Senja Menjadi Saksi
![]() |
| Photo by : instagram @riarahmadani_ |
Tahun ketiga setelah kelulusan kami dari universitas, aku dan sahabatku menempuh jalan yang berbeda dalam mencari pekerjaan. Dia handal dalam bidang apapun yang orang-orang lakukan dalam laboratorium, sedang aku lebih pada kegiatan lapangan. Memang lebih cocok baginya bekerja dalam ruangan, dia perempuan yang sangat peduli dengan warna kulitnya. Meskipun berkali-kali aku mengatakan dia tetap manis meski dengan kulit gelap. Dan saat aku mengatakan itu, dia akan melemparku dengan benda apapun yang dipegangnya, termasuk erlenmeyer.
“Dasar cowok
jahat, item, hidup lagi!” serunya dengan nada jengkel.
Aku hanya tertawa
mendengar makian itu, sudah terlalu sering aku mendengarnya, 7 tahun.
Sore itu saat
baru pulang dari tugas lapangan berbulan-bulan, aku menjemputnya. Kami berjanji
akan bermain di pantai menatap senja, kebiasaan yang sudah lama tidak kami
lakukan karena kesibukan masing-masing.
Saat tiba di
depan gedung besar itu, aku melihatnya berjalan keluar sambil menenteng jas
putih dan ranselnya yang berat. Dari jauh kuperhatikan pemandangan itu, “Anak
ini tidak berubah, berat badannya pasti naik lagi,” batinku.
Tiba-tiba ada
seorang pria yang menyusulnya, menawarkan diri untuk membawa ransel dan tebak
apa yang terjadi. Dia memberikan ransel itu dengan mudah! Hei, ini pasti
kesalahan. Bertahun-tahun mengenalnya dia tidak pernah mengzjinkan aku
menyentuh barangnya. Kali ini dia memberikan ranselnya dengan mudah? “Ah,
mungkin karena memang berat,” pikirku.
Dia berbincang
sebentar bersama pria itu sebelum pria itu pergi lebih dulu, dan akhirnya dia
melihatku. Melambaikan tangan dengan penuh semangat. Dengan motor hitam besar hasil
kerja kerasku, yang masih dicicil, kami bergerak menuju pantai.
“Yang tadi
siapa?” tanyaku dalam perjalanan.
“Siapa?” katanya
dengan sedikit berteriak mengalahkan angin.
“Yang bantuin
kamu angkat ransel itu.”
“Oh, temen. Lihat
bajunya kan, mirip dengan yang kupakai.”
Aku mengangguk,
“Benar juga,” batinku.
Kami menikmati
senja sore itu dengan duduk di pasir pantai yang lembut, membicarakan banyak
hal, termasuk pria yang kulihat tadi. Katanya pria itu adalah seorang ayah dari
satu anak yang usianya satu tahun.
“Anaknya lucu
tau! Aku pernah lihat fotonya, imut banget kayak ayahnya ...”
“Kamu nggak suka
sama orang itu kan?” tanyaku memotong.
Ceritanya
terhenti, dia diam sambil menatapku tajam. Tiba-tiba aku menyesal dengan
perkataanku. Dia pasti marah, sebentar lagi aku akan dipukul olehnya. Tapi yang
kukhawatirkan tidak terjadi, justru sebaliknya. Di depanku dia menunduk, dan disaksikan
matahari tenggelam yang sangat megah di sana, ia mengangguk.
“Iya, aku suka.”
Hanya butuh
sepersekian detik bagiku untuk mengusap wajah dan bangkit dari tempatku duduk.
Berjalan ke sana kemari, tidak ingin percaya dengan yang kudengar.
“Kamu bercanda,
kan?” tanyaku ingin memastikan.
“Aku serius, Bar.
Dan kami sudah pacaran dua bulan.”
“Apa? Kalian
pacaran? Kamu sadar nggak sih, dia punya anak, dia suami orang!” kuteriaki dia
dengan nada tertahan, takut ada yang mendengar kami.
“Iyaaaa...aku
tahu.”
Air matanya
jatuh, kuraih pundaknya untuk menenangkan. Dan dia ... memelukku ... erat.
Tujuh tahun aku
mengenalnya, baru kali ini dia memelukku. Selama ini dia menyentuhku hanya jika
ingin memukul. Tapi sekarang?
Di dadaku dia
menenggelamkan kepalanya, tangisnya tumpah mengalahkan desiran ombak di bibir
pantai. Matahari sudah sempurna tenggelam menyisakan bias jingga yang indah.
Tanganku bergerak pelan hendak mengusap kepalanya, agar ia tenang. Sedikit lagi
tanganku menyentuh rambutnya, dia berbisik dengan suara kecil, tapi bisa
kudengar dengan sangat jelas.
“Aku hamil.”
Seluruh
persendianku lemas. Sungguh, untuk kali ini aku benar-benar kehilangan
kata-kata. Senja indah itu menjadi saksi hancurnya perasaanku. Hempasan ombak seperti berlomba mengiris hatiku, perih.
"Tuhan, tolong.
Orang yang memelukku saat ini, adalah wanita yang paling kucintai. Aku baru
berniat melamarnya malam ini. Apa yang harus kulakukan?:.
Dia terus
menangis tidak ingin melepas pelukannya, dan hatiku semakin hancur.
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#day2
#day2


1 comments
Waas.. chinca..
BalasHapusaku benar-benar dibikin merinding..