Me And Mey

by - Februari 04, 2018

Annyeong haseyo...

Untuk memenuhi tantangan menulis setiap hari, memang paling mudah menceritakan hal-hal yang ada di sekitar kita seperti hobby, makanan, benda, atau teman. Jika ingin lebih mudah, maka bercerita tentang perasaan adalah jawabannya. Iya, kan?

Tapi yang ingin saya ceritakan sekarang ini adalah hubungan saya dengan seorang teman dekat. Namanya Mey, seperti nama kucing. Selamat Mey, kamu adalah orang pertama yang aib-nya akan dibongkar. Hahaha.

Mey, anak pertama dari empat bersaudara. Satu-satunya perempuan dan teman saya yang paling lama, sudah lebih 20 tahun. Sekarang kami sedang suka-sukanya sama kaktus dan sukullen, jika ada yang berminat ngasih, bisa japri langsung, atau komen yah? 

Hehehe ...

Kami kenal sejak SD, satu kelas selama enam tahun. Menjalani hari-hari bersama di dalam kelas, bermain, dapat hukuman dari guru, sampai merencanakan strategi tawuran dengan sekolah tetangga. Hahaha. Benar-benar pengalaman swag! Tidak banyak orang yang pernah melihat anak SD tawuran. Sok-sok tawuran, tapi seingat saya waktu itu mereka hanya saling teriak. Saling pukul atau lepar batu tidak ada, hanya sebatas saling menggertak. Merasa sekolahnya paling keren. Hah, anak-anak. Mungkin waktu itu kami tidak benar-benar berkelahi karena masih takut kalau dimarahi guru. Anak-anak sekarang mana peduli? Zaman mereka sudah beda.

Lulus SD dan menginjakkan kaki di jenjang yang lebih tinggi, SMP. Kami memilih sekolah yang sama, tapi kali ini kami di kelas yang berbeda dari kelas satu hingga lulus. Karena sudah saling mengenal sejak SD, kami jadi sering komunikasi, berangkat dan pulang bareng, dan kami di satu ekstrakulikuler, Pramuka! Salam Pramuka! Kami di tim yang sama dan mengikuti berbagai perkemahan. Dia Pinru loh, Pimpinan Regu. Padahal tubuhnya kurus dan ringan. Hahaha.

Memasuki SMA, kami kembali satu sekolah dan tidak satu kelas. Mey memilih IPS dan saya di IPA, padahal ujung-ujungnya kami suka menulis, kenapa tidak pilih jurusan Bahasa? Karena saat itu kami belum tahu passion kami akan ke mana. Mindset kami masih tentang “Yang penting sekolah dan dapat nilai yang baik.” Lagi-lagi kami melanjutkan di Pramuka, tahu dan mengenal lebih banyak orang hebat, teman-teman berseragam cokelat, gagah.

Kuliah, kami tidak lagi di universitas yang sama. Dengan kampus dan jurusan yang berbeda, kami jadi jarang bertemu. Tapi itu tidak memutus komunikasi kami. Saat kami terdaftar sebagai mahasiswa baru, bertepatan dengan saat sosial media mulai berkembang dengan pesat. Kami memanfaatkan fasilitas itu untuk berbagi kabar. Selama kuliah dia sering berseliweran di mana-mana. Dia seorang pekerja seni, orang kidal yang bisa apa saja. Seni tari, fotografi, videografi, sampai membuat film. Mungkin kesibukan itu yang membuat dia lupa dengan tugasnya sebagai mahasiswa, tetapi akhirnya sarjana setelah enam tahun.

Beberapa tahun setelah lulus kuliah, kami bertemu di kampung halaman sebagai pengangguran. Saat itu kami sering bertemu dan bercerita banyak hal, tentu bukan cuma berdua tapi beberapa teman yang lain juga. Dia mendirikan sebuah sekolah informal yang mengajak orang-orang untuk menjadi relawan dan mengajar anak-anak di daerah terpencil, namanya Sokola Kaki Langit, kamu bisa menemukan ulasannya di semua media sosial. Saya juga sempat menjadi relawan di sana karena diajak olehnya.

Kembali pada kesukaan kami pada dunia tulis menulis. Sudah dua tahun ini kami mengadakan tantangan menulis di facebook selama 30 hari setiap bulan November. Hal itu bermula dari keisengan kami agar blog kami terisi dengan teman-tema yang kami tentukan sendiri. Awalnya hanya kami berdua, tapi di tahun selanjutnya kami mencoba mengajak teman-teman di facebook untuk ikut serta dan banyak yang tertarik, semoga tahun 2018 ini tantangan 30 hari menulis itu masih bisa terlaksana. karena caranya sangat mudah, gratis, bebas mau menulis apa saja, dan bebas mau diikuti siapa saja. syaratnya hanya satu, menulis.

Pernah juga seorang teman yang tahu tentang kegemaran kami itu, mengajak kami ke kotanya untuk ikut jelajah wisata dan membuat tulisan tentang tempat yang kami kunjungi. Tidak perlu diajak dua kali, kami berngkat ke sana dengan angkutan umum. Masalah dalam perjalanan itu hanya satu, penyakit Mey kambuh, dia sesak. Meskipun sudah terlalu sering melihat dia seperti itu, saya masih tidak tahu bagaimana menanganinya. Beruntung saat itu, jelajah kami sudah selesai. Kami hanya perlu menginap semalam lagi sebelum pulang. Berita baiknya, tulisan kami menang meski bukan juara satu. Kata teman-teman di sana, hadiahnya mereka pakai untuk membeli tenda. Karena mereka semua suka berkemah.

Tentang penyakitnya tidak perlu di bahas. Saya juga tidak tahu dia tepatnya sakit apa, asma? Tapi dokter bilang bukan. Hmm...entahlah. Dia masih hidup, masalah selesai. Hahaha.

Cinta?

Hmm ... bahas tidak ya?

Mantannya banyak dan saya kenal hanya satu atau orang. Hahahhaa... sumpah bercerita tentang ini adalah yang paling lucu. Dia sering mengalami kegagalan cinta, tingkahnya kalau patah hati sangat jelas. Jika kebanyakan orang patah hati memilih berdiam dan tidak mau diganggu, dia memilih melakukan perjalanan, seorang diri! Jangan heran, dia orang nekat. Dan jika dia sedang jatuh cinta, tingkahnya berlebihan. Semua serba istimewa. Si ‘beliau’ tidak punya cacat sedikitpun. Dan saya hanya bisa bilang, “Jangan sampai terulang seperti sebelumnya,” dan dia balas, “Kau juga, jangan sampai sakit dua kali.”

Kalau bercerita soal perasaan sama dia, saya hanya bisa menyimak. Karena dia lebih berpengalaman. Apalah saya yang sakitnya tidak parah-parah amat. Cuma ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. 

#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#Day14

Ria - Mey


You May Also Like

2 comments

  1. Semoga langgenl terus persahabatannya... Amin yra 😇

    Salam kenal,
    shintadwijiarti.blogspot.com

    BalasHapus