Pohon Nangka Di Halaman Rumah

by - Januari 25, 2018

Masih setengah sadar saat kubuka mata karena mendengar sesuatu yang berisik. Suara berisik itu berasal dari sapu lidi seorang wanita yang sedang membersihkan halaman rumah. Dengan daster cokelat selutut dan rambut panjang yang di ikat seadanya, dia menyapu dedaunan dan sampah-sampah kecil yang berserakan di halaman.

“Ini masih terlalu pagi,” keluhku dalam hati.

Tak lama kemudian, seorang anak perempuan keluar dari rumah. Seragam putih abu-abu yang lengkap rapi, rambut pendek sebahu tergerai basah. Dia baru potong rambut, kemarin rambutnya masih panjang.

“Oh, benar-benar sudah pagi,” gumamku.

Selanjutnya ku tatap pemandangan di depanku lagi.

“Dae, pamit dulu sama Ibu,” kata wanita itu menghentikan langkah putri semata wayangnya.

Anak perempuan yang bernama Dae itu berbalik, mendekat dan mencium punggung tangan ibunya.
“Dae berangkat,” katanya kemudian berlalu.

Aku tidak tahu di mana sekolahnya, yang kutahu dia berangkat sekolah setiap hari dengan jalan kaki, kadang sendiri, kadang ada beberapa teman yang bersamanya, laki-laki dan perempuan. Mungkin sekolahnya dekat dari rumah, makanya mereka jalan kaki.

Ibu itu masih terus menyapu hingga semua sampah itu bertumpuk. Ia kemudian membakarnya tanpa sadar asap pembakaran itu menghalangi pandanganku. Tapi aku diam, selalu diam. Aku bisa menunggunya sampai semua sampah itu terbakar habis.

Siang hari, Dae pulang dari sekolah. Ada yang aneh di wajahnya, ransel yang seharusnya di punggung ia seret hingga menyentuh tanah. Ada ibunya yang mengikuti di belakang.

“Aku tidak melihat wanita itu keluar rumah, ada apa dengan mereka?” kataku pada diri sendiri.

“Dae, kenapa? Kenapa kamu bisa bertengkar dengan teman-temanmu?” tanya ibunya.

“Mereka pantas kok dipukul.”

Jawaban ketus Dae membuat ibu meraih lengannya, mereka bertatapan.

“Kenapa?” suara ibu meninggi.

Dae diam, tampak wajahnya mengerut marah, menatap tajam ke arah ibu.

“Kamu itu perempuan, sudah SMA, sebentar lagi kamu lulus, kenapa sifat kamu bisa seperti ini sih? Kalau begini...”

Dae melepas pegangan ibunya dan menghempas tasnya ke tanah, lalu menendangnya ke arahku yang sudah diam sejak tadi menyaksikan mereka bertengkar.

“Mereka bilang ibu pelakor! Mereka bilang ibu pelacur! Mereka bilang aku anak haram!”

Tangis Dae pecah. Marahnya hilang berubah jadi duka mendalam. Air mengalir dengan deras di pipinya, tapi ia tidak bersuara. Ibunya diam menatap pedih.

Aku tahu apa yang dirasakan ibunya. Semua yang Dae dengar dari teman-temannya tidak benar, aku saksinya. Aku di sini sejak mereka pindah rumah. Aku tahu Dae punya seorang ayah, tapi meninggal saat Dae dilahirkan. Dan sejak saat itu, ibunya yang membesarkan ia seorang diri. 24 jam aku di depan rumah ini, tak pernah seorang pun laki-laki yang datang ke rumah, kecuali petugas PLN, pengantar galon, dan ojek yang hanya sampai di depan pagar.

Aku tumbuh bersama Dae. Orang tua Dae menanam dan merawat hingga aku sebesar ini. Akulah pohon nangka yang tumbuh besar di halaman rumah. Yang daunku disapu oleh ibunya setiap hari. Aku melihat semuanya. Aku tahu betul bagaimana keluarga kecil ini.

Jahat sekali mereka yang mengatakan itu pada Dae!

#day4
#OneDayOnePost

#ODOPbatch5

Photo By : Ria Rahmadani

You May Also Like

1 comments

  1. aku merinding bacanya masa, coba dikit lagi bikin konflik lebih menegangkan aku jamin bakal nangis nih. kece tulisanmu kak. Sukaaa

    BalasHapus