Mentari Menanti Hujan
![]() |
| Photo by : instagram |
Hatinya sedang
berbunga, jarak sedang membuatnya bahagia lebih dari cintanya pada L
Infinite. Jangan kira cuaca sedang baik, di luar sana mendung gelap
sekali. Hujan bisa turun kapan saja. Namun sebaris pesan yang ia terima membuat
dunianya cerah seketika.
Hujan jatuh dengan
deras, dan dia selalu gelisah dengan itu, takut. Berbeda kali ini, hujan deras
itu membuatnya tenang dan nyaman. Hujan menyelimuti hatinya agar menahan degup
luar biasa itu. Seseorang yang jauh di sana, memberi kabar. Seseorang yang ia
rindukan dengan segenap hati, menghubunginya. Tidak ada yang bisa menggambarkan
perasaan luar biasa itu. Jika kiamat tiba hari ini, ia akan terima dengan
senang hati.
Dia Mentari, gadis
berambut hitam panjang itu telah lama mendambakan seorang pria. Pria itu yang
kini terpisah darat, laut, dan udara darinya. Namanya Hujan, pria yang
tingginya mengesankan. Mentari hanya setinggi dadanya. Mereka pasangan yang
imut, tapi waktu membuat mereka terpisah dengan permasalahan-permasalahan
klise.
Bertahun berjuang
untuk melupakan, tapi Mentari tidak bisa berhasil melupakan perasaannya pada
Hujan. Dekat dan mengenal beberapa orang tidak membuat segalanya mudah. Kenangan
tentang Hujan tetap ada di setiap kegiatan yang ia lakukan. Televisi,
keramaian, deru kendaraan, adzan, keyboard, bahkan pada angin yang berhembus.
Padahal pada saat
kepergian Hujan ke tempat yang sangat jauh, malam-malam ia habiskan dengan
terdiam, meringkuk sendirian hingga tertidur di depan komputer. Makan tidak
berselera, jarang senyum, dan tertawa kosong. Ia hampir mirip dengan orang
gila. Seberharga itukah seorang Hujan? SANGAT!
Tidak ada di
dunia ini yang lebih mengerti dan lebih sabar menghadapi seorang Mentari,
kecuali Hujan. Jika orang lain dibuat jengkel, Hujan justru menyukai tingkah
Mentari yang dinilai menyebalkan itu. Jika orang lain marah karena Mentari membuat
kesalahan, Hujan justru tersenyum dan menawarkan diri untuk membantu. Ketika
teman-teman Mentari tidak bisa diandalkan, Hujan selalu ada di sana meskipun
harus mendapatkan masalah. Perhatian dan kebaikan yang ia berikan membuat
Mentari menyukainya, Hujan pasti tahu itu, tapi tidak memberitahu saat akan
pergi, karena ia tidak ingin mata indah itu meneteskan air mata karenanya.
Mereka saling
menyayangi ... pasti!
Karena aku adalah
gantungan kunci serupa monyet, yang dihadiahkan Hujan untuk Mentari saat ia
mendapat nilai A di mata kuliah Statistik. Mentari selalu membawaku kemanapun,
sama seperti yang dilakukan Hujan dulu. Kau tahu, aku adalah barang peninggalan
almarhumah ibu Hujan satu-satunya tapi ia memberikannya pada Mentari. Untuk apa
jika Mentari juga bukan orang yang berharga?
Ponsel Mentari
berbunyi, ada pesan lagi. Hujan akan segera kembali, dan aku juga tidak sabar
menanti pertemuan mereka.
#OneDayOnePost
#ODOPbatch5
#Day11


2 comments
Berharap ada lanjutan cerita ketika Hujan menyapa Mentari kembali.
BalasHapusHahaahaha saya tahu pak hujan itu siapa...
BalasHapus