A Man Mind
Jauh di ujung sebuah pulau seorang
pria memandang matahari terbenam tanpa berkedip. Di depan sebuah tenda kecil,
dia duduk seorang diri memandang lurus ke ujung cakrawala. Hembusan angin pantai
memainkan rambut ikal yang seharusnya dipotong seminggu yang lalu. Jaket parasut
yang ia beli kemarin, setia menemani dengan warnanya yang mentereng, merah. Di sampingnya
ada sebuah botol minuman dan sekotak roti. Ini adalah kemping mendadak yang ia
rencanakan sendiri. Ia butuh sendiri.
Pantai ini adalah tempat paling
sepi di sini. Jika ada orang yang berhasil ke sini, pastilah orang itu sampai
dengan susah payah. Karena untuk sampai ke sana harus berjalan kaki dan
jaraknya sangat jauh. Harus melewati kubangan lumpur, genangan air setinggi
pinggang saat air pasang, hutan mangrove, dan pasir-pasir kasar. Tapi pemandangan
setelah tiba di sana membayar semua yang terlalui. Pantai itu sangatlah indah.
Pantai bersih dengan pasir
kekuningan, diterpa cahaya senja semakin membuat mata terpana. Pria itu membuka
kotak bekal yang hanya berisi beberapa lembar roti dengan selai cokelat. Ia memandang
kotaknya, tersenyum, lalu kembali beralih menatap langit senja.
“Seandainya kamu di sini,”
gumamnya.
Ia meletakkan kotak dan menutupnya
kembali. Berbaring di pasir dan menatap langit di atas sana. Sebelah tangannya
dianaikkan, melambai seolah ada sesuatu yang ingin digapai. Dengan senyum, ada
air yang mengalir di pipinya, ia menangis. Ia sangat merindukan seseorang yang tidak akan pernah ia temui lagi. Seorang wanita yang ia cintai pertama kali.
Dia sedang banyak pikiran, banyak
sekali. Diantaranya adalah masalah dengan orang tuanya. Orang tuanya selalu
membedakan dia dengan anak orang lain yang lebih hebat, dengan saudaranya yang
lebih sukses, tidak pernah mendukung apapun yang ia lakukan. Teman-temannya pun
tidak ada yang tahu tentang masalah itu. Yang mereka tahu ia adalah anak
seorang yang sangat dihormati di kota mereka.
Orang tuanya selalu menentang
apapun yang ia lakukan, mereka tidak pernah setuju dengan mimpi dan cita-cita
anaknya. Padahal apa yang anaknya inginkan? Dia hanya ingin menjadi seorang
petani, menanam apapun yang bisa dimakan, meski ia hidup di daerah terpencil
sekalipun. Tapi orang tuanya mana mau mengerti. Mereka menyekolahkan anaknya
hingga sarjana, tapi hanya ingin jadi petani? Jangan pakai ‘hanya’, karena
petani adalah sebuah pekerjaan mulia. Manusia tidak akan bisa makan jika tidak
ada yang bekerja menjadi petani. Lagipula apa salahnya menjadi petani? Mungkin hanya
orang tuanya yang berharap lebih pada anaknya.
Sekarang jelas, bukan? Masalah pria
tidak melulu tentang perempuan. Tapi ada sesuatu yang lebih besar dari
itu, memahami dan menghadapi orang tua yang tidak mengerti dengan keinginanmu.
“Bagaimana kalau aku mati saja?”
gumamnya tiba-tiba.
“Ah, jangan bodoh. Aku bisa
menghadapi ini.”
Pria itu membuka kotak dan memakan
isinya. Langit sudah gelap dan ia sadar belum mengumpulkan ranting untuk
membuat api. Dengan cekatan ia mengumpulkan ranting dan membakarnya. Sendirian tidak
membuatnya takut karena dia adalah seorang introvert. Melakukan semuanya
sendiri akan membuat perasaannya jauh lebih baik. Meski tetap saja ia merindukan seseorang. Ia masuk ke tenda, menyetel
musik di ponselnya, kembali merenung dan merencanakan tindakan selanjutnya
hingga ia tertidur ditemani suara ombak.

1 comments
salam kenal mba
BalasHapus