangan kata-kata. Senja indah itu menjadi saksi hancurnya perasaanku. Hempasan ombak seperti berlomba mengiris hatiku, perih.

"Tuhan, tolong. Orang yang memelukku saat ini, adalah wanita yang paling kucintai. Aku baru berniat melamarnya malam ini. Apa yang harus kulakukan?:.


Dia terus menangis tidak ingin melepas pelukannya, dan hatiku semakin hancur.


#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#day2

You May Also Like

1 comments